Deadline Lagi?

Minggu lalu saya meeting dengan klien yang merupakan salah satu distributor gawai terbesar di Indonesia. Singkat cerita, mereka ingin membuat satu aplikasi untuk menunjang bisnis mereka.

Sebelumnya saya sudah tahu ada kesepakatan — antara mereka dan sales, bahwa aplikasi ini akan di-develop selama 3,5 bulan karena ada target yang harus mereka capai. Saya tidak pandai dalam memprediksi apakah ini waktu yang tepat atau tidak, jadi saya tidak bisa berkomentar.

Setelah beberapa pengalaman, saya takut untuk memprediksi hal semacam ini. Terlalu berisiko untuk saya, lagi pula saya sudah yakin memprediksi bukan cara yang tepat dalam software development.

Diawal meeting, saya lebih menjelaskan bagaimana tim saya akan bekerja dan bagaimana menjalin proses koordinasi yang baik dengan mereka. Saat agenda masuk ke dalam pemahaman aplikasi, ternyata apa yang saya takutkan benar terjadi. Klien saya masih didaerah abu-abu. Celaka!

Saya katakan daerah abu-abu, karena ada beberapa fitur yang masih belum mereka ketahui akan seperti apa, bagaimana alur proses-nya, data apa saja yang ingin ditampilkan. Pertanyaan klasik muncul dalam hati saya: Bagaimana bisa menentukan waktu untuk mengukur hal masih tidak diketahui?

Developer bukan mesin

Sebelumnya sering sekali Joshua 스크람 Partogi membahas jika developer bukanlah mesin, tidak bisa diperlakukan seperti mesin. Salah satunya dibawah ini.

Salah satu pimpinan perusahaan tersebut baru saja datang bergabung dengan kami. Tidak lama berselang dia ikut berbicara.

“Jadi kapan aplikasinya jadi? Dua bulan? Soalnya saya baru bisa ngebut kalau aplikasi-nya jadi”

Dari pernyataan tersebut saya sadar bahwa teknologi merupakan hal yang penting. Distributor ini memang bergerak dalam ranah produk teknologi, tapi mereka tidak menghasilkan revenue dari menciptakan teknologi (platform).

“Perkiraan untuk development saja tiga setengah bulan”

“Gak bisa dua bulan? Kalau gitu lu kasih kratingdaeng biar mereka bisa lembur terus”

Kami semua tertawa. Cukup kaget dengan pernyataan itu saya terpancing ikut berbicara.

“Bisa ibu, tapi mungkin ceritanya bisa berubah. Minggu satu ibu kasih kratingdaeng, minggu dua ibu kasih vitamin, minggu tiga tuh bisa-bisa ibu kasih BPJS”

Sontak, kami semua tertawa.

google.com

Menciptakan ekosistem yang lebih baik

Kasus seperti ini seringkali terjadi, pelaku pengembang perangkat lunak terbiasa menyebutnya sebagai Projek Sangkuriang.

Hal ini terjadi karena salah satu akibat tidak ada ekosistem yang baik dalam software development di Indonesia. Klien menganggap teknologi hanya sebagai supporting bukan aset, bisa membeli waktu dengan uang, membuat software itu pekerjaan yang mudah, developer hanyalah kuli kode, dan banyak hal lainnya.

Saya sangat yakin banyak sekali orang diluar sana yang memimpikan ekosistem software development yang kondusif sama seperti saya. Pekerjaan ini tidaklah mudah, banyak hal yang harus diperbaiki, banyak elemen yang harus di-edukasi, tapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan.

Saya sungguh berharap Scrum Day Bandung 2017 bisa menjadi salah satu alat untuk mempertemukan pelaku bisnis dan pelaku pengembang perangkat lunak belajar bersama bagaimana menciptakan ekosistem software development yang kondusif di Indonesia.


Make sure, you will be the part of this movement.
Visit www.scrumdaybandung.com

Like what you read? Give Filipus Tian a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.