No Exit?

Dua minggu lalu sabil bertandang ke tiben dalam rangka mengajak senartogok untuk berkolaborasi dalam “Bringing Home Project #1” (BHP#1) yang telah dihadirkan jumat lalu. Tulisan ini datang sebagai pembayaran hutang karena menjanjikannya dua minggu lalu untuk dibagikan pada BHP#1 jumat itu. Alasan berhutang sederhana saja, tiben bisa mengundang sabil untuk mengisi diskusi kecil di tiben yang entah kapan. Nah, lalu hendak apa tulisan ini memanjang-lebarkan persoalan?

BHP#1 adalah kejadian di halte, yang direncanakan tetapi berjalan mengalir menjadi sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin kita bayangkan. Ketidakmampuan itu bukan sebab terjadi sesuatu yang luar biasa melainkan BHP#1 terjadi pada tiap titik di halte dan sekitar halte, dalam frame berdurasi yang terus bermain sampai pukul dua puluh tiga lebih.

Untung tidak dibubarkan satpam itb. Yah, itu juga karena dia berlangsung di halte depan Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

Bahasan harus berhenti sekarang juga kalau kita tidak menjawab apa itu BHP#1. Itu dibutuhkan sebagai syarat utama pertanyaan penulis “Akan jadi apakah tulisan ini?”

Di atas telah dipertegas bahwa BHP#1 adalah serangkai pertumbuhan kejadian. BHP#1 juga adalah kejadian secara keseluruhan, tetapi itu saja tidak cukup.

Sebelum sampai lokasi, saya hanya dapat membayangkan halte (trans?) bandung. Sebentuk kotak yang berdiri lebih tinggi dari trotoar yang memiliki lebar sekitar tiga meter. Di belakangnya dinding atau pagar pembatas sebuah bangunan yang diantara mereka terdapat lintasan kecil, muat dua orang berjajar. Kotak itu memiliki bentuk balok (emang kue?) dengan enam sisi, delapan rusuk, dan delapan sudut. Ia melintang pada trotoar, dua sisi vertikal menghadap lintasan arah arus pejalan kaki dengan pintu pada keduanya. Ia tidak dibangun dengan batu-bata melainkan susunan rangka aluminium yang mengikat berlembar-lembar kaca bening. Luasannya tidak mungkin seperti alun-alun bandung, hanya sekitar dua kali enam meter. Secara peruntukan formal yang ditetapkan oleh pengelola kota, ia adalah tempat menunggu bus yang semestinya lewat. Yang mungkin berada disana adalah orang-orang bermuka masam, atau ber-masker yang sedang menunggu bus berhenti di pintu yang lebih tinggi dari trotoar.

Sampai di lokasi, saya dihadapkan pada lampu led kecil-kecil bersambung pada seutas kabel. Mereka kerlap kerlip mengitari interior halte dengan membentuk suatu pola. Sebuah papan menggantung–di atas pintu perpindahan halte ke bus yang menghadap jalan aspal lintasan kendaraan–menampilkan tulisan merah “Bringin Home Project #1” yang berjalan dari batas kiri dan lenyap di batas kanan, begitu terus berulang (abadi?) sepanjang Saya memandangnya. Tulisan besar “HOME” menampang keluar menghadap jalan aspal. Saya sampai di sana disambut oleh Mr. Aji yang sedang memotret-motret. Saya temukan pula wajah familiar dan banyak lagi diluar mereka yang tak saya kenal. Tidak lupa, bahwa di belakang halte berdiri satu kedai nasi goreng dengan stensil seorang tokoh di muka gerobaknya. Pada gerbang masuk GIM terpampang sebuah spanduk sebuah acara yang juga sedang berlangsung di dalam gedung, kalau tidak salah seputar feminisme.

