Canggih! Gunakan Teknologi AI, Kini Cuaca Ekstrem Bisa Diprediksi

Titan Haryawan
Aug 25, 2017 · 2 min read
Foto: bmkg.go.id

Saat ini para peneliti telah mengembangkan tentang kegunaan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) dalam mempelajari data pemanasan global. Tujuanya, ialah untuk memilih-milih sejumlah informasi iklim, dengan harapan mengingkatkan keakuratan perkiraan.

Dalam teknologi AI, sistem tersebut dapat meningkatkan kinerja karena jumlah data yang mereka analisis rata-rata menunjukkan kebenaran. Para periset berharap semua data ini akan bertemu bulan depan di Boulder, Colorado, untuk menilai keadaan sains di lapangan yang dikenal dengan iklim informatika.

Sebagian periset yang bekerja di daerah ini telah berkembang dengan pesat. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah menggunakan sistem AI untuk membantu menentukan model iklim, siklon spot dan kejadian cuaca ekstrem lainnya, baik dalam data iklim nyata maupun sebuah model, AI juga dapat mengidentifikasi pola iklim baru.

Untuk cara kerja kecerdasan buatan ini ialah algoritma komputer konvensional bergantung pada pemrogram yang memasukkan rim peraturan dan fakta untuk memandu keluaran sistem. Sistem pembelajaran mesin dan subset, sistem pembelajaran mendalam, yang mensimulasikan jaringan syaraf yang kompleks di otak manusia, lalu mendapatkan peraturan mereka sendiri setelah menyisir sejumlah besar data.

Para periset pada 2016, melaporkan penggunaan pertama sistem pembelajaran mendalam untuk mengidentifikasi siklon tropis, sungai atmosfer dan daerah cuaca, sebuah fitur yang didefinisikan secara longgar untuk diidentifikasi tergantung pada penilaian ahli. Hal itu menunjukkan bahwa algoritma tersebut bisa mereplikasi keahlian manusia.

Kini tim yang berbasis di Lawrence Berkeley National Laboratory (LBNL) di California, berharap bisa menggunakan teknik serupa untuk mempelajari semua jenis kejadian ekstrem, termasuk yang belum teridentifikasi.

Tujuan utama peneliti adalah untuk menilai dan memprediksi dengan lebih baik bagaimana peristiwa ini bergeser dalam menghadapi perubahan iklim.

Meski demikian, beberapa algoritma AI terbukti berguna untuk peramalan cuaca. Sebelumnya, dalam tes 2016, sembilan ahli meteorologi dari Dinas Cuaca Nasional AS memilih untuk menggunakan algoritma AI pada sekitar 75% perkiraan durasi badai saat diberi pilihan antara AI dan metode konvensional.

Peneliti utama studi ini yakni ilmuwan komputer Amy McGovern dari University of Oklahoma di Norman, sekarang berencana untuk menggabungkan algoritma AI ke dalam ramalan hujan es pada layanan cuaca.

Seperti dilansir dari NATURE , Kamis (24/8/2017). Sebagian besar ahli iklim masih menggunakan metode konvensional untuk menganalisis data mereka, tetapi kini telah berubah. Mereka lebih mempercayai AI sebagai acuan utama dalam tugas mereka, dan berharap, AI akan terus berkembang dan memprediksi peristiwa yang akan datang.

Sumber: Dirangkum dari okezone.com

Teknologi.id

Menggali potensi teknologi Indonesia

)
    Titan Haryawan

    Written by

    Teknologi.id

    Menggali potensi teknologi Indonesia

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade