Ingatan Tentang Achmad Kurniawan

Selamat jalan, Achmad Kurniawan! Sumber foto: ongisnade.co.id

Sulit tidak menyebut nama Achmad Kurniawan dalam periode emas Persita Tangerang pada era awal milenium. Dia kiper utama tim yang menembus partai Final Liga Indonesia 2002, hampir juara lagi setahun setelahnya, dan mencapai perempat final LG Cup 2003. Dia orang yang turut bertanggung jawab mencapai catatan-catatan paling gemilang sepanjang sejarah Persita Tangerang berdiri. Setidaknya sampai saat ini.

Saya hanya bocah kelas 5 SD yang merengek menonton sepak bola di Stadion Benteng kepada ayah saat itu. Saya kadung gundah belum juga menonton sepak bola secara nyata di tempat yang begitu dekat dari rumah. Lewat upaya memelas yang begitu keras, ayah mengizinkan dan menemani saya menonton.

Dengan melewati salat Ashar, menyelip di antara pagar pembatas berkarat tribun utara dengan tribun kelas satu, kami menyaksikan Persita menang 4–0 atas Persekabpas Pasuruan yang saat itu dilatih Subangkit dengan punggawa seperti Zah Rahan, Siswanto, dan Khasan Soleh. Gol Pendekar Cisadane dicetak Epalla Jordan, Gustavo Ortiz, Ilham Jayakesuma dan Isnan Ali. Terima kasih situs pengarsip sepak bola, RSSF.

RSSF tidak mencatat siapa saja yang bermain hari itu. Namun saya yakin, Achmad Kurniawan yang ada di bawah mistar gawang. Kalau boleh salah-salah sedikit, Achmad Kurniawan tidak terlalu sibuk melaksanakan tugasnya. Tidak ada serangan yang merepotkan dari Laskar Sakera, sapu bersih alias cleansheet dia peroleh.

Sebagai bocah yang hanya beraktivitas sekolah pagi hari dan bermain sepak bola di lapangan voli sore harinya, sosok Achmad Kurniawan jelas berkesan. Konsekuensi atas keengganan setiap bocah menjadi kiper, membuat pemain di posisi ini dirotasi. Sehabis tim kebobolan, siapa yang jadi kiper harus gantian. Saat tiba giliran saya, gaya Achmad Kurniawan ini yang saya jadikan rujukan untuk dikhayalkan.

Achmad Kurniawan versi Persita Tangerang bagi saya adalah sosok kiper atraktif. Mementahkan serangan lawan dengan aksi heroik. Badannya yang tidak jangkung-jangkung amat dan sedikit gempal, membuat loncatan-loncatannya menghalau bola terasa mengasyikkan dilihat. Sedikit nyeleneh pula dengan menempatkan inisial ‘AK’ saja di belakang kaus. Sebelum AHY, SBY, CR7, atau inisial nama lazim yang menempel di kaus latihan/jaket, inisial nama ‘AK’ yang saya kenal pertama kali. Sampai sekarang, saya merasa lebih asyik menyebut ‘AK’ ketimbang nama lengkapnya dalam obrolan.

Selain inisial ‘AK’, ciri khas lainnya yaitu rahangnya yang sulit berhenti mengunyah permen karet. Belakangan saya baru sadar, kalau ‘AK’ kiper yang handal mengulur-ulur waktu. Menahan bola di tanah, lalu saat pemain lain menghampirinya baru dia ambil bola. Tampaknya saat dia membela Persita tidak begitu atau memang saya saja yang belum memerhatikan.

Ah, sebetulnya tidak banyak yang bisa saya tulis tentang Achmad Kurniawan. Saya tidak pernah mengobrol secara langsung. Juga tidak memperhatikan betul kariernya selepas hengkang dari Tangerang. Setidaknya kalau dia bermain, saya selalu punya kesan tersendiri karena dia kiper Persita yang pertama kali saya tahu. Misalnya, saya senang saat dia masuk skuat tim Piala Asia 2011 dan membela Arema di Liga Champions Asia 2011. Pertandingan terakhirnya saat Arema bermain tanpa gol dengan Persib Bandung di Indonesia Soccer Championship pun saya sempat menyaksikan.

Dia tidak kembali lagi ke Persita sejak terakhir meninggalkan tim pada 2006. Tempatnya digantikan Mukti Ali Raja. AK pindah ke Arema, tempat yang membuatnya merasa begitu nyaman meski sempat singgah sejenak ke Persik Kediri dan Semen Padang. Sekalipun dia mesti berebut tempat utama, entah bersaing dengan Kurnia Sandy atau adiknya sendiri, Kurnia Meiga. Padahal, AK turut diikat sebagai pegawai negeri sipil Kabupaten Tangerang, seperti pemain-pemain lain di skuat terbaik Persita.

Sayang, dia tidak kunjung kembali. Mungkin adiknya saja suatu saat nanti yang membela Persita. Seperti Egi Melgiansyah yang menapaktilasi karier kakaknya, Maman. Ok ini terlalu berharap, bisa menyakitkan kalau tidak kejadian.

Hanya doa yang coba saya kirim saat mendengar AK pergi dari dunia selama-lamanya. AK mungkin bukan kiper terbaik bagi banyak orang, tidak pernah merumput bersama Timnas, tidak jadi pilihan utama di klub-klub lain selain Persita, dan entah bisa atau tidak masuk dalam pemeringkatan kiper terbaik Indonesia sepanjang masa. Hanya, bagi saya, AK akan selamanya punya tempat tersendiri dalam benak.

Dia, laki-laki yang menjaga gawang tim kebanggaan saya di masa terbaik. Dia, kiper yang aksinya saya tonton pertama kali saat berada di stadion. Laki-laki ini turut serta mengambil bagian dalam sepak bola masa kecil milik saya.

Hah… rasanya baru kemarin saya meneriakkan nama ‘Achmad Kurniawan’ dengan nada lagu “We will rock you” milik Queen dari tribun. Terima kasih untuk ingatan yang kau berikan, AK.