Di dalam halte, cubicle kasir pembelian tiket disulap menjadi dapur kecil tempat Das Kopital menyeduh kopi manual brew yang dapat dinikmati oleh sesiapa yang hadir dengan cuma-cuma. Di sebelahnya satu tempat sampah berdiri gagah setengah penuh. Lalu Sejajar dengan cubicle tersebut, dua bangku panjang permanen–tempat para pesinggah halte duduk–membentang. Panjangnya cukup untuk Saya atau pembaca merebahkan badan dan berguling-guling sesuka hati. Tepat di atas keduanya selimut oranye menggantung dengan membentang, menggoda. Lantas di depan bangku halte, berjarak sekitar satu meter, terdapat satu pengeras suara mungil bersama mikrofonnya. Tak lupa satu kamera kecil (go pro?)–bertengger di satu sudut langit-langit halte–sedang mengintai kami semua.

Cukup, terlalu panjang. Begitulah kira-kira BHP#1 dalam deskripsi “gambar beku” tiga paragraf.

Pada tiap detik hadir bermacam kejadian–yang tiapnya adalah unik–secara bersamaan di dalam dan sekitar halte. Kejadian-kejadian itu Saya kumpulkan dalam satu kelompok. Tidak hanya pada satu instan saja, kelompok kejadian hadir lagi dalam waktu yang terus merentang. Kelompok kejadian itu hanyalah mungkin dalam batasan kesadaran pengalaman tiap manusia sehingga tulisan ini pun mampu mem-panjang-lebar-kan dirinya. Manusia-manusia itu dapat saja telah merencanakan untuk terlibat pada apa yang akan hadir di dalam halte, dengan membuka dirinya lewat indera dan interaksi yang ia buat–tetapi tidak terbatas pada itu. Interaksi dapat dilakukan pada apa saja, tidak terbatas pada manusia.

Batasan antar kelompok dapat saya rasakan, setidaknya saya ketahui dengan betapa sedikit kenalan yang saya dapatkan dan bagaimana Saya memilih untuk berbicara dengan siapa dan tentang apa. Saya mengenal beberapa kelompok di sana dan tiap kali gembira dengan saling sapa, saya mesti mengacuhkan yang lain dahulu. Pembicaraan pun menjadi merepotkan kalau-kalau dua kawan saya tidak saling kenal, berasal dari kelompok pertemanan yang berbeda. Pada tiap kesempatan seperti itu, saya mesti mengenalkan satu dan lainnya, atau saling dikenalkan. Mungkin karena saya “terkenal”? atau kami semua terkenal?

Kesibukan berbincang hadir di tiap sudut halte, manusia di dalamnya memiliki ruang gerak yang dapat dibilang sanat terbatas (ya namanya halte. Mau luas? di alun-alun aja! kalau boleh). Udara terasa berat, pengap, badan terasa gerah dan itu belum lagi mengikutkan aroma sambal dari warung nasi goreng dan asap peserta yang merokok (termasuk saya dan beberapa kali saya bersin-bersin). Keramaian sempat sedikit redam saat Sabil mengambil mikrofon. Ia memberikan beberapa pengantar tentang apa itu BHP#1, harapannya agar apa-apa yang terjadi di halte tersebut dapat menjadi tempat kita bertemu wajah, kenalan, obrolan, kesan, atau rencana-rencana baru; supaya BHP#1 dapat menjadi tempat kita menemukan kemungkinan Home yang baru. Kemudian setelahnya terselenggara lah sebuah panggung tanpa tinggi melebihi tempat berpijak kawan-kawan yang hadir.

Panggung diisi dengan workshop soal kopi, tentang beda antara kopi saset cerobong kapal dan kopi yang khusus diproses mandiri dari bijih-bijih yang telah dipanggang (saya tak tahu dimana). Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi, cerita pendek, beberapa lagu (diantaranya juga dinyanyikan serentak oleh beberapa manusia), lantas disusul oleh tindakan menulis “House-Art” oleh Senartogok di muka kaca yang menghadap ke jalan.

