Bikin Jeri Pemain Ponzi

Tabloid Kontan Edisi 31 Oktober — 6 November 2016 | Nomor 6 — XXI, 2016

Money game dengan iming-iming keuntungan tinggi seolah muncul setiap hari. Seakan tidak pernah mengenal musim dan tak kenal kata jeri. Satu skema hancur, pindah ke tawaran yang baru lagi. Polanya terus berulang tanpa henti hingga kini.

Tapi sekarang, kita bisa mulai berharap para penjaja skema piramida dan ponzi sedikit demi sedikit bisa dibasmi. Polisi mulai fasih menggunakan senjata yang lebih bertaji. Plus, penggunaan pasal berlapis sehingga ancaman pidananya bakal jauh lebih berat.

Paling tidak, sudah ada dua money game berskema piramida yang sukses dibidik dengan senjata ini. Pendiri Dream for Freedom (D4F) dan Wandermind sudah mendekam di balik jeruji besi. Beberapa tawaran investasi ganjil lain sudah berada dalam sasaran tembak. Tinggal menunggu waktu meledak.

Ingin tahu kasus panjang skema piramida sejak 2012 yang menelan puluhan ribu korban? Bagaimana kronologis pendiri D4F bisa tertangkap? Kasus apa saja yang sekarang ini diincar Otoritas Jasa Keuangan dan Kepolisian? Segera dapatkan Tabloid Kontan terbaru di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, dan Periplus.


Tabloid Kontan terbitan tahun 1997 pernah mengulas di Kolom “Refleksi” tentang kasus dan skema ponzi. Judulnya Muslihat Ponzi yang terbit tanggal 27 Oktober 1997 Edisi Nomor 5 Tahun II. Berikut ini tulisannya:

Keju gratis hanya ada di perangkap tikus. (Pepatah yang lahir di Rusia ketika kasus MMM terbongkar, 1994)

Oleh: Sunan Permana, Markus H. Dipo

Inilah raja diraja atau biangnya penipu. Namanya Charles Ponzi: perantau asal Italia yang pindah ke Amerika pada 1919. Hingga kini nama Ponzi terus dikenang. Sebab, ia identik dengan praktek penipuan universal yang masih terus terulang di mana-mana, sampai sekarang, termasuk di Indonesia. Praktek penipuan sejenis sebenarnya sudah terjadi sebelum Ponzi melakukannya lagi. Namun, nama Ponzi lah yang diasosiasikan orang dengan skema yang mengeksploitasi keserakahan atau kemiskinan manusia itu.

Seperti banyak imigran lain di Amerika pada masa itu, Ponzi terbelit kesulitan hidup. Agar bisa bertahan, ia mulai menawarkan “kesempatan investasi” menguntungkan kepada para investor. Mulanya, cuma US$ 1.250 yang terkumpul. Kegagalan pengumpulan dana memaksanya mengubah strategi menggaet investor. Pada suatu hari, tiga bulan kemudian, ia melapor kepada beberapa investornya, dan menyerahkan US$ 750 per investor, seraya berkata, “Ini lo bunganya.”

Para investor yang kaget dengan bunga yang begitu tinggi langsung menceritakan “sukses besar” investasi tersebut kepada kerabat mereka. Investor baru yang datang menemui Ponzi mendapat janji yang tidak kalah indah: bunga 50% untuk “deposito” cuma dalam jangka waktu 45 hari. Menurut promosi Ponzi, bunga setinggi itu bisa ditanggungnya karena ia ahli berdagang mata uang asing. Beberapa investor perdana betul-betul mendapat bunga 50% yang dijanjikan tersebut.

Bukti pembayaran bunga tersebut- jelas memikat calon investor lain yang berniat mencari keuntu-ngan besar dalam waktu singkat. Mereka tidak sadar bahwa bunga yang dibayarkan Ponzi sebenarnya didanai dari dana baru yang terus masuk. Ponzi menerapkan strategi “gali lubang tutup lubang” untuk memuaskan investor. Sementara itu, Ponzi sudah bisa bersenang-senang dengan sebagian dana yang dikumpulkannya. Kabar sukses tersebut dengan cepat memungkinkan Ponzi mengumpulkan dana investor sebesar US$ 200.000 per hari.

