Persepsi Kematian dan Pembebasan dari Program Amnesia Manusia

Banyak hal di dunia ini sering kali kita sikapi berbeda dari sebelumnya tepat setelah kita mampu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Hal tersebut bisa terjadi karena sejatinya apa yang kita lakukan bergantung pada apa yang kita pahami, sedangkan apa yang kita pahami sangat erat kaitannya dengan bagaimana dan dari sudut mana kita menandang. Tidak sedikit sudut pandang yang berbeda menghadirkan sikap dan tindakan yang berbeda bahkan boleh jadi bertolak belakang.

Dan saat ini saya ingin membahas tentang sesuatu yang menarik, yaitu persepsi tentang kematian. Sedikit ada kesan menyeramkan, tapi sebenarnya nggak. Saya hanya membahas dari sisi cara pandang saja kok, bukan tentang mistis. Karena seperti pada umumnya sesuatu yang lain, cara pandang kita terhadap kematian pun mempengaruhi sikap kita. Ini belum tentu tepat, tapi beberapa pemahaman ini sedikit banyak memperngaruhi saya saat ini dalam melihat sebuah kematian.

Terkait alam pasca kematian, tentu kita tidak bisa membuktikannya, karena satu-satunya pembuktiannya adalah dengan mati itu sendiri. Apa yang mungkin bisa kita amini adalah dari apa yang diajarkan oleh agama kita masing-masing. Setiap agama dan kepercayaan memiliki konsep pasca dunia yang berbeda-beda. Islam memiliki konsep pasca dunia yang berbeda dengan Kristen, begitu pula dengan agama lainnya. Dan dalam hal ini saya tidak akan membahas tentang itu, bagaimana prosesnya, apa saja tahapan setelahnya atau dunia bagaimana yang ada setelahnya. Itu di luar konteks tulisan saya saat ini. Dan karena saya seorang muslim, maka konsep yang saya amini adalah konsep Islam, dimana ada alam lain yang akan kita masuki setelah kita melewati garis kematian. Tapi sekali lagi saya tidak akan membahas hal tersebut, itu bukan konteks tulisan saya saat ini.

Apa yang saya tulis pada kesempatan kali ini, hanyalah imajinasi bebas saya saja dan tentu saja belum bisa dibuktikan kebenarannya. Karena saya belum pernah mati. Ini hanyalah sebatas persepsi saya yang ingin saya share kepada para pembaca. Tidak ada keharusan temen-temen pembaca mengamini persepsi saya. Jika temen-temen punya persepsi lain terkait ini, sepertinya akan menarik jika disampaikan di kolom komentar, agar saya bisa melihat sudut pandang baru yang mungkin menarik untuk dibahas atau didiskusikan.

Satu hal terkait kematian yang kita sepakati bersama hampir di semua keyakinan dan agama, kematian adalah ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Ketika kita mengalami kematian, artinya kita sudah selesai dengan format biologis kita sebagai manusia. Apa yang terjadi setelahnya? Silahkan baca kembali paragraf 3. Yang pasti mati akan memisahkan kita dengan alam dunia kita saat ini. Raga kita membusuk dan tak berfungsi. Kesadaran kita tak lagi bisa berinteraksi secara langsung dengan yang masih hidup seperti sebelumnya.

Selama ini kita (atau mungkin lebih tepatnya saya) melihat “kematian” sebagai sebuah chaos yang menakutkan, mengerikan, dan jika seorang mendapatkannya seolah sebuah musibah besar yang menimpanya. Kematian berarti akhir dari kehidupan. Ya kita (saya) melihat kematian sebagai sebuah akhir. Akhir dari semua perjuangan di dunia. Akhir dari sejarah. Akhir interaksi dengan keluarga dan orang yang dicintai. Karena itu yang terlihat secara fisik. Namun bagaimana jika sebenarnya kematian adalah sebuah proses PEMBEBASAN?

Apa yang saya maksud dengan pembebasan? Saya akan coba bahas sedikit demi sedikit.

