Trotoar

Trotoar adalah benda aneh. Sebagai benda, ia–seperti pohon, batu, manusia–menempati “ruang”. Dalam sebuah lanskap kota, ia hadir dengan lebar tertentu, memiliki batas dengan jalan aspal dan (sekumpulan) bangunan yang ia kelilingi. Dalam kota dimana tiap luasan tanah telah dipetakkan dan memiliki batas berdasarkan dokumen-dokumen institusi yang memayungi hubungan sosial, trotoar adalah salah satu saja benda yang di-guna-kan manusia untuk melintas, berpindah antar lokasi. Ia sebagai lintasan membutuhkan pra-anggapan tentang kepemilikannya yang tidak melekat pada semua orang, namun ia dapat dipergunakan oleh siapapun.

Artikel ini akan mempersoalkan cara pandang Kita terhadap trotoar dan berbagai hal tentangnya (termasuk masalah antar manusia) yang selama ini diselesaikan dan diputuskan. Trotoar hadir saja di hadapan tiap manusia yang melintasinya, sebagai kumpulan berbagai benda dimana hal dipersoalkan dan diperhatikan. Ia hadir dalam berbagai bentuk dan melahirkan berbagai pengalaman. Pengalaman traumatik, termasuk di dalamnya konflik dan antagonisme kelas dalam hirarki sosial, juga mungkin muncul. Pengalaman itu Kita permasalahkan dengan pendekatan nilai-nilai tinggi dan gagasan, lantas Kita mengajukan berbagai argumen. Penulis disini mengambil posisi pada benda, nilai adalah hal terakhir yang akan diperhatikan.

Artikel ini berusaha hadir sebagai cara pandang alternatif terhadap trotoar sebagai kumpulan benda-benda yang memengaruhi wajah dan dinamika apa yang berlaku di dalamnya. Ini diperlukan sebagai persiapan untuk mengajukan pertanyaan secara tepat tentang bagaimana hal bekerja, diselesaikan, dan diputuskan di atas trotoar. Apa yang Kita harapkan dari serangkaian perenungan yang akan Kita jalani ini? Tentu bukan sebuah penyelesaian untuk masalah tertentu, melainkan adalah formulasi alternatif tentang trotoar.

Trotoar sebagai Lintasan

Trotoar hadir dalam keseharian Kita sebagai sebuah lintasan yang dapat Kita lalui. Ia memungkinkan Kita berpindah antar lokasi, jauh atau dekat. Dengan pengertian seperti itu, Kita dapat memandang trotoar memiliki jenis yang sama dengan jalan dan jembatan. Namun apa yang melintas dan peruntukan serta bagaimana lintasan-lintasan itu dibangun Kita alami secara berbeda. Jembatan seperti jembatan penyeberangan akan Kita kesampingkan tetapi tidak untuk jalan raya. Jalan raya perlu diperhatikan yaitu untuk lebih memahami trotoar karena pertama-tama mereka selalu dan harus berdampingan walaupun sering juga Kita temukan jalan raya tanpa trotoar.

Kita melakukan berbagai tindakan rekayasa pada lintasan untuk memperkecil hambatan sebisa mungkin. Hari ini tidak hanya manusia saja yang melintasi jalur yang ia buat, sesuatu bernama kendaraan juga telah lama hadir dalam kenyataan sehari-hari yang Kita hadapi. Apa yang melintas pada merekalah yang menjadi pemisah utama antara jalan aspal dan trotoar.

Lalu-lalang kendaraan besar dan yang mungkin melaju dengan kecepatan tinggi mendesak Kita untuk memisahkan jalur kendaraan dan jalur manusia. Walaupun kendaraan digunakan manusia sebagai alat berpindah, ia tak dapat dianggap sebagai manusia. Manusia pejalan kaki dan manusia berkendaraan tidak memiliki hubungan interaksi komunikatif, selain mungkin hanya dengan klakson, perhitungan jarak lewat pandangan, atau teriakan. Kendaraan dengan ukurannya lebih banyak menggunakan lebar jalan dapat menjadi ancaman keselamatan manusia pejalan kaki. Mari ingat jalan tol. Tidak mungkin satu manusia berdiam disana tanpa meresikokan diri untuk terlukai.

