Tugas Lain untuk Zlatan

Nama: Diego Fulan
Lahir: 26 Mei 1993
Cita-cita: Anggota patroli
Makanan favorit: Gulali
Minuman favorit: Jus brokoli
Hobi: Filateli
Idola: Balotelli

Jika anda menemukan coretan tersebut di belakang sebuah buku, boleh jadi anda langsung berasumsi buku tersebut tidaklah berharga. Sekalipun merobek bagian kertas yang tercoret itu dengan bersemangat seperti salah satu adegan Dead Poets Society sehingga terlihat menjadi buku tulis baru, paling-paling harganya tidak lebih dari Rp2.000,00.

Lain cerita jika coretannya sebagai berikut; Tinggi: 6 kaki 5 inci. Warga Negara: Swedia. Hobi: Memacu mobil cepat, memancing, berburu. Dan puncaknya melihat; Nama Panggilan: Ibracadabra. Gol di Klub: 268. Penampilan di Klub: 535. Jumlah trofi: 19. Jumlah transfer: 150 juta euro (rekor dunia).

I Am Zlatan adalah buku yang sangat berharga. Setidaknya Rp200.000,00 harus saya relakan berpindah dari dompet menuju kasir di suatu pameran buku pada November 2014 lalu. Padahal dengan uang sebanyak itu saya bisa saja mengikuti jejak teman-teman sebaya yang sedang mengoleksi buku Strategi Sukses SBMPTN SOSHUM Edisi Lengkap 1720 soal dan semacamnya. Mengingat saat itu masa sekolah menengah akan segera berakhir.

Atau seandainya saya bisa lebih bersabar menyimpan uang tersebut dan menunggu sampai pertengahan 2016 sekarang, dengan menambahkan Rp10.000 saya bisa membeli tiga eksemplar Simulakra Sepakbola dari Zen RS.

Namun, saya bukanlah cenayang yang bisa mengetahui siapa saja yang akan menerbitkan buku apa saja dalam kurun waktu dua tahun. Alhasil tentu saya memilih yang pasti-pasti saja, yang ada di hadapan: sebuah buku biografi striker Swedia yang dengan santai membalas keangkuhan Eric Cantona yang mengatakan hanya ada satu King of Manchester dengan cara lebih angkuh.

“Aku tidak ingin menjadi King of Manchester, aku akan menjadi God of Manchester.

Dan saya kira buku “kumpulan soal dan yang sejenis” dengan biografi Ibra ini akan sama saja nasibnya; dibeli, dibiarkan, dan sekali waktu baru dibuka, lalu dibiarkan kembali. Jadi, daripada mengalami kerepotan karena mengerjakan kumpulan soal, lebih baik mengendurkan urat saraf dengan kisah-kisah sang pemegang sabuk hitam taekwondo ini.

Untuk sebuah catatan hidup seseorang, buku ini diawali dengan sebagaimana umumnya: nostalgia. Bedanya nostalgia Zlatan sungguh tidak umum. Alih-alih membahas awal perjalanan karirnya atau pencapaian yang paling ia kenang, Zlatan selayaknya seorang striker ganas langsung terang-terangan menyerang mantan klubnya Barcelona dan pelatihnya Pep Guardiola.

“Mengapa harus menjadi Fiat, ketika kau bisa menjadi Ferrari?” pertanyaan itu ia dapatkan dari temannya yang menonton pertandingannya, ia menyampaikan keluhan tersebut kepada Guardiola yang menurutnya telah menyia-nyiakan seorang Zlatan dan Barcelona yang kian membosankan.

Tidak ditanggapi secara serius oleh Guardiola dan makin merasa jengah. Zlatan memilih berlibur ketika musim dingin dengan memacu mobil salju layaknya ia mengendari Porsche Turbo dengan kecepatan 325 km/jam. Masih kurang? Ia mengendarai mobil Audi, yang mana merupakan mobil pemberian Barcelona untuk setiap pemainnya, bersama agennya Mino Raiola dan hasilnya mobil tersebut hancur setelah turun dari lereng bukit kemudian menabrak sebuah tembok.

Hubungannya dengan Guardiola selepas itu? Semakin memburuk. Zlatan mengekspresikannya di ruang ganti dengan menendang kotak berbahan metal sampai terlempar kira-kira tiga meter kemudian dilengkapi dengan memaki Guardiola sebagai “seorang pecundang dihadapan Mourinho” dan mempersilakannya lekas pergi menuju neraka.

Begitulah seorang Zlatan mengawali biografinya dengan menghina orang yang tidak ia suka dan melakukan kegilaan yang ia inginkan.

Tetapi Zlatan bukan sekadar seseorang yang dicitrakan arogan selama ini. Ia juga sosok penyayang bagi keluarganya. Kisahnya sebagai keluarga imigran yang kerap bersinggungan dengan berbagai konflik mulai dari keluarga sampai perang yang masih berkecamuk sangatlah menarik. Kisah tersebutlah yang membentuk pribadi Zlatan dan menjadi alasan kemudian mengapa ia menyukai sepakbola, selain tinju karena Muhammad Ali.

“And the rest is history,” idiom tersebut nampaknya pas untuk menggambarkan bagaimana selanjutnya setelah Zlatan menyukai sepakbola. Perjalanan kariernya dimulai dari Malmo FF, kemudian ke Ajax Amsterdam, lalu Juventus, menyebrang ke Inter Milan, tidak puas dengan dominasinya di Serie A lantas pindah ke Barcelona, tidak kerasan di Spanyol kembali lagi ke Italia bersama AC Milan.

