
Pelajaran Kehidupan dari Programming
Programming bikin manusia jadi paham kehidupan? Bisa jadi!
Coba tebak, apa saja hayo manfaat belajar programming bagi manusia?
Jadi pinter? Bisa jadi.
Bisa bikin aplikasi cetar, canggih, serta membahana? Sabii.
Dapet kipas-kipas duit buat modal nikah? Xixi. Why not?
Namun, lebih dari itu, terselip manfaat-manfaat yang dapat menempa pelajarnya semakin memaknai kehidupan (ecie).
Ini seperti yang dialami CEO Techlab, Restu Arif Priyono, seusai menggembleng dirinya sekian lama dalam belantara programming. Lika-liku kehidupan programming akhirnya tersarikan dan membekas dalam dirinya, di antaranya
—
Tahu bagaimana sistem bekerja
Lewat programming, kita dapat menyelidiki bagaimana suatu sistem bekerja. Kita belajar memahami input, proses, serta output dari sebuah sistem. Dari sini, kita belajar meng-improve sebuah sistem (apapun itu) untuk berjalan lebih baik lagi.
—
Lebih mudah memodelkan masalah
Ketika seseorang belajar programming, maka kemungkinan besar ia akan kenalan dengan istilah object-oriented programming (OOP); queue; prosedural; dan algoritma.
Seperti misal; OOP bertujuan untuk mempermudah pengembangan program dengan cara mengikuti model yang telah ada di kehidupan sehari-hari. Setiap bagian dari suatu permasalahan adalah objek. Objek itu sendiri dapat merupakan gabungan dari beberapa objek yang lebih kecil lagi.
Ini dapat memudahkan kita lho, untuk memecah sebuah masalah; hingga tahu sehimpunan akar masalah dari sebuah masalah.
Misal, kenapa ibu marah hari ini? Oh, karena anaknya bangun telat; harga cabai naik; dan ayah lupa memberi uang bulanan. He he. Dari sini kan kita bisa tahu, apa yang bisa kita lakukan agar senyum Ibu tampak lagi di wajahnya. :’)
Queue adalah logika programming yang menggunakan prinsip First In, First Out (FIFO). Artinya data yang pertama kali masuk maka data itulah yang akan pertama kali keluar/dieksekusi. Dari sini, kita bisa belajar tertib untuk menelaah masalah.
—
Melatih berpikir sistematis dan detail
Saking rinci dan sakleknya aturan dalam programming; maka tergiringlah murid untuk berpikir lebih sistematis. Masing-masing penyusunan logika memliki output yang berbeda. Beda ketak-ketik dikit, keluarannya bisa beda.
Etos berpikir sistematis dan peduli detail ini dapat bermanfaat bagi konteks kehidupan lainnya.
Misal, kamu adalah ketua dari acara penggalangan dana. Dengan menyusun acara dengan rapi; serta berkemauan menelaah detail konsep dan keperluan yang dibutuhkan — maka kurang lebih acara akan berjalan baik.
Yah, setidaknya lebih baik daripada acara yang tak disusun sistematis dan detail, kan?
—
Menghargai pendapat orang yang beragam
Kata siapa belajar programming bikin kita makin anti-sosial? Justru, semakin jago programming, skill empati berpotensi kian terasah!
Mengapa? Ini karena dalam programming, penyelesaian satu masalah dapat dientaskan via ragam solusi.
Seperti misal masalah mengatasi kemiskinan. Ada orang yang berpendapat caranya adalah melalui pendidikan gratis bagi anak-anak tidak mampu. Atau memilih kepala daerah yang peduli nasib rakyat kecil. Atau pemberdayaan usaha kecil menengah bagi ibu-ibu.
—
Nah, begitu kira-kira pelajaran kehidupan yang didapat dari programming. Luas sekali bukan dampaknya?
Bukan tidak mungkin bagi kamu yang akhirnya belajar programming — menemukan pelajaran-pelajaran kehidupan lain yang nggak kalah seru!***
Sumber tambahan:
http://ketawa.damai.id/2015/10/14/apa-itu-oop/
http://masiyak.com/queue-antrian-di-struktur-data/