Dari penjabaran tersebut, Kita menemukan keberadaan trotoar sebagai lintasan manusia, yang dimungkinkan oleh keberadaan kendaraan secara bersamaan. Namun trotoar tidak bisa direduksi dengan penggambaran sederhana seperti di atas saja. Beragam manusia, dalam penggambaran kategorisnya yang jamak, hadir bersama di atas trotoar. Tidak hanya itu, trotoar juga mungkin dipergunakan oleh papan luncur, troli, grobak, kereta bayi, kucing, dan anjing. Berbagai hal dapat melintas di atas trotoar. Kumpulan benda-benda yang kadang tak terbayangkan dapat menghadirkan berbagai pengalaman, belum mengikutkan yang mungkin nampak dan terjadi–yaitu hal yang di luar kategori benda berwujud. Kehadiran berbagai macam benda tersebut membuat Kita tidak dapat menganggap trotoar sebagai makhluk sederhana bernama lintasan karena bentuk yang Kita tangkap dalam pengalaman Kita adalah kombinasi serentak benda-benda dan kejadian yang jamak.

Kehadiran secara bersamaan ini bersifat bertempat dan temporal dalam pengalaman Kita. Sejak trotoar adalah lintasan berpindah dari benda-benda bergerak, setiap persinggungan antara mereka pun bersifat sekejap. Manusia tidaklah terbatas sebagai benda yang melalui sebuah lintasan namun dapat melakukan berbagai tindakan diluar itu (masih dalam statusnya sebagai pejalan kaki) dan pada trotoar sendiri. Manusia dapat beristirahat, mungkin menetap sejenak, atau membuat dan membangun sesuatu di atas trotoar demi pemenuhan hasratnya. Dari penambahan ini seakan tercipta kesan bahwa trotoar adalah sebuah luasan seakan segalanya dapat dilakukan. Pengertian tersebut dapat saja cocok pada suatu realita tertentu yang Kita temukan sehari-hari.

Trotoar berbeda dari sebuah luasan tempat banyak manusia hadir serentak di dalamnya –biasa disebut “ruang publik” seperti taman, plaza, pusat retail, stasiun, dan terminal. Luasan itu adalah tempat tujuan, seseorang dapat memilih untuk pergi ke sana atau tidak. Meskipun dalam luasan tersebut terdapat lintasan, lintasan manapun di dalam luasan tersebut tidak dapat dikatakan trotoar sebab ia tidak berdampingan dengan lintasan kendaraan. Lagi pula, dalam setiap luasan tersebut telah ditentukan berbagai peruntukannya dimana pada tiap yang melewati batas kewajaran — ditetapkan pengelola–dapat saja keluar dari sana. Trotoar, dengan pengertiannya sebagai lintasan, adalah satu-satunya yang dapat dilalui manusia yang berpindah. Oleh karenanya pengertian Kita pada trotoar–tidak dimiliki semua namun sekaligus dapat digunakan siapapun–menjadi mungkin.

Status kepemilikannya itu dapat menjadi masalah dalam bergitu kompleksnya interaksi antar manusia dan benda yang berdiri di atas trotoar.

Karena status itu pula, manusia dan hubungan diantara mereka yang sebelumnya berada dalam wilayah yang berbeda dari trotoar dapat pula terikutkan, dari institusi-institusi tempat mereka menetap dan mendapatkan tempat dalam hirarki sosial, ekonomi, dan politik. Hubungan tersebut mencakup pula antagonisme yang terdapat dalam masyarakat. Antagonisme ini melebar ke trotoar, pertama, sebagai sensasi-sensasi yang didapatkan saat bertemu manusia lain. Prasangka dapat muncul–kesukaan, kekaguman, kebencian, rasa jijik, ketidaksepakatan–pada tindakan dan kejadian tertentu. Pada kesempatan tersebut, berbagai macam penilaian dapat dilakukan. Tetapi dengan mengingat bahwa kehadiran tiap manusia di atas trotoar ialah temporal dan persinggungan terjadi secara sekejap, Antagonisme yang bekerja dalam wilayah tangkapan indera dan pengalaman tidaklah menjadi soal sebab mereka yang saling menentang dapat melanjutkan pertikaian dan keteganan di tempat atau saat sekembalinya mereka ke dalam wilayah pertarungan mereka yang asali–seperti institusi-institusi dimana diantara mereka saling berpengaruh pada keberadaan satu yang lainnya.

