Mengapa Manajer Top Liga Inggris Tidak Benar-benar Top?

Saat itu babak kedua dan Liverpool sedang tertinggal dua gol dari Borussia Dortmund. Di ruang ganti, manajer Liverpool Jürgen Klopp mengatakan kepada anak asuhnya untuk menampilkan kekuatan terbaik sehingga di kemudian hari pertandingan ini dapat diceritakan kepada anak-cucu mereka. Dia mengingatkan mereka akan kenangan mahsyur mengembalikan keadaan atas AC Milan di Liga Champions tahun 2005. Dayung pun bersambut, Liverpool berhasil mengalahkan Dortmund dengan skor 4–3 pada April lalu.

Manajer karismatik yang memotivasi timnya sehingga meraih kejayaan adalah cerita yang media dan para penggemar sukai. Cerita semacam itu sekarang didaur ulang ketika nama-nama mengkilap dari para manajer Liga Inggris di musim ini: Jose Mourinho di Manchester United, dan rival lamanya Pep Guardiola di Manchester City, Antonio Conte di Chelsea, Arsene Wenger di Arsenal, dan Klopp di Liverpool.

Akan tetapi, kekuasaan dari para manajer sekarang sudah tidak seleluasa dulu. Hari ini, disamping kesan yang terlalu dibesar-besarkan, peran mereka tidak terlalu berarti.

Cara terbaik memprediksikan sebuah klub akan meraih sukses adalah bukan dari siapa yang menangani tim itu, tetapi dari total gaji tim tersebut. Gaji besar menarik pemain bagus. Gaji paling besar, tim tersebut biasanya tampil sangat bagus. Rata-rata selama 10 musim, korelasi antara gaji dan posisi akhir suatu tim di liga itu sekitar 90 %, kata Stefan Szymanski, ekonom asal Universitas Michigan (dengannya saya menulis buku Soccernomics).

Memang betul Leicester City menjuarai liga musim lalu meskipun dengan total gaji yang biasa-biasa saja. Tetapi mereka hanya satu kasus di antara sekian sejarah dominasi uang dalam sepak bola. Lebih lanjut, jika Leicester juara dan berterima kasih sepenuhnya atas kejeniusan Claudio Ranieri sebagai manajer, itu adalah sesuatu yang ganjil ketika kejeniusannya tidak terlihat selama 30 tahun kepelatihannya.

Pengaruh manajer telah hilang sejak beberapa tahun belakangan. Pertama, banyak manajer saat ini dipecat sebelum mereka dapat mengubah banyak hal: rata-rata masa jabatan mereka di sepak bola Inggris telah jauh menurun tajam dari 3,5 tahun di 1992 menjadi 1,3 tahun sekarang. Para manajer tersebut kini seperti tumbal manusia pada peradaban Aztec.

Kedua, peran manajer telah menyusut. Dua puluh tahun lalu, mereka mengontrol tim sepenuhnya, hampir seorang diri. Sekarang manajer yang semacam itu mungkin hanya tersisa dalam diri Wenger. Musuh besar para manajer itu di dalam klub bisa digambarkan sebagai “pelatih kepala”. Mereka bekerja dengan banyak staf kepelatihan, mulai dari psikiater sampai analis data, dan kebanyakan dari mereka bahkan bertahan di klub lebih lama dibanding para pelatih kepala tersebut. Manajemen tim kini telah menggantikan peran manajer yang individual.

Para manajer memang masih memilih taktik. Klopp, contohnya, menerapkan “gegenpressing”: menekan lawan ketika kehilangan bola. Tetapi inovasi taktik sudah ditampilkan di publik dan para rival bisa saja menyalin taktik tersebut. Guardiola bahkan menyebut dirinya sebagai “pencuri ide”.

Kemajuan terbaru terbesar di sepak bola telah terjadi di dua wilayah yang saling terkait dan tersembunyi dari pengawasan publik, biasanya diawasi oleh staf spesialis: persiapan fisik dan analisis data. Klub sekarang ini memantau setiap kondisi fisik para pemainnya setiap hari dan membuat jadwal latihan secara spesesifik. Model baru tersebut, sebagaimana ditampilkan di Euro 2016, adalah cara membuat kondisi fisik pemain menjadi bugar dengan sangat cepat.

