Ini Dia Kode Etik Profesi yang Perlu Anda Ketahui Sebagai Software Engineer

Nadya Anandari
Sep 12, 2019 · 5 min read

Our society runs on code and software development is one of the major part of the most important sector in the world. Now, we face crisis of unethical behaviors. -Ubanna Dan-Ekeh

Source Image https://dribbble.com/shots/5306133

Ketika anda menjalani sebuah profesi, apakah anda sudah mengetahui kode etik profesi seperti apa harus anda patuhi? Tentu ini adalah hal paling mendasar sebelum anda masuk dan berkecimpung di profesi apapun. Namun hal tersebut kerap kali terlupakan oleh sebagian orang.

Salah satu kasus pelanggaran kode etik yakni tindak kecurangan dalam penyelenggaraan Flash Sale Spesial 9 Tokopedia pada Agustus 2018 yang dilakukan oleh sejumlah karyawan Tokopedia. Mereka menggunakan metode fraud agar konsumen tak bisa memperoleh barang yang dijual murah selama program berlangsung. Alhasil, konsumen yang terlibat dalam kegiatan Flash Sale saat itu tidak bisa membeli produk-produk tersebut. Kemungkinan kecurangan yang dilakukan bisa terjadi dengan cara pelaku membuat banyak akun anonim atau mendesain agar aksesnya lebih cepat daripada konsumen yang lain.

Menjadi seorang Software Engineer tidak hanya tentang coding atau menghasilkan sebuah sistem maupun program. Seorang Software Engineer juga harus mampu memberikan dampak bagi lingkungan sekitar. Dengan adanya etika, seorang Software Engineer akan lebih mudah dalam menjalankan tugas sesuai dengan norma-norma atau prinsip-prinsip yang telah ditentukan di bidangnya.

Berikut ini beberapa butir kode etik profesi yang perlu anda ketahui untuk menjalankan profesi sebagai seorang Software Engineer. Kode etik ini dikeluarkan oleh organisasi internasional perkumpulan para profesional komputasi yakni Association for Computing Machinery (ACM).

  1. Berkontribusi pada masyarakat dan kesejahteraan manusia, dan mengakui bahwa semua orang adalah pemangku kepentingan dalam komputasi. Prinsip ini bertujuan untuk meminimalkan konsekuensi negatif pada Software Engineer dalam menggunakan keterampilannya untuk kepentingan masyarakat. Software Engineer harus mempertimbangkan apakah hasil dari upaya mereka akan menghargai keberagaman, akan digunakan dengan cara yang bertanggung jawab secara sosial, akan memenuhi kebutuhan sosial, dan akan dapat diakses secara luas.
  2. Menghindari bahaya. Untuk meminimalkan kemungkinan merugikan orang lain secara tidak langsung atau tidak sengaja. Contohnya, anda seorang Software Engineer yang membuat sistem maka anda harus mengetahui dan melaporkan resiko-resiko apa saja yang dapat menyebabkan kehilangan informasi atau sumber daya, dan itu berbahaya untuk pengguna, masyarakat, atau pekerja. Untuk itu Software Engineer wajib mengetahui langkah-langkah menangani resiko tersebut sesuai dengan standar yang ada.
  3. Jujur dan terpercaya. Seorang Software Engineer harus transparan dalam memberikan pengungkapan penuh tentang semua kemampuan sistem terkait, keterbatasan sistem, dan potensi masalah kepada pihak yang tepat. Software Engineer tidak diperkenankan untuk memalsukan data, menawarkan data tanpa sepengetahuan pihak yang terkait. Para Software Engineer harus jujur ​​tentang kualifikasi mereka, dan tentang segala keterbatasan dalam kompetensi mereka untuk menyelesaikan tugas.
  4. Bersikap adil dalam mengambil tindakan dan tidak melakukan diskriminasi. Seorang Software Engineer juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai SARA, kesetaraan, toleransi, rasa hormat terhadap orang lain, dan keadilan agar di setiap proses pengambilan keputusan kompleks sekalipun Software Engineer tetap dapat menyediakan jalan untuk memperbaiki keluhan dari pihak terkait. Hal ini dikarenakan para Software Engineer harus mengambil tindakan untuk menghindari penciptaan sistem atau teknologi yang dapat menghilangkan hak atau menindas orang. Kegagalan dalam merancang inklusifitas dan aksesibilitas dapat menghadirkan diskriminasi dan ketidakadilan.
  5. Menghormati dan menghargai setiap ide, karya, maupun penemuan. Seorang Software Engineer harus menghormati hak cipta, hak paten, rahasia dagang, perjanjian lisensi, dan metode lain untuk melindungi karya pencipta. Para Software Engineer tidak boleh mengklaim kepemilikan pribadi atas pekerjaan yang telah mereka atau orang lain bagikan sebagai sumber daya publik.
  6. Menghormati privasi dan rahasia. Seorang Software Engineer harus fasih dalam memahami berbagai definisi dan bentuk privasi dan harus memahami hak dan tanggung jawab yang terkait dengan pengumpulan dan penggunaan informasi pribadi, rahasia dagang, data klien, strategi bisnis nonpublik, informasi keuangan, data penelitian, artikel ilmiah pra-publikasi, dan aplikasi paten. Seorang Software Engineer hanya boleh menggunakan informasi pribadi untuk tujuan yang sah dan tanpa melanggar hak-hak individu dan kelompok. Ini bertujuan untuk melindungi seluruh privasi setiap individu.
  7. Berusaha keras untuk mencapai kualitas yang tinggi baik dalam proses maupun produk dari pekerjaan profesional. Seorang Software Engineer harus menghormati hak Software Engineer lain yang terlibat dalam komunikasi transparan tentang proyek. Kualitas yang baik tergantung pada individu dan tim yang mengambil tanggung jawab pribadi dan kelompok untuk memperoleh dan mempertahankan kompetensi profesional. Kompetensi profesional juga membutuhkan keterampilan dalam komunikasi, dalam analisis reflektif, dan dalam mengenali dan menavigasi tantangan etika. Keahlian peningkatan harus merupakan proses yang berkelanjutan dan dapat mencakup studi independen, menghadiri konferensi atau seminar, dan pendidikan formal atau informal lainnya. Organisasi dan pengusaha profesional harus mendorong dan memfasilitasi kegiatan ini.
  8. Menerima dan memberikan ulasan yang sesuai. Seorang Software Engineer harus bisa mengevaluasi di semua tahap pekerjaan seperti kelayakan pekerjaan, hingga membuat penilaian tentang apakah penugasan pekerjaan berada dalam area kompetensi profesional.
  9. Menciptakan peluang bagi anggota organisasi atau kelompok untuk tumbuh sebagai profesional. Setiap pengusaha profesional harus mementingkan peluang pendidikan untuk semua anggota organisasi dan kelompok. Para pemimpin Software Engineer harus memastikan bahwa peluang tersedia bagi para Software Engineer untuk membantu mereka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam profesionalisme, praktik etika, dan spesialisasi teknis mereka. Peluang ini harus mencakup pengalaman yang membiasakan para profesional komputasi dengan konsekuensi dan keterbatasan jenis sistem tertentu agar setiap Software Engineer menjadi percaya diri dalam memikul tanggung jawab untuk pekerjaan yang mereka lakukan.
  10. Mengelola personil dan sumber daya untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja. Ini merupakan hal penting bagi para pemimpin profesional yang mana harus memastikan bahwa mereka meningkatkan, bukan menurunkan, kualitas kehidupan kerja para Software Engineer. Para pemimpin harus mempertimbangkan pengembangan pribadi dan profesional, persyaratan aksesibilitas, keselamatan fisik, kesejahteraan psikologis, dan martabat manusia semua pekerja. Standar ergonomis manusia-komputer yang sesuai harus digunakan di tempat kerja.

