Yuk, Ajak Anak Belajar Emosi!

Midah
Midah
Aug 8, 2017 · 4 min read

Bagian Pertama: Ekspresi Emosi

Salam sayang untuk ayah — bunda sekalian. :)

Sebelum mengajak anak belajar mengelola emosi, yuk kenali emosi kita sendiri! Pernahkah ayah — bunda merasa lelah akibat banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dan ketika sampai di rumah, anak rewel dan menangis terus-menerus? Pernahkah ayah — bunda sedih dan menangis ketika ada masalah pekerjaan, masalah dengan pasangan, ataupun ketika anak sakit? Begitu banyak emosi yang kita rasakan, ya. Ingin rasanya bisa dimengerti oleh orang lain yang mendampingi kita melalui berbagai perubahan emosi yang kita rasakan.

Seperti yang dirasakan orang tua, anak juga merasakan berbagai perubahan emosi di setiap situasi yang berbeda.

Tahukah ayah — bunda bahwa emosi merupakan salah satu bentuk komunikasi anak terhadap orang lain. Ketika anak ingin diperhatikan atau marah terhadap suatu hal, ia mengekspresikannya dengan menangis. Perilaku menangis terjadi karena anak belum tahu apa yang sedang ia rasakan dan kesulitan mengungkapkannya secara verbal.

Banyaknya penelitian mengenai perkembangan emosi anak menunjukkan bahwa emosi merupakan salah satu aspek penting dalam tahap perkembangan anak. Martani (2012) mengemukakan bahwa emosi adalah perasaan yang secara fisiologis dan psikologis dimiliki oleh anak dan digunakan untuk merespon peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Emosi membantu anak bertahan dan berkomunikasi dengan lingkungan. Di samping itu, emosi diwakilkan oleh perilaku yang mengekspresikan kenyamanan atau ketidaknyamanan terhadap keadaan atau interaksi yang sedang dialami (Nurmalitasari, 2015).

Anak berkembang melalui interaksinya dengan lingkungan, salah satunya adalah lingkungan keluarga. Interaksi anak dengan orang tua mempengaruhi perkembangan sosial emosionalnya. Orang tua sebagai pengasuh utama menjadi sarana bagi anak belajar mengenal, memahami, dan mengekspresikan emosinya. Pernahkan ayah bunda mengamati perilaku anak yang menirukan perilaku orang-orang di sekitarnya? Ketika ayah — bunda bermain cilukba dengan anak, anak akan menirukan gerakan dan ekspresi emosi yang ditunjukkan orang tua. Ketika ayah dan bunda mengajak buah hati untuk menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan, anak akan mengikuti perilaku tersebut. Hal ini menunjukkan peran orang tua sebagai model anak dalam mempelajari banyak hal, termasuk ekspresi emosi.

Anak yang belum mengenal emosi cenderung mengalami kesulitan mengelola emosinya. Ketika anak belajar mengekspresikan emosinya, ia juga belajar kontrol diri dan pengelolalan emosi. Orang tua dapat mengajak anak belajar mengelola emosi melalui berbagai cara, di antaranya:

  1. Kenalkan emosi pada anak

Orang tua dapat mengenalkan emosi pada anak melalui situasi keseharian yang dialami anak. Misal, anak sedih dan menangis ketika mainannya rusak. Orang tua dapat merefleksikan situasi yang terjadi dan mengenalkan emosi pada anak, seperti “Wah, mainannya patah. Mawar sedih ya…” Orang tua dapat menenangkan anak dengan pelukan. Setelah itu, orang tua dapat memberitahu anak mengenai pengalaman serupa, sepertu “Bunda juga pernah sedih, sewaktu….” Dengan menceritakan pengalaman emosional yang pernah ayah bunda rasakan, anak dapat belajar bahwa emosi adalah hal yang wajar dirasakan setiap orang. Orang tua juga dapat mengarahkan anak untuk mengatasi keadaannya saat itu dengan mengajak anak membetulkan mainannya, atau dengan berbagai cara lainnya.

2. Biasakan anak mengekspresikan emosinya

Semakin sering orang tua mengenalkan emosi, anak akan mulai terbiasa dan mengetahui emosi apa yang sedang ia rasakan. Orang tua dapat melakukan proses pembiasaan itu dengan waktu yang singkat secara berulang-ulang. Misal, hari ini orang tua mengenalkan emosi melalui buku cerita. Lain waktu, orang tua dapat mengenalkan emosi dengan menggunakan media lain, seperti boneka, kartu, dan dadu emosi.

3. Berikan dorongan positif pada anak

Proses orang tua membiasakan anak untuk mengenali dan mengekpresikan emosi dapat memperkaya informasi yang dimiliki anak. Ketika anak menemui situasi serupa, ia dapat menyampaikan emosi yang dirasakannya. Seperti, “Bunda, aku senang” atau ketika menginginkan sesuatu, anak dapat menyampaikan keinginannya tanpa menangis. Anak cenderung akan mengulangi perilaku ekspresi emosinya kembali ketika mendapatkan dukungan dan dorongan positif dari orang tua. Dorongan positif ini bisa berupa pujian ataupun pelukan.

4. Beri anak kesempatan berlatih mengelola emosi

Kesempatan mengekspresikan emosi yang dirasakan dapat membuat anak belajar memilih respon emosi dalam situasi-situasi yang ia alami. Misal, ketika anak sedang bermain puzzle dan belum berhasil menyusunnya, anak bisa saja menunjukkan ekspresi marah yang tidak terkendali. Atau bisa jadi anak berhasil menyelesaikannya setelah beberapa waktu dan mengekspresikannya dengan tertawa bahagia. Di samping itu, ayah dan bunda dapat melatih anak mengelola emosi ketika anak bermain dengan saudara atau dengan teman sebayanya. Semakin sering orang tua memberi anak kesempatan berlatih, semakin terasah pula keterampilan anak dalam mengelola emosi.

5. Konsisten

Konsistensi orang tua dalam merespon dan mendukung anak dapat menguatkan perilaku ekspresi emosinya, Sebaliknya, inkonsistensi yang ditunjukkan orang tua dapat menjadi hambatan bagi anak. Contoh, ketika anak marah, bunda berusaha menenangkan dan mencari tahu sebabnya. Di sisi lain, ketika anak marah, ayah akan membiarkan atau justru menghukum anak. Respon berbeda dari ayah dan bunda dapat membuat anak bingung dan kesulitan mengekspresikan serta mengelola emosinya.

Perilaku orang tua dalam merespon emosi anak menjadi proses belajar tersendiri bagi anak. Dengan membiasakan anak mengenal, memahami, dan mengekspresikan emosi, orang tua membekali anak dengan keterampilan yang dapat digunakan untuk mengelola emosi.


Ada kalanya anak mengalami kesulitan dalam mengendalikan diri dan mengelola emosinya. Pada situasi tertentu yang membuatnya marah, bisa jadi anak menunjukkan perilaku tantrum atau perilaku negatif lainnya. Nah, ayah — bunda dapat membaca tulisan mengenai emosi marah pada anak di artikel berikutnya, ya. Salam sayang. :)



Sumber Bacaan:

Martani, W. (2012). Metode Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Jurnal Psikologi, Vol. 39. №1, Juni 2012: 112–120.

Nurmalitasari, F. (2015). Perkembangan Sosial Emosi pada Anak Usia Prasekolah. Buletin Psikologi Vo. 23 №2, Desember 2015: 103–111.


Supermom App

Blog untuk Super Mom. Sharing is Caring.

Midah

Written by

Midah

Supermom App

Blog untuk Super Mom. Sharing is Caring.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade