.Feast — MULTIVERSES (A Review)

Saya merasa termenangkan.

Pembukaan

Pertama kali saya melihat video klip Wives of ゴジラ , saya sepertinya tertawa dalam hati. Soalnya rasanya lucu lihat Ryo Bodat teler sambil telanjang sepanjang video. Meskipun begitu, di tengah lagu saya merasa takjub dengan solo saxophone yang dimasukkan. Yang membuat saya penasaran untuk mulai mengikuti mereka saat itu adalah arah mereka yang belum terlalu jelas. Bagi saya.

Kemudian muncullah Sectumsempra. Videonya menampilkan potongan video yang berkaitan dengan perang. Liriknya lugas dan tegas, sekaligus relevan dengan keadaan negara saya saat ini (atau dari dulu?).

Pembedahan

Saat pertama kali melakukan unboxing terhadap standard bundle dari MULTIVERSES (memang ditulis kapital), seketika saya merasa termenangkan. CD, Jurnal, stiker, pengharum, dan dua buah pick (entah mereka salah hitung atau tidak) dibungkus dalam ziplock dengan print berbagai lambang agama.

Gambar 1. Standard bundle MULTIVERSES
Gambar 2. Isi standard bundle MULTIVERSES

Sebenarnya saya sudah tahu isinya, tentu saja, tapi yang paling memenangkan saya adalah sang jurnal. Telampau mewah. Isi jurnal tersebut repot-repot ditata sedemikian rupa, alih-alih hanya print out: kliping gambar di beberapa halaman, foto personel yang ditempelkan, cuplikan fiksi di sana-sini, penjelasa latar belakang tiap lagu, pembadanan tiap lagu menjadi tiap babak, dan penataan lirik yang terkadang mlentang keluar jalur mengikuti muatan lagu. Telampau mewah. Alasan saya selalu menyisihkan uang untuk membeli rilisan fisik adalah sesimpel ini: agar dapat menikmati artwork dan membaca lirik selama lagu diputar. Tidak semua artist cukup cerdas untuk mempertimbangkan ini. Namun .Feast bukan hanya mempertimbangkannya, melainkan “mempertimbangkannya”. Konsep MULTIVERSES menjadi lebih kuat melalui jurnal ini.

MULTIVERSES merupakan album rock (jangan tanya saya rock yang mana, karena mereka memang membawakan beragam style rock) yang kuat, secara konsep dan muatan, dan sangat relatable dengan saya maupun lingkungan saya (negara, luasnya).

Album ini dibuka dengan “Riphunter” yang mengingatkan saya tentang penegasan jati diri. Memang sulit menjadi diri Anda sendiri jika tindak-tanduk Anda di luar standar.

Pada track ketiga, “Kelelawar”, ada isu yang sangat relatable dengan pekerjaan. Bidangnya, durasinya, cara menjalaninya. Walaupun maksud dari lagu ini adalah keseimbangan hobi-pekerjaan, tapi tulisan “Jangan dibutakan dunia, jangan dibutakan akhirat ” dapat dikaitkan dengan alasan saya memilih pekerjaan saya. Hasilnya cukup memenuhi, gairahpun (baca: passion) cukup terpenuhi.

Gambar 3. Jurnal bagian “Kelelawar“

Dalam monolog peralihan antara “Kelelawar” dan “uʍop ǝpᴉsdn” saya teringat pertanyaan yang muncul di kepala saya saat menelaah salah satu pasal yang menyebutkan hak untuk memeluk agama. Yang menjadi kontradiksi adalah (1) jumlah agama yang diakui dan (2) bukankah sesuatu yang harus dilakukan disebut kewajiban?

Pada track ketujuh terdapat “Fastest Man Alive” yang juga merupakan salah satu track favorit saya. Ugal-ugalan dan penuh riff gitar. Judulnya pasti sangat familiar untuk penggemar serial yang menampilkan Grant Gustin sebagai Barry Allen.

Pada track kesepuluh terdapat kombo materi dan penyajian yang menarik. “Jerusalem” dengan halus mengajak kita meruntuhkan dinding-dinding kita. Bukan dinding secara harfiah, namun dinding yang kita buat untuk membeda-bedakan sesama manusia. Membeda-bedakan sesama berdasarkan agama dan ras. Saya, anak dari Jawa mualaf yang saat Sekolah Dasar bersahabat dengan seorang tionghoa Katolik, langsung bergetar ketika mendengarkan lagu ini. Saya terbawa untuk merasa iba dan khawatir terhadap arah kemana lingkungan saya menuju.

Penutup

Secara keseluruhan, MULTIVERSES menancapkan kesan yang kuat. Materinya merupakan materi-materi rock terbaik untuk tahun ini. Narasinya, melalui monolog penghubung antar lagu, digarap ,menarik layaknya sebuah film thriller. Mengingatkan saya terhadap Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory oleh Dream Theater, walaupun muatannya terinspirasi oleh To Pimp a Butterfly oleh Kendrick Lamar. Packagingnya memenangkan hati. Calon album terbaik untuk 2017.