Hasil Survei: Pekerja Kurang Istirahat dan Tak Punya Kejelasan Karir di Masa Depan

Serikat Sindikasi
Feb 17, 2019 · 5 min read

Pada akhir April tahun 2018, Kementerian Ketenagakerjaan menerbitkan Permenaker №5/2018 yang memuat Faktor Psikologi sebagai salah satu indikator Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Dalam Permenaker tersebut, Faktor Psikologi adalah faktor yang mempengaruhi aktivitas tenaga kerja, disebabkan oleh hubungan antar personal di tempat kerja, peran dan tanggung jawab terhadap pekerjaan.

Sebelumnya, pada Work-Life Balance (WLB) Festival 2018 di bulan Februari, SINDIKASI turut mengadvokasi masalah kesehatan mental pekerja yang akhirnya tertuang dalam Permenaker di atas. Demi menindaklanjutinya, SINDIKASI kembali menyelenggarakan WLB Festival pada tanggal 9 Februari 2019. Dua tujuan besar dari penyelenggaraan WLB Festival ialah ​pertama, dalam rangka memperingati Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional; ​kedua, menindaklanjuti hasil advokasi SINDIKASI mengenai masalah kesehatan mental pekerja yang kemudian tertuang dalam Permenaker №5/2018.

Sebagai bagian dari WLB Festival 2019, Divisi Riset dan Edukasi SINDIKASI melakukan survei terhadap 100 anggota SINDIKASI yang bekerja di industri media dan kreatif. Survei dilakukan sejak tanggal 15–25 Januari 2019; disebarkan dan diisi secara ​online dan data responden bersifat ​confidential.

Dengan menggunakan instrumen ​”Survei Faktor Psikologi Kerja” ​yang terdapat pada ​Permenaker №5/2018​, survei ditujukan untuk mengetahui pola hubungan antara kondisi kerja dan kesehatan mental pekerja. Selain itu, dalam survei juga dicantumkan beberapa pertanyaan tambahan terkait latar belakang pekerjaan responden serta pertanyaan seputar Permenaker №5/2018.

Pekerja Kurang Istirahat
Dari keenam kategori yang ada dalam “​Survei Faktor Psikologi Kerja”​, terlihat bahwa ​Beban Kerja Kuantitatif menjadi kategori kondisi kerja yang paling banyak menimbulkan sress BERAT bagi responden. Sebanyak​40%​responden menyatakan bahwa ​Beban Kerja Kuantitatif ​menjadi kategori kondisi kerja yang paling banyak menimbulkan ​stress BERAT, disusul dengan ​Beban Kerja Kualitatif (33%) dan Perkembangan Karir (32%).

Adapun kondisi kerja pada kategori ​Beban Kerja Kuantitatif yang paling banyak menimbulkan stress bagi para responden, secara spesifik terdapat pada pertanyaan nomor 27 ​mengenai kurangnya waktu untuk melakukan istirahat secara teratur. Dalam hal ini, para responden mengisi pertanyaan tersebut dengan skoring tingkat stress rata-rata sebesar ​4,94 (skala 1–7); dan responden perempuan mengisi pertanyaan nomor 27 dengan skoring tingkat stress rata-rata sebesar ​5,13 (skala 1–7).

Terkait itu, kebanyakan dari responden yang mengisi skoring tinggi pada pertanyaan nomor 27 ialah mereka yang bekerja di bidang ​e-commerce, arsitektur, dan strategi (termasuk ​social media strategy); serta mereka yang bekerja di dua jenis status kerja. Pertama, pekerja harian dengan perjanjian kerja yang jelas; kedua, mereka yang bekerja dengan status kerja tetap dan​ freelance sekaligus.

Sementara itu, kondisi kerja pada kategori ​Beban Kerja Kualitatif ​yang paling banyak menimbulkan stress bagi para responden, secara spesifik terdapat pada pertanyaan ​nomor 16 (mengenai tugas-tugas di dalam pekerjaan yang tampaknya semakin hari menjadi semakin kompleks) dan nomor 4 (mengenai tuntutan-tuntutan terhadap pekerja tentang mutu pekerjaan yang keterlaluan).

Dalam hal ini, para responden mengisi pertanyaan di nomor 16 dengan skoring tingkat stress rata-rata sebesar ​4,5 (skala 1–7) dan di nomor 4 dengan skoring tingkat stress rata-rata sebesar ​4,4 (skala 1–7). Kemudian, responden dengan gender laki-laki mengisi pertanyaan di nomor 16 dengan skoring tingkat stress rata-rata sebesar ​4,5​ (skala 1–7) dan ​4,4​ (skala 1–7) di nomor 4.

Terkait itu, kebanyakan dari responden yang mengisi skoring tinggi pada pertanyaan nomor 16 ialah mereka yang bekerja di bidang kreatif ​e-commerce dan ilmu informasi dan teknologi; sementara di nomor 4 serta ialah mereka yang bekerja di bidang kreatif ​e-commerce, desain interior, arsitektur dan Desain Komunikasi Visual (DKV).

Tak Punya Kejelasan Karir di Masa Depan
Kemudian, responden yang mengisi skoring tinggi pada pertanyaan nomor 16 ialah mereka yang bekerja di dua jenis status kerja. Pertama, mereka yang bekerja dengan status kerja tetap dan freelance sekaligus. Kedua, pekerja tidak tetap/kontrak dengan perjanjian kerja yang jelas. Sementara itu, responden yang mengisi skoring tinggi pada pertanyaan nomor 4 ialah mereka yang bekerja di dua jenis status kerja. Pertama, pekerja harian dengan perjanjian kerja yang jelas. Kedua, pekerja ​freelance dengan perjanjian kerja yang tidak jelas.