Pengungkapan pembuka oleh Sabil tersebut menjadi penting sebab itu adalah batasan rentang durasi panggung yang berlangsung sampai ditutup oleh Mr. Aji pada pukul sebelas. Kesemua kejadian tidaklah dapat saya ungkapkan sebab itu bukan tugas manusia, itu tugas video. Hanya sebagaian momen yang dapat saya ikutkan dalam tulisan ini sehingga nanti dapat membentuk suatu gagasan tentang bagaimana dinamika di dalam halte dan hubungannya dengan manusia serta elemen pilihan apapun di luar seluruh kejadian di dalamnya. Namun dalam tujuan ini, tidakkah Saya telah melanggar ketentuan yang ditetapkan di awal tulisan yaitu untuk mengetahui apa itu BHP#1 terlebih dahulu baru menentukan bagaimana tulisan ini sehingga “menjadi” respon padanya. Agaknya Saya perlu menetapkan ulang, bahwa akhir tulisan ini adalah menjawab pertanyaan “Apa itu Bringing Home Project #1?”

Saya akan memulai dengan membawa pemahaman awal penyelenggaraan Bringin Home Project. Seperti dalam pembukaan sabil, BHP#1 adalah pemanfaatan bangunan yang ditinggalkan. Kali kesempatan ini adalah sebuah halte yang dibuat untuk tempat akses pejalan kaki ke bus sebagai moda transportasi umum. Sejak awal sampai saya mengikuti BHP#1 dan dalam hari-hari sebelumnya saat menyambangi GIM, tidak saya lihat Bus lewat. Halte disini berhubungan erat dengan publik pengguna jasa transportasi. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain menggunakan itu sebagai satu-satunya cara, selain berjalan kaki atau menggunakan kendaraan pribadi. Sebab bagaimana halte ditinggalkan, bahkan tidak terdapat penyedia tiket di dalamnya tidaklah menjadi soal. Disini halte adalah benda terlantar, terbengkalai, dan tak terawat. Keterlantaran halte ini merupakan syarat utama BHP#1 menjadi mungkin. Tanpa itu, dengan halte berjalan sebagaimana mestinya, BHP#1 mungkin akan diselenggarakan di (entah dimana).

Pemilihan halte GIM tidak bisa dianggap sebagai hal arbitrer yang dapat diabaikan. Penyelenggaraan sesuatu, apapun bentuknya apalagi memiliki potensi menghasilkan suara keras dan keramaian, mesti memerhatikan lingkungan sekitar kegiatan bertempat. Dalam hal ini GIM adalah tetangga yang dalam keberadaannya selama ini adalah penyedia tempat dan pelaksanaan berbagai jenis kegiatan. Akan berbeda bila saja BHP#1 diselenggarakan di depan suatu gedung atau luasan yang menuntut trotoar dan sekitarnya bersih dari apapun yang menghambat arus keluar-masuk manusia dari gedung tersebut. Hal ini terutama bila gedung atau luasan “ruang publik” dikelola oleh agen yang beroperasi secara otonom dengan standar operasional tertentu yang hanya meng-iya-kan kegiatan tertentu menurut selera mereka dan dengan birokrasi super jlimet.

Batasan kini dapat digariskan pada BHP#1 sehingga kita mungkin mendapatkan pokok bahasan secara umum. Pertama, bagaimana hubungan antara BHP#1 yang membuat sesuatu pada Halte dan pencipta halte yang sekaligus menelantarkannya. Itu didapat dari keniscayaan bahwa halte diciptakan dan ditelantarkan sekaligus oleh pengelola kota. Kedua–dari penggambaran beku BHP#1 yang saya ajukan, kita menemukan manusia dan interaksinya yang mana memang diniatkan sejak awal oleh kawan-kawan penyelenggara dengan berbagai harapan yang mereka bawa sepanjang kegiatan–interaksi apa yang terbangun dalam keseluruhan proses terjadinya BHP#1. Masalah kedua akan dibahas lebih dulu sebagai keperluan menangkap dirinya sehingga nanti akan dijadikan patokan dalam melihat hubungan antara BHP#1 dan elemen di luarnya.