Menurut Jamie Burchette, dalam Wake Forest Journal of Business & Intellectual Property Law sedikit sekali bahkan tidak ada pelatihan etika di sekolah untuk menjadi seorang Software Engineer. Ia menyatakan

“Now, some fear that programming is facing a new crisis. One that is very different than the one faced in the 1990’s. A crisis of ethics. In recent years, incidents, where programs have been used unethically or illegally, have come to light.”

Begitu pula dengan Rizqinofa Putra, Founder Skyshi Digital Indonesia menyatakan bahwa Indonesia sendiri belum masuk pada standar kualifikasi Software Engineer global. Namun menurutnya Software Engineer dalam menjalankan pekerjaannya harus bisa memberikan impact baik sesama Software Engineer maupun masyarakat, berkomunikasi dengan baik, leadership, memberikan pengaruh, dan memiliki keunggulan di bidangnya.

Untuk itu dengan adanya organisasi seperti Association for Computing Machinery (ACM) dapat membantu setiap Software Engineer di dunia untuk menerapkan kode etik yang telah dibuat. Meskipun kode etik hanya dibuat secara tertulis namun implementasi di kehidupan sebenarnya sangatlah dalam dan penuh tantangan. Dengan adanya kode etik profesi ini diharapkan setiap Software Engineer bertindak sesuai dengan aturan dan menghindari tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik profesi.

Nah bagaimana dengan anda? Sudahkah sesuai dengan kode etik yang berlaku? Jika belum, anda juga perlu menyesuaikan kembali cara kerja anda dengan kode etik profesi yang berlaku. Tentu semua itu untuk kenyamanan anda dalam menjalankan profesi dan jauh dari hal-hal membahayakan diri pada saat menjalankan pekerjaan. Saat ini kami juga tengah berproses dalam menerapkan semua butir-butir kode etik yang berlaku agar kesejahteraan dan keselamatan kerja setiap Software Engineer tetap terjaga.

SkyshiDigital

We help scale up your startup to the next level

Nadya Anandari

Written by

SkyshiDigital

We help scale up your startup to the next level

More From Medium

More on Software Engineering from SkyshiDigital

More on Software Engineering from SkyshiDigital

Meminimalisir Deployment Error Dengan User Acceptance Test

More on Programmer from SkyshiDigital

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade