Ditolak Redaktur; Merobohkan Redaktur yang Berdiri Mengangkang

Malam temanz..

Di sepertiga terakhir bulan Ramadhan kali ini, Ditolak Redaktur muncul hendak mengejutkan ketenangan netijen sekalian. Kelahiran blog selow ini dilandasi pemikiran singkat, spontanitas yang sangat biasa, dan tanpa harapan akan pencapaian jenis apa pun di masa depan.

Semuanya bermula dari obrolan santai di samping warung Bakso Telkom cabang Balai Kota Yogyakarta atas sebuah kegelisahan. Yaitu seringnya seorang penulis mendapatkan penolakan dari redaksi sebuah media atas tulisan-tulisan yang pernah dikirimkannya.

Kami, yang segelintir orang ini yang masih dirahasiakan identitasnya dan mungkin seterusnya begitu (uwuwuwu), menyimpan sejumlah file tulisan yang mengkrak dalam leptop akibat laku kejam redaktur. Hmm, terkadang redaktur memang lebih kejam dari ibu tiri. Hikz, sedynya.

Sebaiknya tumpukan tulisan-tulisan itu tidak berakhir di keranjang sampah, tetapi mendapat kehormatan nongol di blog yang diolah bersama secara komunal. Bukan blog sendiri. Setidaknya ada tiga orang yang membacanya. Ya, tiga orang. Toh angka tiga sudah memenuhi kriteria angka jama’ dalam kaidah bahasa arab dan itu berarti jumlah yang banyak. Yeeee….

Tidak ada rubrikasi, bagusnya memang begitu, karena suatu saat teman saya yang esais mungkin akan menulis puisi dan itu jelas ditolak redaktur media mana pun karena tak ada darah penyair yang mengalir dalam urat nadinya.

Karena bukan darah penyair, mungkin jus tomat yang mengalir di nadinya. Wqwqwq.

Karena blog tak berideologi apa pun ini tidak memiliki hasrat pencapaian, maka berharap saja agar tenaga kami tak habis untuk memposting tulisan. Bahkan jika seandainya tiada netijen mampir untuk membaca. Berharaplah. Berdoalah.

Karena satu hal yang pasti, blog ini akan berkontribusi meramaikan dunia literasi. Dunia literasi, bung dan nona sekalian.

Dunia literasi begitu mulia, kerana Nyai Ontosoroh saja mencintai Minke sebab ia menulis. “Suaramu jauh,” kata perempuan itu.

Kami berjanji hendak merayakan tulis menulis sebrutal mungkin sampai ke puncak orgasme menulis. Jari kami akan menari di atas keyboard leptop mengetik semaunya sampai perlu ganti leptop baru.

Dan jika anda tidak tega laptop kami rusak sehingga tidak dapat menulis lagi, ikutlah berkontribusi dengan menyumbang tulisan. Tak peduli tulisan bagus atau jelek, kami hanya butuh tulisan yang pernah ditolak media. Wkwkwk.

Dunia ini terlalu kejam sehingga membutuhkan obat penenang berupa menulis. Kemarilah, datang ke pesta tanpa akhir ini, tidak semua hal indah akan berakhir.

Salam unch unch..

Disclaimer: Penulis yang tulisannya pernah atau selalu ditolak, bersatulah! Bangun sosialisme! Lawan kuasa redaktur! Jebol pertahanan redaksi media! Robohkan Redaktur yang Berdiri Mengangkang!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.