Ya, hanya sampai AC Milan. Kisah ini harus disudahi karena I Am Zlatan adalah biografi. Bukan science fiction yang bisa menceritakan kejadian di tahun 2016 ketika buku tersebut baru terbit tahun 2011.

Secara keseluruhan I Am Zlatan bisa dikatakan sangat memuaskan. Cara penceritaannya mengalir, pemilihan diksi yang menghibur, pernyataan-pernyataan kontroversial, dan lainnya diungkapkan dengan terlihat jujur tanpa berpura-pura. Blak-blakan menghajar siapa saja dan mengeluarkan pendapat semaunya.

Namun, ada yang saya pertanyakan. Siapa itu David Lagercrantz yang dikatakan menulis bersama Zlatan dalam pembuatan biografi ini?

Memang lazim buku pesepakbola yang ditulis bersama penulis lain. Andrea Pirlo menulis I Think, Therefore I Play bersama Alessandro Alciato (yang juga menulis bersama Carlo Ancelotti), begitupun Roy Keane dalam memoarnya The Second Half ditulis bersama Roddy Doyle. Yang patut dipertanyakan selanjutnya adalah seberapa jauh peran David Lagercrantz dalam buku ini?

Ternyata dalam laporan The Guardian beliau mengakui bahwa tidak semua yang tercantum dalam buku tersebut adalah perkataan Zlatan. Bahkan ada beberapa kutipan yang membuat Zlatan bereaksi “Apa-apaan ini? Aku tidak pernah mengatakannya,” tetapi lambat laun Zlatan menerimanya.

Jadi, secara teknis buku I Am Zlatan ditulis oleh David Lagercrantz yang berpikir selayaknya dia adalah seorang Zlatan Ibrahimovic, dengan berbagai informasi yang ia dapat dari si tokoh aslinya. Seperti Aan Mansyur dalam Tidak Ada New York Hari Ini yang menulis puisi dengan membayangkan dirinya sebagai seorang Rangga.

Setelah menerima kabar tersebut, selanjutnya saya, dan mungkin Anda, bertanya-tanya apakah pernyataan-pernyataan Zlatan yang selama ini dipancang media itu murni dari Zlatan? Apakah citra Zlatan yang arogan selama ini menunjukkan dirinya yang sebenarnya? Atau ini hanya bagian dari personal marketingnya saja sebagaimana tagar #DareToZlatan? (Ada pembahasan di suatu jurnal ilmiah tentang “Mitos Zlatan” yang ditulis dengan bagus, kapan-kapan akan ditampilkan di sini, kalau tidak malas)

Entahlah. Mungkin semua itu dapat membuat kita kecewa, tetapi rasanya saya akan menerimanya saja. Toh, biografi Zlatan Ibrahimovic bukanlah hadis Nabi yang harus jelas perawi, sanad, dan matannya. Lagipula, saya pun hanya menjadikan buku ini sebagai hiburan semata.

Yang saya sesali adalah mengapa Zlatan memutuskan untuk menulis biografinya pada tahun 2011? Di kondisi kariernya yang masih berada di puncak, ia masih mungkin mencapai banyak prestasi lain, mengalami peristiwa lain, dan dapat mengisahkan banyak cerita lainnya.

Zlatan belum bercerita bagaimana dominasinya di Prancis (belakangan dia sudah mengeluarkan pernyataan bahwa yang ia rindukan dari Paris adalah gaji besarnya hehe), apakah ia bosan seperti di Barcelona? Atau ia nyaman saja seperti di Inter Milan? Lalu, ia sekarang juga sudah pindah dari Paris untuk reuni kembali dengan seorang yang sangat ia hormati: Jose Mourinho. Bagaimana pendapatnya mengenai Liga Inggris?

Bagaimana ia di Manchester United? Di pertandingan pertamanya melawan Galatasaray saja dia sudah mencetak gol debut dengan cara yang sangat Zlatan: salto, lalu juga menentukan kemenangan di Community Shield, kemudian terus berlanjut mencatatkan namanya di papan skor saat melawan Bournemouth dalam debutnya di Liga Primer, serta di minggu kedua Liga Primer lalu dua golnya mengakhiri rekor dua kekalahan Manchester United atas Southampton di Old Trafford, dan tentu saja masih akan berlanjut cerita lainnya.

Di akhir musim sudah pasti jumlah penampilan dan jumlah gol bagi klub di sampul buku I Am Zlatan itu bertambah dan sangat terbuka kemungkinan pula jumlah trofinya bertambah. Sebab itulah alasan Zlatan didatangkan.

Dan jika saatnya itu tiba, saya membayangkan Eric Cantona kembali membuat suatu video. Dengan pakaian rapi sembari duduk di ruangan. Memegang buku I Am Zlatan, sekilas berpura-pura membaca, lalu menutupnya, dan berkata:

“Zlatan. Hmmm, ini bagus,” ujar Cantona sambil mengernyitkan dahi, kemudian melanjutkan. “Namun, melihat kondisi saat ini. Saya rasa isinya kurang komprehensif dan relevan. Alangkah baiknya jika direvisi lagi. Oh iya, dan cobalah untuk menulisnya sendiri. Jangan pakai ghostwriter atau assistant writer.

“Katanya God of Manchester,” pungkasnya.