Anda pun jangan-jangan sudah jadi korban

Secara keseluruhan, Ponzi berhasil mengumpulkan dana sekitar US$ 7,9 juta. Akhirnya saatnya tiba, jumlah dana yang masuk sudah tak cukup lagi untuk membayar bunga yang jatuh tempo. Polisi pun akhirnya menangkap Ponzi dengan sisa uang cuma US$ 60 di rumahnya. Dana besar yang dihimpunnya sudah lenyap entah ke mana.

Yang mengagumkan dari muslihat Ponzi adalah keuniversalannya. Skema ini selalu terulang dari masa ke masa. Di Indonesia, kita kenal kasus YKAM atau Haji Ongkowidjojo, penawaran “investasi surat berantai”, dan sebagainya. Di Rusia tahun 1994, kita kenal kasus MMM yang berhasil menguras dana hampir satu miliar dolar dari 10 juta investor. Di Amerika Serikat, dalam tahun 1995 saja, ada lebih dari 100 kasus muslihat Ponzi. Di Rumania, dalam periode 1989–1994, terjadi lebih dari 600 kasus skema Ponzi. Di Albania, skema Ponzi bahkan sempat direstui oleh pemerintah yang berkuasa, sehingga akhirnya menimbulkan kerusuhan politik tahun 1997.

Bisa terulangnya trik penipuan klasik ini tentu ada sebabnya. Pertama, manusia pada dasarnya serakah dan rakus. Harta yang dimilikinya selalu dianggap kurang. Orang lain yang lebih sukses selalu dianggap sebagai acuan yang harus ditiru atau dilampauinya. Rumput di rumah tetangga selalu kelihatan lebih hijau.

Kedua, “kesempatan investasi” seperti skema Ponzi sering kali merupakan satu-satunya harapan bagi rakyat miskin untuk hidup lebih baik. Alasan inilah yang mendorong kesuksesan MMM di Rusia di tahun 1994.

MMM adalah perusahaan investasi di Rusia yang didirikan oleh Sergei Mavrody. MMM dioperasikan seolah-olah seperti reksadana terbuka. “Unit penyertaannya” diperjualbelikan setiap hari oleh MMM dengan investornya. Tapi, MMM menetapkan sendiri harga “unit penyertaannya” bukan berdasarkan nilai aktiva bersih investasi seperti pada reksadana yang benar.

MMM menjanjikan keuntungan 100% per bulan bagi para investor. Iklan “investasi” MMM digelar dengan gencar di televisi. Hanya dalam waktu enam bulan, MMM berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 1 miliar dari sepuluh juta investor. Penguasa Rusia membiarkan MMM merajalela, konon karena “belum ada peraturan yang jelas” mengenai transaksi dan iklan seperti itu.

Karena banyaknya jumlah investor, Sergei Mavrody, pemilik utama MMM, bahkan merasa lebih kuat daripada penguasa Rusia. Ia tidak datang ketika dipanggil oleh Menteri Keuangan. Bahkan, ketika MMM mau ditutup, ia mengancam bahwa 50 juta warga Rusia yang hidupnya terkait dengan MMM tidak akan membiarkan itu terjadi. Investor MMM juga menjadi lebih galak daripada polisi, dan bersikeras menentang usaha penutupan MMM.

Toh, akhirnya hukum ekonomi berbicara. MMM akhirnya tidak memiliki dana yang cukup ketika diserbu oleh investor yang ingin menjual “unit penyertaan”. Kantor MMM diserang oleh polisi dan Mavrody pun ditahan.

Komentar Nina Petrovskaya, pensiunan Rusia berumur 55 tahun sewaktu kasus MMM terjadi, sangat mengusik perasaan: “Uang pensiun saya 61.000 rubel (di bawah Rp 70.000) per bulan setelah bekerja 37 tahun di pabrik. Bisakah Anda hidup dengan uang itu? Tidak, jelas tidak. Tapi pemerintah tidak peduli. Pemerintah tidak pernah peduli jika kita miskin. Pemerintah hanya peduli jika kita kaya. MMM adalah satu-satunya harapan hidupku.”

Sampai di sini, mungkin Anda merasa, “Tak mungkin saya jadi korban tipuan gaya Ponzi. Saya cukup pintar untuk tahu kalau itu cuma muslihat.” Jangan terlalu percaya diri. Artikel minggu depan akan mengulas berbagai inovasi atas skema Ponzi yang ternyata sangat relevan bagi manajer keuangan yang paling hebat sekalipun. Anda mungkin salah satu korbannya.