Ahli Komputasi: Anak Perempuan Usia Dua Belas Tahun Sudah Harus Belajar Koding

“Memulai belajar lebih awal akan mendorong perempuan untuk menjadi programmer yang handal dan mengurangi stereotip gender,” ungkap Stephanie Shirley.
Anak-anak muda berumur dua belas tahun, harus sudah diperkenalkan pada dasar-dasar pemrograman, menurut salah satu ahli komputasi paling terkemuka di Inggris, Dame Stephanie Shirley.
Dame Stephanie Shirley, yang perusahaannya merupakan salah satu perusahaan yang pertama kali menjual perangkat lunak pada tahun 1960an, mengatakan bahwa melibatkan anak-anak yang sangat muda — khususnya anak perempuan — dapat memicu hasrat akan teka-teki dan pemecahan masalah.
Pembelajaran pemrograman dasar pada usia dini memang dirasa optimal karena pada usia antara lima hingga dua belas tahun, anak memasuki fase dimana mereka mudah dalam mempelajari sesuatu. “Dalam arti, tahun-tahun itu adalah yang terbaik untuk belajar sesuatu dan menekankan bahwa pemrograman [tidak] terbentuk dalam pikiran Anda sebagai sesuatu yang culun atau kutu buku,” ungkapnya.
Shirley juga meminta perusahaan teknologi, seperti Google dan Facebook, untuk menerapkan perekrutan anonymous untuk membantu mengatasi kurangnya programmer wanita. Hanya 20% insinyur Google adalah perempuan dan satu laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa pendiri laki-laki hampir dua kali lebih mungkin untuk menarik dana modal ventura.
Pemrogram, menurutnya, harus dinilai berdasarkan keahlian, sama seperti sekretaris yang diberi tes pengetikan. “Anda tidak mengirim foto, Anda tidak memberi nama, Anda hanya melihat prestasi orang tersebut sebagai proses seleksi,” katanya.
Dia menggambarkan memo internal baru-baru ini oleh seorang mantan insinyur Google yang menjelaskan bahwa kegagalan untuk mengatasi kesenjangan gender telah menyebabkan budaya “sangat macho” di beberapa perusahaan teknologi, yang maka dari itu perempuan merasa dikecualikan.
Shirley membandingkan hal ini dengan etos di perusahaan pertamanya, Freelance Programmers, yang pada 1960-an termasuk di antara yang pertama menjual paket perangkat lunak teknis. Dari 300 staf pertama, dia mempekerjakan hanya tiga pemrogram pria dan rasio gender hanya bergeser secara signifikan saat Undang-Undang Diskriminasi Seks diloloskan pada tahun 1975.
Shirley sebelumnya telah berbicara tentang seksisme yang dia hadapi pada masa mudanya yang bekerja dalam ranah komputasi “Perusahaan yang dijalankan oleh perempuan masih memiliki kesulitan yang luar biasa dalam mendapatkan modal ventura,” katanya.
Dia juga khawatir bahwa kurangnya keragaman gender dalam ranah teknologi menyebabkan produk lebih condong ke maskulinitas didalamnya.
“Contoh maskulinitas industri ada di jam tangan Apple saya,” katanya. “Ini memiliki banyak hal berguna seperti denyut jantung tapi tidak membantu dalam mengetahui siklus menstruasi,” ungkapnya.
Sumber: Dirangkum dari theguardian.com

