PES, FIFA, dan Pengaruhnya kepada Sepak Bola

Didier Drogba dan Thierry Henry bermain video game sepak bola. Eh, apa perlu sampai berseragam lengkap seperti itu, ya? Sumber: L’equipe.

Masing-masing dari kita memiliki memori dengan permainan konsol sepak bola. Mulai dari bolos sekolah untuk main di rental, menggunakan uang sunatan untuk beli PlayStation (PS), taruhan uang jajan mencari siapa yang paling handal, belajar giat pada Senin-Sabtu demi bermain PS pada hari Minggu yang selalu disembunyikan ibu, sampai dijewer ayah karena hampir melewatkan salat Jumat akibat keasyikan main master league.

Iya intinya, masing-masing dari kita pernah bersinggungan dengan permainan Pro Evolution Soccer (PES), FIFA, Winning Eleven, Fantasy Manager, Super Shoot Soccer, atau apapun namanya itu. Sekalipun enggak main, ya minimal tahulah ada permainan yang mengandung candu ini. Mereka semua pernah dekat dan bersangkut paut dalam kehidupan kita. Entah sampai kapan.

Nyatanya, bukan hanya umat seperti kita saja yang merasakan video game sepak bola ini merasuk ke sendi-sendi tulang. Pesepak bola yang kita kendalikan nasibnya dalam permainan, pada kehidupan nyata merasakan hal yang sama. Andrea Pirlo, pemain flamboyan pemilik ladang anggur dan pabrik wine berargumen, ‘Setelah roda, PlayStation adalah penemuan terbaik sepanjang masa’. Mari bersulang, sebagai tanda sepakat.

Pada buku biografinya I Think Therefore I Play, Pirlo yang pada 2010 membela AC Milan mengaku sering adu tangkas dengan Alessandro Nesta sedari jam 9–11 pagi, lalu latihan, balik lagi ke kamar dan bermain sampai sore.

Truly a life of sacrifice,” tulis Pirlo.

Keduanya gemar memakai Barcelona, karena merujuk komposisi pemain yang asyik, terutama Eto’o yang cepat seperti jaguar. Cara pandang Pirlo tentang Barcelona di PlayStation hampir-hampir membuatnya terbujuk rayuan Pep Guardiola yang memintanya hijrah ke Camp Nou saat itu. Namun seperti yang kita ketahui, itu tidak pernah kejadian.

Zlatan Ibrahimovich, laki-laki 35 tahun yang penjualan kausnya membuat Paul Pogba jadi pemain termahal dunia, juga menulis hal senada dengan Pirlo di buku biografinya. Dia mengaku bisa menghabiskan 10 jam dalam ketegangan saat bermain PlayStation di awal kariernya. Sedangkan Victor Vazquez, rekan Lionel Messi saat di La Masia, bertutur kalau Messi mampu main PlayStation tiga jam tanpa rehat.

Daftar ini bisa bertambah. Kanal Youtube Copa90 punya segmen “FIFA and Chill” yang mengajak pesepak bola main FIFA sambil bersenang-senang. Riyad Mahrez sempat menggunakan Arsenal saat bermain dengan N’Golo Kante yang pakai Leicester City. Mahrez jelas bikin baper penggemar Arsenal yang berharap dia pindah ke Arsenal musim panas lalu.

Tetua adat Chelsea, John Terry biasa menggelar kumpul-kumpul sambil main PES bersama rekan klubnya setiap malam tahun baru. Tentu saja para pemain yang memiliki istri cantik sepatutnya waspada saat berkunjung ke rumahnya. Iya kan, Wayne Bridge?

Paul Pogba sebelum pindah ke MU, pernah ketahuan bermain Fantasy Manager guna membesut Chelsea dan merekrut dirinya ke Stamford Bridge. Pogba memperkuat Chelsea ternyata hanya di imajinasinya sendiri, sedangkan Pogba berseragam MU itulah yang terealisasi.

Sedangkan Gerard Pique bermain FIFA sepanjang waktu. “Saat bepergian, di hotel, dengan rekan setim,” akunya. Sementara Ciro Immobile sukses bikin cemberut pasangannya yang super model, karena lebih memilih main FIFA ketimbang bercumbu dengannya.

Mitchy Batshuayi sempat bikin gaduh lini masa Twitter karena protes ke akun @EASPORTSFIFA soal kualitas operannya di video game tersebut hanya dihargai angka 59. Sambil berseloroh, dia mengancam bakal mengunduh PES segera. Tidak disangka, akun @officialpes mention Batshuayi bahwa kualitas operannya bernilai 73 di permainan itu. Batshuayi girang bukan kepalang. Kemudian keduanya saling follow.