Dalam rentang durasi tiga jam panggung berjalan, manusia-manusia di dalam halte tidak diam di tempat. Meskipun penampil sedang khidmat membawakan penampilan terbaik mereka, saya dapat temukan manusia-manusia berpindah posisi berdiri atau tempat duduk. Beberapa dari mereka yang berdekatan dengan pintu keluar halte pun dapat mengalir bebas keluar-masuk, untuk sejenak ke trotoar menghirup udara segar. Memang, hari itu cukup hangat bahkan di luar. Sedikit angin sepoi dapat terasa, sweater yang Saya persiapkan bilamana dingin tiba-tiba menyerang pun akhirnya tak terpakai sampai pulang.

Kopi yang disajikan Das Kopital satu per satu diseruput hadirin dan dapur kecil tempat menyeduh kopi tak berhenti sibuk sampai akhir kegiatan. Begitu banyak kejadian di halte yang tak mampu kutangkap dalam tulisan ini namun tak masalah untuk sedikit berspekulasi. Tiap kejadian tentunya adalah pengalaman yang terbatas pada tiap pribadi di sana. Mereka-mereka yang membawa dirinya ke sana menemukan kawan yang sudah lama tak jumpa. Percakapan mengalir kemanapun membangkitkan banyak pengalaman. Ini dapat kita lihat sebagai reuni tiap-tiap ikatan pertemanan yang sudah terjalin sebelumnya. Dalam perjumpaan singkat itu lah muncul kemungkinan untuk melanjutkan berbagai rencana yang tertunda, bertanya kabar kenalan mereka yang tidak hadir, atau sebagai kesempatan menagih hutang. Banyak yang saling bertanya, antara soal kopi, siapa penampil itu sebenarnya, bagaimana pendapat masing-masing tentang BHP#1 sendiri, dan mungkin banyak lagi yang dialami selain saya. Juga banyak tawa, canda, sampai bahasan serius berseliweran memenuhi ruangan halte yang kecil itu. Saya yang juga kebetulan mendapat beberapa kenalan dan serta merta memunculkan beberapa ide untuk project lain (ini tak penting, abaikan!).

Diluar lingkaran pertemanan yang telah terjalin, tiap interaksi di halte dapat memungkinkan perkenalan-perkenalan baru, saling bertanya kegiatan satu yang lain, dan bukan tak mungkin membangun rencana-rencana baru. Ruang kecil dan interaksi menjadi kata kunci. Analogi pelajaran kimia dasar dapat Saya gunakan disini, wadah kecil yaitu halte dapat meningkatkan kemungkinan interaksi partikel yaitu manusia itu sendiri. Oleh ruang kecil halte lah penjalinan relasi baru menjadi mungkin. Namun tidak setiap dari kami mengenal tiap yang lain, beberapa batasan pun kentara hadir dalam kesadaran. Bahwa diantara tiap kami membawa pula wilayah pergulatan masing-masing, fokus perhatian, jalur kekaryaan sendiri; begitu pula selera pada berbagai hal, toleransi tema obrolan, kebiasaan aneh, dan tak luput juga pandangan politik masing-masing.

Keragaman tiap individu dengan keunikannya serta kemungkinan interaksi yang tinggi dalam ruang halte yang kecil–mengantarkan kita pada dua kutub jenis interaksi, keselarasan dan pertentangan. Keselarasan ini dalam arti sensasi tiap manusia pada tiap kejadian diantaranya kegembiraan, kehangatan, rasa penasaran yang memungkinkan reaksi muncul, dan pengambilan kedekatan jarak. Sedangkan pertentangan dapat mewujud dalam bentuk rasa cemas, keterasingan, atau ketidaksukaan pada hal tertentu; dan ia juga mewujud dalam interaksi seperti penegasan batas tindakan, perdebatan, atau pengungkapan statement politik masing-masing ke lainnya. Pun begitu, kedua kutub tersebut hanyalah kemungkinan kejadian–dapat hadir dalam bentuk dan taraf tertentu–yang tidak dapat dibayangkan semuanya. Kejutan-kejutan dapat saja hadir dalam situasi di halte GIM tersebut.