Saya pernah membaca dari beberapa sumber, bahwa orang utan yang sejak kecil dilindungi dalam suaka, dan tinggal bersama manusia, mereka cenderung takut ketika dibawa ke hutan. Karena biasa bersama manusia dan mendapatkan semua kebutuhannya dari manusia, mereka jadi lupa bahwa sebenarnya rumah alaminya adalah hutan. Bahkan ketika dia di bawa ke rumah alaminya yaitu hutan, mereka malah histeris dan takut serta menganggapnya sebagai sebuah hal yang mengerikan. Mereka tak lagi merasa hutan sebagai rumahnya. Mereka menganggap hutan adalah dunia asing yang baru.

Dari sudut pandang orang utan yang tinggal di hutan, mungkin akan aneh ketika melihat teman-temannya ketakutan masuk hutan dan malah betah tinggal di kandang dengan kurungan. Bagaimana tidak, dunia baginya adalah kebebasan, tinggal di hutan bersama alam. Dia melihat dari sudut pandang lain yang nggak bisa dijangkau oleh orang utan yang tinggal di dalam kurungan atau suaka. Sedangkan dari sudut pandang orang utan yang tinggal di kurungan, lepas dari kandang atau suaka adalah berbahaya dan tanpa jaminan. Hutan baginya adalah asing. Definisi kenyamanan tinggal di hutan bersama alam tidak ada di kamusnya, karena sudut pandangnya terbatas dan dia terbiasa dengan itu. Boleh jadi seandainya dia dilepas ke alam, mungkin di kemudian hari dia akan mensyukuri hal tersebut malah mungkin akan menertawakan dirinya sendiri yang tidak mau dilepas di hutan.

Ini fiksi, tapi kurang lebih gambarannya serupa. Buat kamu yang pernah nonton film ini mungkin akan lebih mudah memahaminya. Film ini berjudul RIO yang tayang tahun 2011 lalu. Berkisah tentang seekor burung macaw biru bernama Blu. Sejak kecil Blu tinggal bersama manusia (Linda) dalam sangkar. Blu sudah sangat nyaman tinggal dengan formatnya yaitu tinggal bersama Linda. Karena sejak kecil dalam sangkar dan hidup bersama Linda, Blu bahkan tidak sadar bahwa sebenarnya dia punya sayap yang bisa digunakannya untuk terbang, ya Blu si burung macaw biru tidak bisa terbang. Suatu saat keadaan memaksanya untuk jauh dari Linda dan berada di alam, dan Blu bertemu dengan burung macaw betina bernama Jewel yang notabene memang hidup di alam dan terbiasa dengan terbang. Blu bingung melihat Jewel yang bisa terbang dan tinggal di alam, pun demikian Jewel bingung mengapa ada burung bodoh yang mau-maunya tinggal dalam kurungan dan nggak sadar bahwa dirinya bisa terbang dan nggak sadar bahwa ada dunia lain selain sangkarnya yang jauh lebih indah.

Dari sudut pandang Blu, ketika dia harus keluar dari sangkarnya dia merasa dia keluar dari kehidupan normalnya. Hal tersebut terjadi karena Blu sudah terlalu lama tinggal dalam format peliharaan, sehinga dia merasa dunianya adalah di dalam sangkar.

Mungkin seperti itu juga dengan kita. Karena terlalu lama tinggal dalam bentuk fisik kita, dan kita dibuat amnesia, kita jadi merasa rumah kita adalah alam kita yang ini. Kita menjadi sangat takut dan merasa berakhir segalanya ketika tiba kematian dan harus memasuki alam yang lain. Padahal boleh jadi sebenarnya alam kita yang ini adalah alam penjara kita yang membatasi kita. Terkurung dalam dimensi ruang dan waktu. Dan kematian adalah proses kembalinya ingatan kita setelah sekian lama dibuat lupa, dan dibebaskan dari penjara keterbatasan bentuk fisik kita yang terkurung dalam dimensi ruang dan waktu.