“Masalah” muncul ketika temporalitas kehadiran sekumpulan tindakan (moda keberadaan) satu atau lebih manusia diperpanjang, sehingga persinggungan dengan musuh potensialnya terjadi terus menerus sampai menciptakan wilayah baru pertentangan yang berpengaruh secara langsung pada moda keberadaan masing-masing. Pertentangan perlu diselesaikan supaya dapat mengetahui apakah keberadaan bersama menjadi mungkin. Berbagai prosedur dapat digunakan untuk memberi pe-nilai-an pada moda keberadaan mana yang lebih prioritas diantara yang dianggap bertentangan. Tetapi, tidakkah sulit untuk menentukan “hal yang dipersoalkan” sehingga dapat memunculkan sebuah keputusan, alih-alih menyelesaikan, di atas trotoar. Tidakkah sekaligus dalam proses penyelesaian terlibat pula lain yang lebih superior dalam tatanan masyarakat yang menghubungkan mereka.

Pada kasus pertentangan tersebut, satu moda keberadaan dapat tersingkir, secara terpaksa menghilangkan keberadaannya.

Tetapi kemudian tidak serta merta moda keberadaan yang bertentangan dengan yang hilang lantas dapat hadir dalam benda dan langsung saja dialami. Pengalaman menjadi mungkin di atas trotoar–dari penampakan yang Kita alami melalui muka trotoar: kombinasi benda dengan bentuk dan rupa spesifiknya–sejauh terjadi interaksi antara Kita dan mereka. Kita dapat melihat pada pengalaman sehari-hari bahwa setelah pertentangan selesai dan saat salah satu moda keberadaan tertentu menghilang, wajah trotoar tidak serta merta berubah. Paling tidak Kita melihat ia menjadi “telanjang” kembali, hadir tanpa benda-benda yang sebelumnya. Dari ilustrasi perubahan pada muka trotoar tersebut, Kita akan melihat apakah penghilangan tersebut hanyalah sebatas pengembalian wajah trotoar pada bentuk dan rupa polosnya.

Dalam antagonisme hubungan antar manusia dimana dalam perlakuannya pada trotoar, manusia sedang dalam proses mewujudkan keberadaannya. Dalam hal apa, Yang menghilangkan lantas mewujudkan moda keberadaannya dalam dan untuk dirinya sendiri. Gambaran kecil ini mesti Kita tangguhkan terlebih dahulu, Kita mesti menambahkan beberapa benda yang hadir berdampingan dengan trotoar untuk melihat bahwa tindak pengembalian rupa polos trotoar juga melahirkan “sesuatu” yang baru dan memberikan wajah baru pada trotoar. Namun apa yang Kita alami dalam keseharian tidaklah sebatas itu saja, pertentangan dapat berlanjut. Trotoar yang polos dapat terisi kembali dengan benda-benda lain. Namun saat satu jenis saja bentuk dan rupa trotoar menjadi langgeng, Kita patut curiga apakah pertentangan telah tiada.

Luasan Lahan dalam Transformasi dan Manusia Ketiga

Penghilangan tersebut mestilah Kita mengerti dalam istilah yang mengikutkan luasan lahan dan manusia serta moda keberadaan yang masing-masing mereka bawa dalam fenomena bertahan dan penghilangan. Saya mengajukan istilah transformasi, sebuah alih fungsi luasan lahan dalam hubungannya dengan antar manusia. transformasi yang diniatkan menetapkan determinasi positif secara anggapan yang diterima saja. Namun ia berperilaku berbeda pada mereka yang mengalami transformasi yang mana ia hadir sebagai, bahkan hampir mirip, takdir yang muskil untuk diubah. Determinasi/keyakinan positif pada transformasi, dalam dan untuk diri pelaku adalah sebuah moda partikular aktualisasi/keberadaannya yang dipaksakan pada moda lain yang kontradiktif. Dorangan aktualisasi tersebut adalah hasrat yang dapat mewujud dalam wilayah kehidupan yang begitu jamak. Sedangkan untuk yang dikenai langsung oleh transformasi, mereka yang moda keberadaannya dalam berbagai aspek akan berubah secara drastis, memandang transformasi sebagai pilihan dikotomis. Pilihan tersebut adalah menolaknya demi kelanjutan moda keberadaannya yang sedang “menjadi” atau meng-iya-kan transformasi dan lantas menjadi abu. Posisi berdiri yang tersedia sangat mungkin untuk ter-peta-kan. Peng-iya-an terhadap transformasi dikesampingkan sebab, kesiapan pada sebuah moda kehidupan yang baru manjadi pra-anggapan yang telah diterima sejak penolakan terhadap transformasi telah ditolak. Pemilihan penolakan terhadap transformasi selanjutnya menghadirkan masalah yang kemudian dapat membuka kemungkinan sebuah penyelesaian.