Kutub kedua kali ini dapat kesempatan menjadi sorotan. Formasi posisi panggung dan penonton di dalam halte kecil tidaklah dua lapis dengan penonton tepat berhadapan dengan penampil. Tempat berpijak penonton dan penampil yang sama tinggi serta panjang halte membuat formasi sebentuk elipse. Bentuk elipse ini membuat satu penonton dapat berhadapan dengan yang lainnya, sehingga saat mengarahkan pandang pada penampil, terkadang muncul kesadaran seperti kita dilihat atau sedang melihat yang kebetulan berada di depan kita. Ini tentu membuat Saya merasa tak nyaman.

Senartogok, pada bagian akhir bagian membuat aksi panggung dengan menyemprot kaca halte dengan spray can, membuat tulisan besar House-Art tepat di sebelah instalasi “HOME”. Sekejap saat itu Saya melempar perhatian pada berbagai reaksi yang muncul. Muncul beberapa pengucapan seperti “Aduh”, “widih”, “fail”, dan beberapa saran tentang cara menghapusnya. Reaksi ekspresi pun beragam–beberapa yang mengantuk, sedang berbincang, atau sedang melihat ke luar halte memandangi jalanan dengan kendaraan berlalu-lalang–pun tersentak, bingung, langsung memasang fokus, tersenyum, mengangguk-angguk, posisi torso tegak, memajukan badan, atau sekedar terdiam. Setelah aksi panggung kecil itu, Senartogok pun keluar halte, pulang dan meninggalkan gitarnya.

Kejadian di akhir acara itu adalah kemungkinan menjadinya suatu pertentangan yang hadir di permukaan, yang mengikat tiap-tiap manusia. Reaksi masing-masing individu tersebut lantas membuat kluster kelompok-kelompok pendapat dan batas diantara mereka. Kelompok-kelompok tersebut tidaklah bertentangan dikotomis saja, jenisnya merentang sebagai spektrum luas. Batas dan kluster yang muncul itu tidaklah baik atau buruk, tetapi tidakkah itu niscaya dalam sebuah interaksi sosial?

Batasan menjadi jelas sebab luasan halte begitu kecil sehingga tidak ada kesempatan untuk mengabaikan satu hal saja.

Untuk merangkum persoalan pertama ini, dua hal akan diambil sebagai pusat perhatian yaitu (1) “gambaran beku” halte dengan segala benda dan manusia yang menempatinya atau berlalu-lalang diantaranya; lalu (2) rentetan kejadian yang dapat dirangkum dalam sepektrum keselarasan dan pertentangan. Yang pertama menjadi wadah yang kedua. Wadah tidak saja sebagai fasilitas dan berbagai aturan main pada kedua, melainkan keduanya menjadi kesatuan sebuah proyeksi harapan kejadian. Proyeksi ini berupa kejadian dalam artian interaksi manusia, benda, dan kejadian itu sendiri. Proyeksi ini tidak terkendali namun menjadi esensi, tanpanya Bringing Home Project #1 tidak mungkin. Sekarang saya dapat mengajukan jawaban,

Bringing Home Project #1 adalah proyeksi** kejadian oleh benda-benda yang menjadi wadahnya, setiap manusia dan benda adalah aktor dan mereka pula yang menjadi penontonnya.”

Keseluruhan BHP#1 di kota bandung mungkin tidak disadari oleh banyak manusia, namun ia hadir dalam tempat dan rentang waktu dengan menampilkan dinamikanya. Halte yang diciptakan lalu ditinggalkan menjadi benda saja, pemasangan benda-benda dan manusia yang berinteraksi di dalamnya, melebar ke luar. Terjadi transaksi jual beli antara aktor dengan penjual nasi goreng. Juga beberapa orang yang kebetulan lewat lantas bertanya apa yang sedang berlangsung di halte, beberapa melihat-lihat dan lainnya berlalu saja. Tentu muncul batas juga antara BHP#1 dan manusia lain yang berlalu dan enggan terikutkan; juga kendaraan-kendaraan yang terus saja melaju tanpa berhenti, alih-alih ikut menjadi aktor. BHP#1 sendiri menjadi kluster benda dan manusia sendiri, membuat batas pada kelompok manusia yang lebih luas di kota bandung.