Pandangan atas juaranya Leicester karena kejeniusan manajernya dapat sekali dibantah dari keberadaan analis data. Klub (Leicester) menggunakan iPad untuk memperlihatkan performa pemain lewat statistik dari satu pertadingan ke pertandingan dan dari latihan rutin. Dalam soal lain, manajer biasanya merekrut permainan berdasarkan intuisi, tips dari agen yang bersahabat, dan pengalaman sebelumnya dari si pemain, sekarang perekrutan pemain berdasarkan informasi dari data juga.

Leicester mendaratkan Riyad Mahrez dari divisi dua Liga Prancis setelah melihat statistiknya: musim lalu dia menjadi pemain terbaik Inggris. Kualitasnya sudah diprediksi sebelumnya, begitupun bekas rekan timnya N’golo Kante yang memimpin daftar statistik melakukan intersep liga Prancis di tahun 2014–2015. Para analis data dan pemandu bakat yang menemukan pemain-pemain tersebut dapat dikatakan lebih berjasa ketimbang Ranieri dalam menjuarai liga. Para rival menyadari: tidak akan menghadirkan Ranieri, tetapi para stafnya lah yang harus dihadirkan. Pemandu bakat Leicester, Ben Wrigglesworth telah menyebrang ke Arsenal.

Para manajer tetap berperan pada tim mereka, meskipun barangkali tidak terlalu langsung, seperti memotivasinya. Namun, pesepak bola di klub besar dapat memperlihatkan mereka bisa memotivasi dirinya sendiri. Dan mereka bermain untuk karirnya, bukan untuk manajernya.

Manajer top mungkin dapat meningkatkan kekuatan tim — seperti, berkomunikasi tentang seputar ide taktik ke tiap pemainnya. Guardiola di Bayern Munich mendapati bahwa pemain sayapnya, Franck Ribery tidak dapat menerima penjelasan yang panjang, sebaliknya Bastian Schweinsteiger bisa berbicara tentang taktik selama berjam-jam. Tetapi dengan pemain-pemain top, hampir semua tim dapat mendapatkan banyak gelar.

Publik yang terpesona dengan para manajer top itu tidak merefleksikan kemampuan mereka, tetapi karakter mereka lah yang membuat terpesona. Liga Primer adalah opera sabun yang membutuhkan banyak karakter. Para pemain tidak dapat mengisi peran tersebut: terlalu muda dan mereka tidak memiliki hal yang menarik untuk dikatakan, dan jika mereka tetap bersikeras mengatakan sesuatu, klub akan menyuruhnya berhenti. Maka, suara klub adalah suara manajer ketika konferensi pers di akhir laga, menjelaskan mengapa tim mereka menang (taktik briliannya) atau kalah (wasit).

Liga Primer kali ini akan segera bergulir, dan klub bergaji tinggi seperti Chelsea, Manchester United atau Manchester City — yang akan menang. Kemudian kejayaan klub itu akan diserahkan kepada manajer mereka sebagai seorang motivator yang jenius.

***

Terjemahan sekenanya (mohon jangan dibaca sebagai “skena”-nya, oke saya ralat jadi seadanya, bagaimana?) atas tulisan Simon Kuper di Finacial Times yang judul aslinya “Why star Premier League managers matter less than ever

Simon Kuper adalah seorang penulis, salah satu bukunya seperti yang sudah disebutkan di atas berjudul Soccernomics.

Beliau nampaknya masih kukuh dengan pendiriannya tentang prestasi klub ditentukan oleh total jumlah gaji pemainnya. Anda percaya? Silakan. Tidak percaya dan ingin membenturkan kepala Simon Kuper dengan batu bata merah? Oh, jangan. Rumahnya jauh, sayang ongkos. Cukup jelaskan poin-poin Anda saja, dan mari kita diskusikan bersama.

Dan jika Anda menginginkan buku Soccernomics tersebut, bisa kita bicarakan lebih lanjut.

Salam.

***

Postscriptum: Terdapat kesalahan redaksional, judul sebelumnya “Mengapa Pelatih Top Liga Inggris Tidak Benar-benar Top?” kami ganti kata “pelatih” menjadi “manajer,” hal ini juga berlaku di dalam isi artikel agar membedakan antara “manajer” dan “pelatih” mohon maaf atas kekhilafan tersebut.