Penyelesaian yang Kita maksud adalah pada masalah lain, yaitu mengenai moda keberadaan yang selama ini dijalani. Penolakan tidak serta merta dapat dilancarkan pada transformasi yang datang. Penolakan setidaknya mencari-cari landasan, entah emosinal atau rasional. Pencarian landasan mau-tidak-mau menengok dan menilai kembali moda kehidupan yang telah dijalani. Pencarian tersebut hadir sebagai gejala terguncangnya keberadaan, sekaligus secara instan melahirkan sebuah introspeksi. Introspeksi membuka kemungkinan keberadaan yang memiliki kebaruan namun mungkin tetap melekat pada hal yang dipertahankan dari ancaman transformasi.

Dalam kasus transformasi penggunaan/peruntukan lahan, introspeksi diarahkan pada peruntukan selama ini dan bagaimana ia berhubungan dengan penggagas/pelaku tindakan transformasi. Dalam bahasan kita, bagaimana benda-benda diletakkan di atas luasan, bentuk dan rupa-nya kita perhatikan. Aspek sejarah, budaya, politik dan ekonomi mengikutkan dirinya. Keempatnya menjadi penting untuk dilihat yang mungkin adalah landasan penilaian.

Pemisahan manusia dalam kaitannya dengan sebuah transformasi yang telah Kita renungkan diatas masihlah belum cukup bila Kita ingin mengungkap perilaku transformasi dalam kaitannya dengan jamaknya posisi manusia yang terlibat. Kita dapat suatu waktu menangkap kehadiran manusia ketiga, yaitu ia yang tidak menjadi keduanya namun terseret, ditarik oleh keadaan untuk terlibat atau tidak. Manusia ketiga hadir sebagai yang berlalu dan memandang sekilas, sekaligus dipandang oleh kedua yang pertama sebagai yang harus terlibat. Manusia ketiga tidaklah serta-merta dapat memutuskan untuk terlibat pada pertentangan yang muncul. transformasi determinasi positif hadir pada manusia ketiga sebagai yang telah menjadi, dalam proses perwujudan dirinya dalam kenyataan. Penolakan atau penolakan terhadap penolakan transformasi tidak dapat serta merta menjadi pertimbangan sebab ia tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan hal dalam transformasi dan transformasi itu sendiri.

Namun dalam hubungan sosial di bawah payung sebuah institusi, manusia ketiga tidaklah benar-benar terpisah dari transformasi. Gagasan-gagasan yang menjadikan transformasi mungkin dapat telah hadir dalam manusia ini. Sehingga pengetahuan yang ia simpan berubah menjadi praanggapan yang dapat langsung mengambil alih “pengucapan” setuju atau tidak, memihak yang mana, atau berbagai argumen hasil penalaran. Prasangka itu dapat saja berupa gagasan, pemikiran yang telah dianggap benar, diyakini, sebagai landasan keberadaan si manusia ketiga (yang juga jamak dalam isi dan bentuknya).

Selubung Bangunan

Sejak batas digariskan di atas suatu bentang tanah, disitu pembedaan antara privat dan yang tidak privat lahir. Batas itu–mewujud sebuah selubung yang menjadi penampang permukaan sebuah bangunan–menegaskan arus keluar-masuk berbagai macam benda. Selubung ini, dalam pemahaman sebuah rumah adalah pintu, jendela, kabel-kabel dan pipa. Komponen suatu selubung mengatur keluar masuk cahaya, air, listrik, dan kotoran.

