Banjir dan Ritus Orang Urban

Mereka cuma sekumpulan orang desa yang numpang cari makan dihamparan beton-beton pembangunan.


Agak berlebihan memang judul yang saya gunakan. Banjir saya kaitkan dengan kata “ritus” yang dalam arti KBBI berarti: upacara keagamaan. Terlebih lagi saya menggunakan frase “Orang Urban” yang sekiranya tidak lazim digunakan untuk menyebut mereka yang bermigrasi ke kota dalam skema urbanisasi. Mengapa saya menggunakan judul tersebut dalam tulisan ini? Saya pun mungkin bingung jika ditanya demikian. Tapi percayalah, saat Anda selesai membaca tulisan ini (mungkin) Anda akan paham apa maksud saya.

Van Gennep melihat seorang manusia dari hidupnya tak akan lepas dari pengaruh orang-orang disekitarnya. Upacara peralihan merupakan salah satu proses daur hidup yang mesti dilalui seseorang guna mencapai kemajuan tingkatan dalam hidup seseorang. Ia namai “Rites de Passage” sebagai suatu ritus yang menggiring setiap perubahan tempat, keadaan, status, dan lain hal ke dalam tiga tahapan. Yakni perpisahan, margin, dan aggregation. Kurang lebih hal demikian juga diamini oleh Victor Turner dalam melihat siklus daur hidup manusia saat menengok upacara peralihan. Turner memiliki mendefinisikan tahapannya dalam tiga langkah: seperation, liminal, dan reintegration.

Mudahnya, saat manusia akan memasuki tahapan selanjutnya dalam proses hidupnya atau ber-inisiasi, ia akan melalui tiga tahapan. Pertama ia akan “dihilangkan” status terdahulunya, diberi “wejangan-wejangan” tentang hak dan kewajiban dan beberapa petunjuk ritual inti, dan terakhir ia secara resmi dianggap terlahir kembali menjadi manusia yang baru dan lepas dari masa lalunya.

“Orang Urban” dalam tulisan ini ialah mereka yang melalukan urbanisasi dari desa ke kota. Tujuannya jelas, merantau untuk mencari nafkah. Bagi saya, orang-orang inilah yang juga telah melakukan proses “inisiasi” atau peralihan dalam hidupnya. Seseorang tersebut yang dalam tahapannya telah melalui tiga tahapan: 1. Meninggalkan kehidupannya di desa, 2. Pergi ke Jakarta sebagai orang baru dan berusaha keras memperoleh pekerjaan, dan 3. Maka jadilah“Orang Urban”. Dan mungking, sebagai pelengkap “Orang Urban”, ia akan di akhir pekan berlibur ke puncak Bogor atau ke Bandung sekedar belanja-belanja dan menghilangkan penat.

Dan seperti kita ingat, dalam proses daur hidup tersebut orang-orang yang telah melalui tahapan-tahapan peralihan akan kehilangan apa yang ia miliki sebelum proses daur hidup dilakukan. Seorang alumni “inisian” akan menjadi individu baru dan memiliki seperangkat hak dan kewajiban yang baru. Nah, bagi saya hal itu tak pernah dan mungkin tak akan terjadi pada apa yang saya sebut “Orang Urban”. Mengapa? Jawabannya: Mudik.

Mudik sudah kadung menjadi tradisi di Indonesia. Saat hari raya, orang-orang dari kota kembali ke asal mereka untuk berkumpul bersama merayakan hari suci keagamaan. Betul bahwa mudik tak melulu terjadi di Indonesia, mudik pula dimiliki masyarakat Filippina yang juga pulang kampung saat hari raya keagamaan mereka. Beberapa negara pun melakukannya. Memang tak bisa dibandingkan dengan Indonesia atau Filippina dari hal kuantitas manusia-manusia yang ikut acara ini.

Mudik, sejatinya memberikan jembatan tegas antara kota dan desa. Kota melulu dikatakan sebagai “culture” yang lebih menekankan aspek manusia sebagai penggeraknya, dan desa dikatakan “nature” karena lebih digerakkan oleh kekuatan-kekuatan alam. Maka, lahirlah pandangan umum bahwa di desa pasti kita akan melihat pemandangan sawah yang indah, hutan-hutan yang lebat, dan pegunungan yang menjulang. sementar di kota, kita pun dengan percaya akan menjawab identik dengan bangunan-bangunan beton, jalan layang, dan mungkin kereta bawah tanah.

Secara hermeneutik, mudik adalah proses mengembalikan diri ke arah kebeningan hati, kedamaian sikap, dan kepedulian terhadap sesama. Mengapa? Tentu jawabannya karena saat seseorang berada di kota, ia cenderung mengutamakan kepentingan-kepentingan keduniawian seperti mencari materi misalnya. Sikap hati cenderung panas dalam persaingan, “Orang Urban” memiliki kecenderungan tak peduli terhadap sesama. Baginya, memberi recehan bagi para gelandangan sudah merupakan kepedulian hidup. Tak perlu tahu menahu apa sebenarnya penderitaan hidup manusia-manusia yang kurang beruntung.

Dan oleh karenanya, manusia kota adalah, ---meminjam istilah Kuntowijoyo--- manusia yang melulu “I Only Work Here”. Maka dengan demikian, prosesi mudik ialah prosesi ---apa yang Umar kayan katakan--- sebagai ritual tradisi berziarah. Menganang yang lalu-lalu sambil merefleksikan apa yang telah kita peroleh di perkotaan. Tak heran, dengan sikap demikian, saat mudik, bisa saja dikatakan sebagai proses “balik ke rumah” meskipun orang-orang yang mudik kebanyakan memiliki rumah juga di perkotaan. Toh rumah di kota ia anggap hanya sebagai payung besar untuk berteduh, bukan rumah yang menentramkan selayaknya rumah di kampung halaman.

Lalu, apa hubungannya dengan banjir? Jawabannya pasti, dengan adanya mudik yang merusak proses ritus peralihan seperti yang saya jelaskan diatas membuat “Orang Urban” bukan merupakan manusia-manusia kota seutuhnya. “Orang Urban” hanyalah mereka manusia-manusia desa yang “numpang” hidup di kota hanya untk mencari uang. Sama dengan asal kata mudik yakni udik yang berarti kampung/desa. Manusia yang mudik dikatakan kembali ke desa, kembali ke tempat mereka masing-masing. Atau bisa dikatakan mereka kembali ke rumah. Kota, seperti Jakarta bukan merupakan rumah mereka. Jakarta hanyalah sebuah tempat penampungan raksasa tempat mereka menginap sekedar melepas lelah.

Maka, ungkapan “kan banjir udah biasa” menjadikan sebuah statment kunci melihat fenomena banjir. Biasa karena memang Jakarta bukan rumah untuk ditinggali, ia hanya sekedar tempat untuk memungut rejeki. Kotor, rusak, sampah, dan banjir akan dianggap angin lalu saja. Toh ini bukan rumah! Sikap demikian menjadi antipati terhadap masalah-masalah banjir yang saban tahun terjadi, bukan dianggap sebagai bencana.

Proses inisiasi yang diamini Victor Turner dan Van Gennep tak akan dan tak pernah terjadi dalam diri manusia-manusia urban. Mereka “Orang Urban” tak bisa melampaui tiga tahapan prosesi inisiasi. Karena toh “mudik” mementalkan mereka kembali menjadi manusia-manusia “udik”. Jadi jangan heran, tak pernah ada orang kota di Jakarta. Mereka cuma sekumpulan orang desa yang numpang cari makan dihamparan beton-beton pembangunan.

Email me when The Madzae publishes stories