Note It — Engineering Productivity

Focus Is Asset

duh dek…

Programming membutuhkan fokus terhadap domain masalah yang sedang dikerjakan. Skill teknikal seperti kemampuan dalam coding, penggunaan teknologi, bagi saya itu nomor dua, nomor satu adalah bagaimana seorang programmer itu bisa fokus terhadap masalah yang harus dia selesaikan, dan harap diingat :

Fokus itu tidak berhubungan dengan kecepatan seseorang dalam mengambil keputusan

Hari ini saya membaca sebuah artikel yang menarik dari Medium tentang “work on one thing”. Ada sebuah statement menarik dari artikel itu, yaitu :

I don’t have to worry about things I might’ve forgotten, and I stress myself out trying to remember every little thing I had to do. Instead, I’ve built a system outside of my brain to keep track of things.

Sebelumnya saya cukup keteteran dengan pekerjaan saya sendiri. Di satu sisi ada hutang fitur yang harus diselesaikan, di tempat lain ada hutang meeting / regroup yang harus diikuti, di tempat (lain) lagi harus fix bug, dan di tempat (lain) lagi harus membantu teman saya, dan akhirnya saya sendiri loss context + loss a lot of energy.

Saya pernah berada di satu titik dimana saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus saya kerjakan (100% curhat).

Solusi? Yang menjadi masalah (minimal bagi saya pribadi) bukan seberapa cepat seorang engineer/programmer dalam mengerjakan sesuatu, tapi yang pertama dan yang paling penting adalah apakah programmer tahu apa yang harus dikerjakan ?

Card Trello atau Jira apakah bisa membantu? Well, memang ada semacam pengingat di sana, tapi percayalah, ketika seorang programmer sudah kehabisan tenaga & loss context, dia akan dalam posisi sudah tidak mau lagi (baca: males) untuk membuka segala sesuatu yang direct hit dengan pekerjaannya.

Lalu apa yang saya lakukan ? Ada beberapa hal yang bagi saya pribadi perlu di profesi saya ini :

  1. Domain masalah apa yang perlu saya pikirkan
  2. Pekerjaan apa saja yang pending ?
  3. Meeting. Jujur saya bukan seorang yang suka meeting, apalagi kalau terlalu sering.
  4. Setiap task bisa selesai, bisa pending atau bisa blocking, kalau ada sebuah masalah maka saya perlu tahu & ingat, masalah apa saja yang terjadi.

Lalu apa yang perlu dilakukan ? Simpel, saya membuat sebuah catatan + todolist sederhana di luar seluruh dokumen kerjaan saya. Bahkan di catatan ini termasuk pekerjaan saya sebagai bapak / suami, misal mengantar anak sekolah. Kenapa harus di luar dokumen kerjaan ? Karena kalau campur dengan pekerjaan rumah tangga saya, otomatis pasti akan terbaca juga, tapi dengan feel yang berbeda, trust me it works!

Lalu bagaimana dengan todolist ? Sebelum saya membuat & memanage todolist milik saya ini, saya bekerja sama dengan diri saya sendiri, semacam kontrak pikiran, kalau todolist ini bukanlah sebuah kewajiban. Lalu apa gunanya ? Simpel, agar saya ingat.

Catatan apa saja yang perlu dibuat ?

  1. Hasil meeting
  2. Pending task, why ?
  3. Blocking task, why ?

Todolist apa saja yang perlu dibuat ?

  1. Fitur
  2. Bug
  3. Pending task

Dan setiap catatan / todolist selalu saya beri tanggal, dan ada satu catatan khusus yaitu Unfinished Works, yang isinya adalah daftar kerjaan yang pending.


Tool apa yang biasanya saya gunakan ? Untuk sekarang saya hanya menggunakan Evernote untuk membuat catatan & todolist saya, dan sampai saat ini cukup bekerja dengan baik.


Apa yang saya lakukan disini, objektifnya sangat sederhana, yaitu hanya agar saya tahu apa-apa saja yang perlu saya pikirkan / kerjakan, untuk mengurangi (ingat! mengurangi! bukan menghindari) side effect dari multitasking dan context switching yang berakibat pada loss context.


Happy noting (halah)…