Dinamisnya Pemikiran Kita

Sering kali ada sebuah pernyataan seperti ini “Dulu dia statmentnya gini, kok sekarang statmentnya gitu sih? Nggak konsiten banget jadi orang!”. Secara sepintas sepertinya pernyataan itu sah-sah saja dan benar adanya. Tapi kalau dipikirin ulang rasanya ada yang janggal deh. Tau nggak janggalnya kira-kira dimana?

Kejanggalannya adalah dengan pernyataan tersebut seolah kita menginginkan pemikiran itu kaku, beku, diam di tempat dan tidak berkembang. Bagaimana tidak, setiap saat pemikiran kita berkembang, setiap saat kita mendapat informasi baru dan setiap saat kita belajar. Jadi sebenarnaya wajar saja menurut saya jika pemikiran kita terkadang berubah. Ya, pemikiran itu dimanis kawan.

Pernah nggak kamu ngerasa dulu sepertinya saya berpendapat bahwa yang bener adalah A, tapi kok sekarang saya ngerasa yang bener adalah B? Kalau saya sih sering. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Jawabannya balik lagi ke atas. Informasi yang saya terima bertambah, pemahaman yang saya dapat melebar, pengalaman saya bertumbuh dan sudut pandang saya meluas. Ya saya belajar. Mungkin saja dulu mengapa saya merasa yang benar adalah A dan yang salah adalah B, karena dulu informasi saya tentang B yang terbatas. Boleh jadi dulu saya salah dalam memahami B. Boleh jadi ada sudut pandang lain yang belum saya lihat sehingga membiaskan makna A dan B. Dulu saya mengangap A yang benar mungkin karena pengalaman saya saja yang terbatas tentang A. Akhirnya setelah sekarang saya memiliki informasi yang lebih tantang A dan B, memiliki sudut pandang yang lebih luas, memiliki pemahaman dan pengalaman yang lebih banyak tentang A dan B barulah saya tau bahwa ternyata B lebih baik dari A.

Bisakah hal tersebut terjadi? Ya jelas bisalah. Misalnya dulu kamu ingin menjadi pengusaha karena kamu ngerasa pengusaha adalah orang bebas. Dengan menjadi pengusaha kamu bisa menentukan sendiri waktu kerjamu. Kamu bisa bekerja sesuai dengan passion kamu. Dan kamu ngerasa hanya dengan menjadi pengusahalah kamu bisa merasakan bebas finansial. Akhirnya kamu memutuskan untuk menjadi pengusaha. Kamu belajar tentang bagaiamana berbisnis dan berbagai ilmu yang dibutuhkan untuk itu. Sampe akhirnya misalnya kamu ngerasa kok ketimbang pengusaha, rasanya negeri ini lebih butuh guru ya. Terlebih jiwa nasionalismemu semakin tumbuh. Rasa empatimu pun tumbuh. Yang sebelumnya fokus kamu adalah diri sendiri, sekarang karena wawasanmu bertambah dan sudut pandangmu meluas kamu melihat ada sesuatu yang lain yang sebelumnya tidak kamu lihat, yaitu masalah pendidikan. Misalnya. Akhirnya kamu ngerasa, oke pengusaha memang bagus, tapi rasanya saya lebih memilih menjadi guru aja. Saya ingin mengabdikan diri demi ibu pertiwi untuk menjadi seorang praktisi pendidikan. Sekali lagi ini cuma misal ya. Kalau ada kesamaan kisah, jangan anggap saya peramal ya. Intinya saya mau bilang, perubahan pola pikir itu sangat sangat mungkin untuk terjadi.

Karena bagi saya pemikiran itu hanya mungkin stagnan, diam di tempat dan tidak mengalami perubahan hanya jika kita tidak belajar. Hanya jika informasi yang kita terima tidak bertambah mungkin saja pemikiran kita masih sama dengan 10 tahun yang lalu. Tapi apa gunanya? Bukankah hidup itu belajar?

Mungkin saja kalau saya yang sekarang bisa bertemu dengan diri saya 5 tahun yang lalu saya nggak akan akur. Boleh jadi perdebatan sengit akan terjadi dalam berbagai aspek. Bagaimana tidak, selama 5 tahun boleh jadi saya telah melihat banyak hal yang 5 tahun yang lalu tidak saya lihat.

Mangkanya aneh kalau ada orang yg selalu mempertanyakan gini “kamu kok beda sekarang ya, nggak kayak dulu?”. Jawabnya ya iyalah, kita semua kan belajar. Kita semua kan berkembang. Kecuali kamu tetap ingin diam di tempat, kalau saya sih nggak mau.

Saya bukan ahli sejarah, so, koreksi saya jika keliru. Dulu menjelang kemerdekaan Indonesia, tahun 1945. Berdasarkan versi sejarah yang saya baca, katanya Soekarno dan Hatta itu bahkan beberapa hari sebelum 17 Agustus 1945 masih beranggapan bahwa belum saatnya untuk memproklamirkan kemerdekaan, karena Jepang lagi gonjang ganjing habis dibom atom oleh sekutu. Tapi para pemuda ngotot berpendapat inilah waktu yang tepat. Kaum muda yang ingin buru-buru merdeka, dan kaum tua yang lebih santai berdebat. Dan Soekarno dan Hatta adalah termasuk kaum tua, dan mereka ngotot nggak mau memerdekaan sekarang, belum pas waktunya katanya. Tapi akhirnya seperti yang kita tau bersama, toh akhirnya Soekarno dan Hatta berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut kaum muda, memproklamirkan kemerdekaan. Coba bayangkan apa jadinya jika Soekarno dan Hatta tetep ngotot dengan pemikirannya dan nggak mau nerima sudut pandang baru? Mungkin aja Indonesia nggak akan seperti yang kita kenal sekarang.

Sekali lagi pemikiran itu dinamis kawan. Mungkin saja apa yang kita yakini saat ini akan menjadi sesuatu yang kita lupakan esok hari. Mungkin saja apa yang kita suka hari ini, adalah sesuatu yang justru kita benci 10 tahun yang lalu. Selayaknya hidup yang terus bergerak dalam poros yang dinamis, begitu pun pemikiran. So, selama bukan dalam ranah komitmen, menurut saya berubah haluannya sebuah pemikiran adalah hal yang wajar-wajar saja. Itu justru menandakan kita berkembang. Plin plan? Bukan. Plin plan adalah tidak bisa menentukan pilihan dan tidak punya pegangan. Apa yang saya bicarakan di sini bukan dalam ranah komitmen, tapi dinamisnya pemikiran. Kalau dalam konteks komitmen, maka saya adalah orang yang sangat setuju bahwa kita harus memegang komitmen yang telah kita buat. Jika kita memilih untuk berkomitmen A, maka segala resikonya harus siap kita terima. Tapi jika kita berbicara dalam ranah berpikir, maka buah pikiran itu dinamis. Berkembang dan terus berkembang, berbanding lurus dengan informasi, pelajaran, pemahaman, sudut pandang, wawasan yang kita terima. Itu.

Jika kamu punya pendapat berbeda tentang hal ini, silahkan tulis saja di kolom komentar ya, saya akan sangat senang sekali bisa berbagi sudut pandang dalam sebuah diskusi yang baik :D

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Kresna Galuh D. Herlangga’s story.