Mungkin saja kematian sebenarnya hanyalah sebuah proses keluarnya kita dari suaka, menuju rumah alami kita, alam yang lain yang tak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Seandainya demikian, mungkin saja persepsi kita terhadap kematian akan berbeda. Tak lagi menyeramkan, tak lagi menakutkan, hanya sebuah proses terbentuknya kembali kesadaran.

Dalam hal ini saya berbicara dalam konteks kematian bukanlah akhir. ianya hanyalah proses pembebasan kita dari penjara fisik dan amnesia kita. kembali kepada kesadaran sepenuhnya. Jembatan yang menghubungkan kita dengan alam selanjutnya. Tapi bukan berarti kita harus mengusahakan kematian untuk itu. Mengapa kita dijadikan amnesia dan mengapa kita diinstal kesadaran untuk takut terhadap kematian pun mungkin karena ada alasan mengapa kita hidup di dunia ini, yang artinya ada aturan-aturan khusus yang harus kita jalankan selama di dunia, sambil menunggu kita dibebaskan.

Menurut saya persepsi seperti ini cukup membantu dalam menjalani kehidupan, terutama bagi saya yang seorang muslim. Dengan menganggap bahwa dunia ini hanyalah suaka, dan bukan rumah alami kita, hati kita menjadi tidak terkait semata hanya untuk dunia ini. Kita akan merasa bahwa suatu saat kita akan menyebrang (mati) memasuki alam lain yang merupakan rumah alami kita. Sehingga kalaupun kita harus mempersiapkan segala sesuatu, maka kita akan memberikan porsi yang bijak untuk persiapan penyebrangan kita.

Dan dengan menganggap kematian adalah sebuah jembatan, pembebasan dari program amnesia di dunia. Kita tidak akan terlalu takut dalam menghadapi kematian. Karena boleh jadi kita takut saat ini, karena kita belum tahu apa sebenarnya yang akan kita jalani setelah menyebrang nanti. Boleh jadi sudut pandang kita sangat berbeda ketika kita telah menyebrang nanti. Persis seperti kasus orang utan dan burung macaw tadi. Kita melihat kematian begitu menakutkan karena kita telah terbiasa hidup dengan format fisik kita saat ini. Padahal boleh jadi kematian adalah proses pembebasan kita dari format saat ini menuju format baru yang mungkin sebenarnya adalah format alami kita, hanya saja karena kita amnesia dan terbiasa dengan format yang lama, sudut pandang kita menjadi terbatas.

Dengan persepsi ini juga, kita nggak akan menganggap orang-orang yang telah meninggal, telah berakhir hidupnya. Mereka masih ada, mereka hanya telah disadarkan terlebih dahulu dari alam ini. Mereka nggak hilang, nggak juga berakhir, mereka hanya dibebaskan dari bentuk fisik serta dimensi ruang dan waktu saja dan kembali dipulihkan kepada kesadaran penuhnya. Mereka hanya dicukupkan masa jabatannya dari format sebagai manusia.

Tapi paling tidak dengan persepi ini saya tidak lagi dipusingkan dengan proses kematiannya. Dulu sering kali saya khawatir bagaimana cara saya mati, apakah ditabrak kereta api, terbakar, jatuh ke jurang, tertusuk, karena sakit atau yang lainnya. Padahal proses kematian hanyalah terjadi dalam sepersekian detik. Kematian hanyalah sebuah proses penyebrangan untuk memasuki alam yang baru. Dipikirkan atau tidak itu adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan kita hadapi. Seharusnya yang kita pikirkan bukanlah bagaimana proses kematiannya, itu murni hak Allah, namun yang harus kita benar-benar pikirkan adalah apa bekal yang akan kita bawa untuk proses penyebrangan ini dan apa yang kita hadapi setelahnya. Semoga dengan ini kita (saya) menjadi lebih mendalami makna bahwa dunia ini hanya sebuah persinggahan, sebuah suaka yang akan ditinggalkan ketika waktunya sudah dicukupkan. So, dengan itu kita jadi sadar bahwa waktu yang telah diberikan harus benar-benar kita mnafaatkan sebaik-baiknya untuk mencari bekal. Wallahu a’lam bishawab.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Kresna Galuh D. Herlangga’s story.