Baiklah, kalau sekadar mereka juga bermain video game seperti kita rakyat jelata tidak cukup memberi kesan, tampaknya anda mesti mendengar pengakuan Alex Iwobi. Pemain muda berbakat teranyar Arsenal ini memperlakukan video game sepak bola ke tataran yang praktis. Dia memanfaatkan video game untuk mengidentifikasi pemain lawan yang bakal dia hadapi di lapangan.

“Saya akan melihat namanya, lalu mencoba mengingat seberapa bagus dia di FIFA,” kata Iwobi seperti dilansir New York Times.

Iwobi terinspirasi betul dengan apa yang disajikan di video games. Seleranya seperti Pirlo, memainkan Barcelona karena kualitas pemainnya selalu di atas rata-rata. Dia kerap coba meniru trik yang ada di video game untuk dipraktikan di dunia nyata. Ronaldinho versi imajinasi video game dia coba ikuti keajabain gocekannya. Juga skill Aiden McGeady, sensasi Irlandia yang saat berseragam Glasgow Celtic memang asyik dikendalikan.

“Dia (Ronaldinho) punya semua trik, hal yang bahkan tidak dia bakal coba di kehidupan biasa. Sedangkan McGeady punya satu gocekan yang membuat saya pergi ke taman dan mempraktikannya,” ujar remaja Nigeria ini.

Persepsi yang hampir serupa juga pernah dilambungkan pelatih Iwobi, Arsene Wenger. Bukan, Wenger tidak main PES, lalu meniru pose ngangkang Cristiano Ronaldo sebelum mengambil tendangan bebas di dunia asli. Bisa-bisa keseleo, repot nantinya. Melainkan dia sempat memakai cara pandang pemain video game untuk mendeskripsikan kualitas Lionel Messi.

“Dia (Messi), seperti PlayStation,” ucap Wenger saat Arsenal dipermak 1–4 Barcelona di Liga Champions musim 2009–10.

Semua gol Barca diborong Messi dengan penuh gaya saat itu. Meski kalah telak, setidaknya kutipan tentang Messi karya Wenger cukup monumental. Dia tidak terjebak menjadi klise dalam mendeskripsikan Messi. Alih-alih menggunakan kalimat, “Dia pemain terbaik dunia”, “Dia alien”, “Jangan komentari Messi, tonton saja”, dsb. Wenger justru menunjukkan cita rasanya mengolah kata sekalipun habis dibantai tanpa ampun.

Mempraktikkan apa yang tersaji di video game juga pernah diakui Ibrahimovich dan Mats Hummels. Ibra bilang kalau dia kerap menemukan solusi lewat video game yang kemudian dia sukses besar praktikan saat pertandingan. Sedangkan Hummels secara gamblang berkata beberapa orang mungkin memang mengaplikasian apa yang dia pelajari di FIFA ketika sudah berada di lapangan.

Telah lebih dari 20 tahun video game sepak bola berkembang. Beberapa nama video game yang lazim dimainkan sekarang, memulai langkah awalnya pada tahun 1990-an. FIFA pertama kali muncul dengan nama FIFA International Soccer pada 1993, PES yang juga dikenal dengan World Soccer: Winning Eleven 5 muncul di pembuka era milenium, sedangkan Championship Manager yang kelak disaingi Fantasy Manager sudah muncul 22 tahun silam.

Hubungan dengan dunia sepak bola nyata memang timbal balik. Video game mengolah tampilan sepak bola sungguhan ke dalam kumpulan pixel permainan konsol. Sementara, para aktor sepak bola, seperti yang dipaparkan di atas, terpengaruh seiring perkembangan video game sepak bola.

Kini sudah tidak asing banyak klub menghimpun data dari perusahaan analisis, seperti Opta dan ProZone. Pimpinan Opta, Duncan Alexander menjelaskan bahwa karyawan Opta kebanyakan diisi orang-orang yang tumbuh di tahun 1990-an ketika permainan semacam Football Manager populer. Mereka tidak canggung dengan variabel-variabel statistik yang ada di sepak bola, karena memang sudah bersentuhan dari video game.

“Kronologi antara popularitas video game dengan penggunaan data di sepak bola amatlah sama,” kata Jacobson,

Para pelaku sepak bola menggandrungi video game dan video game merefleksikan realitas ke dalam sekumpulan pixel yang menjadi favorit lintas zaman. Pada dimensi lain, klub sepak bola butuh data statistik untuk pengembangan permainan yang dikumpulkan orang-orang yang belajar analisis data dari video game. Di sini, kita bisa melihat letak suatu simbiosis mutualisme.

Oh iya. Jadi, kapan nih kita mau nge-PES/main FIFA? Sepanjang waktu, ya? Biar seperti Pirlo dan Nesta.

*Turut dimuat di Gabuts.com. Ayo buka situs itu!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.