Garis batas itu menjadi begitu jelas pada pembuat halte. Fungsi yang ia atur dalam dokumen tertulis menjadi tak berarti oleh kehadiran keseluruhan BHP#1. Bagi satu kluster manusia, BHP#1 adalah oase dimana interaksi manusia hari ini begitu minim dengan lingkaran masing-masing yang tertutup. Di halte kecil tersebut, manusia mau tak mau terpapar berbagai kejadian dan tertuntut (oleh kejadian sendiri) memberikan respon, rekasi, dan akti. Bagi pembuat halte yang sekaligus yang menelantarkannya, BHP#1 adalah annihilator keberadaan mereka. Tetapi tidak sebatas itu, bahwa ia mempercontohkan satu alternatif modifikasi benda terlantar, membuat keberadaan baru yang terbatas pada tempat dan rentang durasi. Penempatan benda-benda–yang merupakan dekorasi ataupun alat fungsional supaya proyeksi berlangsung–menjadi elemen esensial sebab halte GIM tidak lagi adalah halte (saja), tetapai tempat manusia menemukan kemungkinan menemukan home atau lapangan pertentangan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, kecuali penyingkiran salah satu akan mengubah benar-benar diri BHP#1 sendiri. Namun tidakkah pengaturan penyingkiran menjadikannya tidak publik lagi?

BHP#1 sebagai kejadian dapat menjadi oase dan kritik sekaligus. Ia hadir pada pengelola kota dan kita sebagai kritik bagaimana selama ini kota dikelola. Tetapi persoalan bagi sesiapa yang berupaya menjadi kritik adalah kecemasan bahwa kejadian sebagai kritik akan dihentikan atau lebih buruk: diklaim sebagai gagasan dan kejadia tersendiri oleh pengelola kota. Tetapi disini, dengan membangun kombinasi benda-benda pada bangunan yang terlantar sehingga menafikan fungsi dan tujuan ia dibangun dapat menghadapkan pengelola kota pada paradoks pilihan tindakan. Paradoks ini bekerja dengan pertama–bahwa jika mereka membuat klaim pada BHP#1, mereka melanggar rencana dan tujuan mereka sendiri yang mana pasti memperkuat BHP#1 sendiri. Mereka akan menuntut diri mereka sendiri untuk menjelaskan klaim sepihak mereka. Lalu jika mereka menolak keberadaan BHP#1 dengan menghentikannya, tidakkah mereka telah membuat pertentangan dengan publik yang hari ini makin rindu dengan ruang-ruang alternatif baru, dengan “seni kejadian” yang setiap manusia dapat berperan dan menonton sekaligus?

Kedua jalan dikotomis tersebut adalah sama-sama buntu bagi pengelola kota. Apa yang tersisa bagi mereka adalah memfungsikan apa yang terlantar dengan serius dan tepat sasaran, yang mana adalah (baik?) untuk publik. Atau terakhir adalah diam yang mana baik juga untuk kawan-kawan dimanapun, mereka dapat mencipta yang terlantar dan membuat kreasi lainnya dengan bahkan makin asik dan sederhana.


Ucapan terima kasih sebesarnya kepada kawan-kawan Bringing Home Project #1 sehingga tulisan ini dan tulisan satu lagi mengenai trotoar mungkin selesai. Terima kasih telah membuat karya yang begitu menarik namun tetap sederhana, saya sebagai pejalan kaki jadi senang. Terakhir, saya ga mau minta maaf kalau ada penilaian-penilaian Saya yang cacat atau buruk.

Catatan Kaki:

* Judul adalah re-mix dari judul sebuah play oleh Jean Paul Sartre tahun 1944 (sedang baca): Huis Clos (fra) atau No Exit (eng). Terima kasih penyair Asra yang telah memperkenalkan play tersebut.

** Istilah proyeksi, aktor, dan penonton saya pinjam dari tulisan Bruno Latour (From Realpolitik to Dingpolitik or How to Make Things Public, 2005; pengantar pameran Making Things Public at the ZKM | Center for art and Media, Karlsruhe )