Bangunan–sebuah idea yang diwujudkan dalam dunia bendasaat diselesaikan, menciptakan makhluk sendiri yang dibatasi oleh sebuah selubung. Ruang independen ini Kita sebut sebagai dalam-an. Kemudian dalam hubungannya dengan bentangan sebelum ia mewujud, Kita menemukan luaran. Semenjak bangunan dibangun untuk suatu kepentingan badaniah manusia, perlindungan dan kenyamanan, selubung berperan penting sebagai saluran keluar-masuk benda-benda dari dan ke dalam bangunan tersebut.

Selubung menjadi penting bagi sebuah bangunan sebab berbagai macam kebutuhan (air, listrik, udara segar, cahaya, dan pemandangan ke luar) dan pembuangan (kotoran, sampah dapur, dan debu) merupakan bagian tak terpisahkan dari aktivitas manusia di dalam ruangan tersebut. Dengan landasan efisiensi, keindahan, kerapihan, sampai kesehatan; mereka disembunyikan di celah tembok dan bawah tanah. Saluran dan sistem pembuangan bekerja sebagai alat untuk mengusir segala hal yang tidak berguna, atau masuk dalam kategori selera yang harus disingkirkan. Tetapi, ada suatu waktu dimana saluran tersebut tersumbat, kotoran dan sampah muncul kembali sebagai sebuah sosok horor yang membuat penghuni bangunan mengalami trauma dan cemas sepanjang waktu.

Selubung adalah yang pertama-tama diperhatikan manusia. Ia merupakan sebentuk lapisan sederhana yang mula-mula dapat berupa papan dan dalam berbagai moda kehidupan berbagai jenis masyarakat ia mengambil bentuk berbeda secara fungsi dan ketersediaan material tempat mereka hidup. Namun papan atau bentuk lain itu adalah esensial sebab ia mengikat berbagai lubang, saluran, dan penyaring sehingga arus keluar-masuk benda menjadi mungkin. Dalam proses perkembangannya, teknologi melahirkan berbagai cara pengaturan selubung dengan “alat-alat” tertentu. Bersama dengannya, pengetahuan desain, psikologi memungkinkan rekayasa perilaku manusia yang terwujud dalam rancangan selubung. Cara pandang seperti itu memiliki pra-anggapan bahwa “manusia lain” dimasukkan dalam kategori benda yang mengalir pada selubung. Dengan begitu, selubung tidak lagi Kita pandang sebagai dinding batas pengusir, ia pula berlaku sebagai yang mengundang suatu benda untuk datang. Kemudian, lebih jauh, selubung tidak lagi berupa dinding yang didekorasi juga melainkan peletakan benda-benda yang berada dekat di sekitar sebuah bangunan supaya rekayasa dapat bekerja.

Keterbelahan Wajah Trotoar
Kembali ke trotoar. Perubahan wajah trotoar dapat kita pandang sebagai transformasi, pertantangan dua atau lebih keberadaan, dan keberadaan bersama. Pengertian kita tentang trotoar di awal perlu dipertanyakan ketika mengingat bahwa transformasi luasan lahan memungkinkan hilangnya suatu keberadaan. Saat suatu moda keberadaan–yang mewujud dalam peletakan benda–lantas hilang namun Kita tidak mengalami benda-benda baru sebagai perwujudan moda lain, kita dapat mengikutkan bangunan yang berdampingan dengan trotoar untuk melihat persoalan lebih jelas.

Setelah trotoar berubah menjadi polos–benda-benda yang diletakkan dan tindakan suatu keberadaan tertentu dihilangkan–lintasan dapat berubah lancar. Perlintasan bersih dan hanya manusia bergerak lah yang hadir, bangunan yang diitari trotoar dapat dengan mudah dilalui. Sejak suatu keberadaan dapat merekayasa benda-manusia mengalir mengikuti prinsip-prinsip ilmu perancangan selubung, kita dapat melihat bahwa trotoar tidaklah lagi menjadi polos, kembali pada hakikatnya sebagai lintasan yang kita bayangkan. Bangunan dan benda-benda berpengaruh pada manusia yang melintas pada selubung yang tidak lagi berupa dinding, tetapi juga perantara batas mereka dan trotoar. Disini, kategori yang memungkinkan itu terjadi pada manusia (kenyamanan, kenikmatan, dan sensasi dari keterpenuhan hasrat) menjadi landasan utama penghilangan keberadaan tertentu. Saat itu juga, trotoar mematuhi logika bangunan atau benda-benda, dengan kata lain menjadi perluasan selubung, menjadi selubung bangunan itu sendiri.

