Belajar Memperbaiki, Tidak Mengganti

Sesuatu yang sudah rusak atau sesuatu yang sudah tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan memang lebih mudah jika diganti. Tidak perlu repot-repot lagi mengurusi sesuatu yang rusak, ganti dengan yang baru, dan well semuanya berjalan lancar kembali, berfungsi sebagaimana mestinya lagi. Mudah bukan?

Tapi tahukah kawan, mentalitas yang “mudah mengganti” adalah sebuah mentalitas yang kurang baik untuk diterapkan dalam banyak aspek kehidupan kita. Karena tidak semua yang telah rusak harus benar-benar diganti. Ada saatnya kita harus belajar memperbaiki apa yang telah rusak. Karena ada beberapa hal dalam hidup kita yang serusak apapun itu, kita tidak bisa begitu saja menggantinya.

Pernahkah kamu memiliki sebuah mainan kesayangan, kemudian mainan itu rusak? Apakah lantas kamu menggantinya? atau mencoba memperbaikinya? Apapun jawabannya, baik itu menggantinya dengan yang baru atau memperbaikinya, dalam hal mainan kesayangan itu tidak masalah, karena kita hanya berhubungan dengan sebuah benda yang mati, yang tidak memiliki ego dan hati. Ya, walaupun mungkin akan lebih hemat jika kita belajar untuk memperbaikinya. Namun, jika kita memiliki sebuah hubungan, misalkan persahabatan atau percintaan, karena kesalahpahaman akhirnya hubungan kita menjadi renggang dan tidak baik lagi. Apakah kita akan menggantinya dengan yang lain dan membuang saja hubungan yang sudah mulai rusak itu? Itulah sebabnya, kita harus belajar bagaimana memperbaiki sesuatu yang rusak dan tidak serta merta mengganti.

Dikarenakan memperbaiki itu sulit, maka dalam hal apapun, orang yang mampu memperbaiki selalu akan berada di level yang lebih tinggi. Orang yang mampu memperbaiki, dalam hal apapun itu, pastilah orang yang telah benar-benar mengerti tentang seluk beluk sesuatu yang mampu ia perbaiki. Seorang montir, tentu sudah paham betul tentang mesin kendaraan, mangkanya ia mampu memperbaiki. Seorang tekhnisi tentulah paham betul tentang bagaimana komputer bekerja, sehingga dia mampu memperbaikinya. Orang yang mampu memperbaiki akan selalu berada di level yang lebih tinggi dari pada orang-orang oada umumnya dalam bidang tersebut.

Ini bukan tentang bagaimana saya mengajak untuk menjadi montir atau tekhnisi. Tidak. Saya hanya mengapresiasi, bahwa itu adalah sebuah skill yang baik. Memperbaiki adalah sebuah seni yang bisa dipelajari.

Terkait hubungan kita dengan sesama kita, memperbaiki adalah sebuah skill yang harus dimiliki siapa saja, terutama bagi para pemimpin. Pemimpin yang mudah mengganti, tentulah pemimpin yang tidak mau belajar. Karena salah satu tugas pemimpin adalah memastikan bahwa semuanya terkendali dan berjalan sebagaimana mestinya. Dan jika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka tugas pemimpin adalah memperbaikinya.

Memperbaiki itu memang sulit kawan, diperlukan pengetahuan, wawasan bahkan keterampilan. Sedangkan mengganti itu sangat mudah, asalkan kita memiliki modal untuk menggantinya maka kita bisa menggantinya. Sering kali saya pun terjebak dengan keinginan untuk mengganti sesuatu yang sudah tidak ideal menurut saya. Ingin sekali rasanya memulainya dari awal dengan sesuatu yang lain, sepertinya akan lebih mudah dan akan baik kedepannya. Namun, setelah saya pikirkan baik-baik, itu seperti pecundang yang kabur dari masalah saja. Bukankah sesuatu yang rusak itu adalah bumbunya kehidupan yang harus dihadapi dan diselesaikan, bukan untuk ditinggalkan. Bukankah itu seperti sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Memang ada beberapa hal yang ketika ia rusak, kita tidak bisa lagi memperbaikinya. Dan kalaupun diperbaiki, hasilnya akan mengurangi ke-optimalan kerjanya atau bahkan merusak tatanan yang lain. Jika memang sudah demikian, maka barulah mengganti dengan yang baru akan menjadi lebih dibutuhkan. Jika memang harus benar-benar diganti, maka gantilah. Namun, jika sesuatu masih bisa diperbaiki, maka perbaikilah, janganlah mudah memutuskan untuk mengganti.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Kresna Galuh D. Herlangga’s story.