BEREBUT KEBENARAN TAPI LUPA BERTUHAN

Ilustrasi: Istimewa

Oleh Novy Eko Permono

Dulu saat saya masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (sekitar tahun 2000-an,) aktivitas ngaji di mushola (langgar) setiap habis ashar selalu menjadi idola. Apalagi saat yang mengajar H. Kasimin, teman-teman akan berebut duduk shaf paling depan. Bukan karena beliau berparas menawan, modis, dan wangi seperti ustadz di teve. Bukan. Tapi karena selalu ada kisah bijak yang disampaikan. Di sanalah agama menemui tempatnya yang paling damai.

Tapi, beragama di zaman tahu bulat ini nampaknya semakin meresahkan. Bagaimana tidak, beragama dewasa ini terekspresikan menjadi fanatisme dengan menegasikan kultur sosial, kemanusiaan sering kali ditumbalkan. Inilah kecemasan yang mengusik perilaku jomblo (baca: beragama) kita hari ini. Perbedaan keyakinan bahkan perbedaan paham (madzhab) dalam satu keyakinan menumbuh-suburkan kebencian yang aslinya hanyalah perbedaan pada ranah wacana dan pemikiran.

Publik penah diriuhkan oleh debat penolakan masjid di Jakarta memproses kematian pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan dalil (landasan) Q.S. At Taubah: 84, betapa agama dijadikan alat melegitimasi kepentingan politik praktis. Tsaah.

Kita begitu mabuk dengan selalu mengatakan apa yang kita pahami dan ikuti sebagai yang benar. Klaim-klaim kebenaran itu dapat ditemui pada banyak aspek dalam ajaran agama, bahkan sampai aspek yang terkecil sekalipun, seperti larangan memakan makanan tertentu atau tata cara yang paling tepat untuk berkurban.

Bagi penganut agama tertentu, klaim kebenaran yang biasanya bersumber dari kitab suci atau ajaran pemuka agama diyakini sebagai klaim yang benar. Keyakinan mengenai klaim yang benar ini menjadi petunjuk untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan dalam agama, seperti beribadah, berkurban, atau berdoa.

Clifford Geertz (w. 2006), seorang antropolog kelahiran San Fransico, Amerika Serikat dalam bukunya The Religion of Java (1960) menyebutkan bahwa agama selain memberikan penjelasan atas fenomena alam dan memberikan rasa aman, juga memberikan petunjuk mengenai apa yang benar dan salah. Sehingga, agama bisa menjadi pedoman moral bagi penganutnya.

Terlepas dari dogma (doktrin) agama yang diyakini benar oleh setiap umatnya, bukankah setiap agama dan madzhab beragama memiliki tujuan yang sama yaitu mengajarkan kebenaran, kebaikan, dan kedamaian?

Namun kebanyakan dari kita justru dengan mudah menyalahkan, menyesatkan, bahkan mengkafirkan siapapun (termasuk jomblo) yang tak sejalan dengan kita. Iya nga?

Seperti halnya Edie AH Iyubenu dalam bukunya Islam Yang Menyenangkan mengatakan bahwa setiap agama memiliki dimensi sakralitas. Kebenaran agama bagi pemeluknya adalah mutlak, namun perlu dipahami bersama bahwa wacana agama itu sendiri bersifat dinamis. Dengan kata lain keragaman adalah sunnatullah (ketetapan Allah) sebuah keniscayaan yang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Menegasikan orang yang tak seagama atau tak sepaham sebagai kafir, tak sejalan dengan komitmen terhadap Negara Pancasila. Oleh sebab itu agama yang satu dengan lainnya tentu tidak bisa menghakimi dan saling berebut benar.

Bahkan Soekarno yang nasionalis pernah mengatakan bahwa tak ada sudut pandang agama apapun yang boleh mendominasi sudut pandang agama lain. Tak ada satu kelompok agama manapun yang berhak menilai agama lain dari sudut pandang sendiri. Bung Karno telah berpesan pada kita agar bangsa Indonesia bertuhan secara kebudayaan dengan saling menghormati antar pemeluk agama, dan tak terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai ‘egoisme agama’.

Sebagai jomblo yang pernah ikut kegiatan Rohis semasa SMA, perlu kita renungkan bahwa menyembah dan mengabdi kepada Tuhan tidak hanya ‘laku’ ibadah saja. Apalagi sampai beribadah hanya mengharap supaya masuk surga dan pesta seks di sana macam ceramah ustadz Syam yang sempat bikin heboh warganet beberapa waktu lalu.

Gini loh mbloo, tak kasih tahu.

Ali bin Abi Thalib — sahabat sekaligus mantu-nya kanjeng Nabi — pernah menjelaskan ada tiga kelompok manusia yang beribadah. Pertama, manusia yang beribadah dengan harapan mendapatkan imbalan dunia, surga, dan selangkangan, eh maksudnya pahala. Inilah ibadahnya para pedagang dengan pamrih dan keuntungan lebih besar. Jika menguntungkan akan serius mengerjakan. Namun jika merugikan, ibadah itu akan ditinggalkan.

Kedua, manusia yang beribadah karena takut kepada azab dan siksa neraka — seperti dalam syair (alm) Chrisye:

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkan kau bersujud kepada-Nya

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau menyebut nama-Nya

Inilah ibadahnya para budak, mereka menjalankan suatu amalan tanpa motif ketulusan. Beribadah karena terpaksa agar tidak ‘dimarahi’ Tuhan. Mentraktir cewek dengan niat memacari. Lha ini.

Ketiga, manusia yang beribadah untuk bersyukur dan cinta kepada Allah. Inilah ibadahnya jomblo yang merdeka dari kenangan mantan, eh. Tentu secara fikih diperbolehkan mengharapkan pahala ketika beribadah. Namun di sisi lain akan mengurangi bahkan menghilangkan keikhlasan para pelaku ibadah.

Jadi kalau ada ustadz memberikan ceramah kepada jamaahnya agar rajin beribadah sehingga dapat menjadi penghuni surga supaya bisa pesta seks disana, itu adalah ke-ngawur-an. Bukti nyata rendahnya minat baca.

Hambok sesekali kamu baca esainya Ali Yafie berjudul “Syariat, Hakikat dan Makrifat”, disebutkan bahwa dalam tradisi sufisme ada tokoh terkenal dari Bashrah bernama Rabi’ah al-Adawiyah (713–801 M). Ia memaknai ibadah lebih dari sekedar rutinitas, hadiah atau paksaan. Ibadah adalah wujud cinta hamba kepada Tuhannya. Oh.

Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu

Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu

Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip

Manusia terlena dalam buai tidur lelap

Pintu pintu istana pun telah rapat

Tuhanku, demikian malam pun berlalau

Dan inilah siang datang menjelang

Aku menjadi resah gelisah

Saya kemudian ingat wejangan (nasihat) H. Kasimin pada kultum subuh ramadhan bulan lalu. Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang mendewakan materi dan orientasi segala kehidupannya adalah memuaskan nafsu belaka termasuk golongan sudra. Kasta terendah manusia.

Dengan demikian, sangat jelas bahwa setiap pemeluk agama harus sering melakukan otokritik atas praktik beragamanya. Semoga kekonyolan tidak dihayati sebagai kesalehan dan kebodohan tidak dianggap sebagai kesetiaan.

Camken itu Mbloo.

Penulis penggemar ‘mendoan’ garis keras. Dapat disapa via email: novyekop@gmail.com, fb: Novy Eko Permono.