Apa yang terjadi disini adalah penguatan suatu keberadaan tertentu yang berdampingan dengan, atau terletak di atas trotoar. Penguatan tidak terbatas pada perubahan trotoar ke bentuk polosnya namun juga dapat dengan peletakan benda-benda, penerapan teknik dekorasi, dan pemberlakukan aturan dalam tatanan hubungan antar manusia. Tanpa penguatan itu, apakah keberadaan dengan penghilangan menjadi muskil?

Ragam persoalan akan berbeda dari satu bagian trotoar dengan lainnya di suatu kota. Sebagai pengingat, penulis tidak berharap untuk menunjukkan hak apa yang dimiliki suatu benda (termasuk manusia) pada trotoar sehingga kita dapat menentukan tingkatan prioritas pengaturan berbagai kebaradaan yang hadir pada trotoar. Dengan sikap seperti penulis, kita akan menganggap trotoar–yang tidak dimiliki semua namun dapat digunakan siapapun–sebagai sebuah medan pertentangan keberadaan. Tetapi untuk menentukan penyelesaikan persoalan yang pembaca dan penulis pilih sendiri, opini dan argumen yang berseliweran tidaklah ditentukan di atas luasan tersebut. Bila begitu kasusnya, saluran komunikasi yang tersedia di trotoar yaitu komunikasi langsung dapat saja menyelesaikan persoalan di tempat. Proses penyelesaian dapat saja terjadi di meja yang tidak kita ketahui dimana dan keberadaan–yang bersoal dan dipersoalkan–mungkin saja tidak diikutkan.

Pertentangan antar keberadaan termanifestasi dalam wajah trotoar, yaitu benda-benda yang sedang, yang hilang, dan yang akan hadir di atas trotoar. Benda-benda yang terkumpul membangun komposisi, mereka secara keseluruhan menjadi pengalaman dalam keseharian Kita. Suatu pihak dapat saja menentukan wajah trotoar dengan pertimbangan, rencana, dan aturannya; tetapi kenyataan Kita sehari-hari tidaklah terbatas pada apa yang mereka pikirkan saja. Oleh sebab itu mereka membuat berbagai perlakuan pada benda (trotoar) untuk menjaga gagasannya, atau mengaplikasikan gagasan baru pada yang telah terberi itu.

Untuk menyimpulkan, persoalan yang mungkin diperhatikan setelah ini bukanlah tentang milik siapa trotoar itu melainkan apa bentuk trotoar yang Kita harus buat? Lebih spesifik, bagaimana komposisi benda-benda diatur di atas trotoar sehingga mungkin untuk menentukan dan menyelesaikan persoalan dengan ragam keberadaan yang memiliki spektrum begitu luas. Tentu saja bila kita mengikutkan pula beragam lapisan antagonisme sosial, mengatur benda-benda di dalamnya merujuk pada batasan material pada trotoar sendiri. Apa yang telah kita lakukan pada trotoar kali ini, penulis mencoba yakin, adalah mengumpulkan benda-benda yang hadir di atas trotoar dalam koridor pertentangan di dalamnya.

Bagaimana membayangkan dan merancang trotoar adalah satu urusan, sedangkan bagaimana membawa rancangan pengaturan itu ke meja yang berpengaruh secara efektif dan lalu mewujudkannya adalah hal lain. Satu hal tidak Kita ikutkan dalam analisa deskriptif ini yaitu dimensi politik yang berlaku (dulu, kini, dan nanti) dan bagaimana dinamika di dalam mereka. Ini akan dibiarkan dahulu terbuka, dan penulis rasa telah banyak yang telah dan akan membahasnya.


Referensi:

1. Polo, Alejandro Zaera. The Politics of the Envelope: A Political Critique of Materialism. Log,

No. 13/14, Aftershocks: Generation(s) since 1968 (Fall 2008), pp. 193–207.

2. Latour, Bruno. From Realpolitik to Dingpolitik or How to Make Things Public, 2005. Center for Art and Media Karlsruhe, 2005.