Terakhir, kondisi kerja pada kategori ​Pengembangan Karir yang paling banyak menimbulkan stress bagi para responden, secara spesifik terdapat pada pertanyaan nomor 29 (mengenai karir pekerja yang tidak berkembang). ​Dalam hal ini, para responden mengisi pertanyaan di nomor 29 dengan skoring tingkat stress rata-rata sebesar ​4,25 ​(skala 1–7); dan responden dengan gender perempuan mengisi pertanyaan di nomor 29 dengan skoring tingkat stress rata-rata sebesar ​4,3 (skala 1–7).

Kebanyakan dari responden yang mengisi skoring tinggi pada pertanyaan nomor 29 ialah mereka yang bekerja di bidang kreatif ​e-commerce, HAM & Advokasi, ilmu, informasi dan teknologi dan Desain Komunikasi Visual (DKV); serta mereka yang bekerja dengan status kerja tetap dan​ freelance sekaligus.

Implementasi Permenaker №5/2018 Belum Maksimal
Di luar instrumen ‘​Survei Faktor Psikologi Kerja’​, kami menanyakan pendapat responden mengenai hubungan antara kondisi kerja dan kesehatan mental pekerja. Hasilnya, sebanyak 98% responden menganggap bahwa terdapat hubungan antara kondisi kerja dan kesehatan mental pekerja, sementara 1% responden menganggap tidak ada hubungan di antara keduanya dan sisa 1% lainnya menyatakan tidak tahu.

Selain itu, kami juga menanyakan responden mengenai keberadaan Permenaker 5/2018. Hasilnya, dari 100 responden, sebanyak 66% menyatakan tahu mengenai keberadaan Permenaker №5/2018 dan 34% menyatakan tidak tahu akan keberadaan Permenaker №5/2018. Artinya, implementasi Permenaker №5/2018 dapat dikatakan belum maksimal mengingat keberadaannya pun belum diketahui oleh keseluruhan responden (pekerja di bidang industri media dan kreatif).

Terakhir, kami juga menanyakan relevansi instrumen ‘​Survei Faktor Psikologi Kerja’ yang terdapat pada Permenaker №5/2018 dengan kondisi kerja para responden di industri media dan industri kreatif. Hasilnya, 65% responden menyatakan bahwa sebagian pertanyaan yang terdapat pada ‘​Survei Faktor Psikologi Kerja’ relevan dengan kondisi kerja para responden; 34% menjawab keseluruhan pertanyaan yang terdapat pada ‘​Survei Faktor Psikologi Kerja’ relevan dengan kondisi kerja para responden; dan 1% responden menegaskan bahwa keseluruhan pertanyaan yang terdapat pada ‘Survei Faktor Psikologi Kerja’ tidak relevan dengan kondisi kerja para responden.

Analisis Hasil Survei
Analisis hasil survei secara keseluruhan akan disampaikan secara langsung oleh perwakilan dari Divisi Riset dan Edukasi SINDIKASI (Fathimah Fildzah Izzati) dalam Talkshow pertama WLB Festival 2019 pada 9 Februari 2019.

Tentang Instrumen Survei
Pertanyaan-pertanyan mengenai ​kondisi kerja ​(30 pertanyaan) yang terdapat dalam ”Survei FaktorPsikologiKerja”​terdapat pada​Permenaker№5/2018,​terbagi ke dalam enam kategori:

1. Ketaksaan Peran 4. Beban Kerja Kualitatif 2. Konflik Peran 5. Perkembangan Karir 3. Beban Kerja Kuantitatif 6. Tanggung jawab terhadap orang lain.

Dengan menggunakan skor 1–7 (1 untuk “tidak pernah menimbulkan stress” dan 7 “untuk selalu menimbulkan stress”), responden diminta menggambarkan tingkat stress dalam kondisi kerjanya yang dimaksud pada setiap pertanyaan Skor kemudian dihitung berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang termasuk ke dalam masing-masing kategori dan dikelompokkan dengan kriteria yang juga telah tercantum dalam ​Survei Faktor Psikologi Kerja​.

  1. Skor <= 9: derajat stress RINGAN 2. Skor 10–24: derajat stress SEDANG 3. Skor > 24: derajat stress BERAT

Jakarta, 3 Februari 2019 Divisi Riset dan Edukasi SINDIKASI

SINDIKASI

Tempat kami berbagi cerita, informasi seputar pekerja…

Serikat Sindikasi

Written by

Wadah kolektif untuk pekerja media dan industri kreatif. Punya cita-cita mewujudkan ekosistem kerja manusiawi dan berkelanjutan

SINDIKASI

SINDIKASI

Tempat kami berbagi cerita, informasi seputar pekerja media, kreatif dan ekonomi digital

Serikat Sindikasi

Written by

Wadah kolektif untuk pekerja media dan industri kreatif. Punya cita-cita mewujudkan ekosistem kerja manusiawi dan berkelanjutan

SINDIKASI

SINDIKASI

Tempat kami berbagi cerita, informasi seputar pekerja media, kreatif dan ekonomi digital

Medium is an open platform where 170 million readers come to find insightful and dynamic thinking. Here, expert and undiscovered voices alike dive into the heart of any topic and bring new ideas to the surface. Learn more

Follow the writers, publications, and topics that matter to you, and you’ll see them on your homepage and in your inbox. Explore

If you have a story to tell, knowledge to share, or a perspective to offer — welcome home. It’s easy and free to post your thinking on any topic. Write on Medium

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store