Mari Membubarkan Organisasi Kita Sendiri

Ilustrasi: Istimewa

Sekira dalam dua tahun lebih lima bulan ini sepertinya Indonesia sedang dalam masa sensi-sensinya. Mirip cewek kalau lagi orgasme menstruasi, yang benar jadi salah yang salah makin keenakan. Ada acara ini-itu bubar, organisasi ini dan itu juga bubar, diskusi di sini dan di sana dibubarin, nonton film juga bubar, ditambah lagi kabar resepsi nikahan si mantan yang juga mendadak bubar.

The Indonesian Institute pada 12 April 2016 merilis daftar buruk bubar-membubarkan yang diambil dari berbagai media. Sekira ada 11 kasus mulai dari 11 Maret 2015 sampai 19 Februari 2016 yang dilakukan oleh ormas-ormas yang memiliki sikap intoleran. Data itu belum ditambah dengan kasus tiga bulan terakhir ini. Termasuk resepsi pernikahan si mantan.

Adanya ribut bubar-membubarkan belakangan membuat saya-dan barangkali kawan-kawan saya yang tidak jomblo (maap buat yang jomblo) membuat khawatir hubungan saya sama si He’eum jadi ikut bubar. Alih-alih menikmati masa ta’arufan, malah membuat saya lebih protektif menjaga hubungan.

Maka, dua minggu kedepan saya punya rencana mau bilang sama si He’eum enggak usah jalan malam, makan malam, nonton bioskop, kongkow-kongkow, ke mall, dan jenis lainnya bukan karena pelit, tapi karena was-was tetiba di jalan ada ormas yang bubarin hubungan kami. Kan engga asik!.

Selain kabar pembubaran HTI dan fans club-nya mas Ahok-Djarot, Selasa kemarin segerombolan pemuda atas nama Pemuda ‘Nganu’, eh.. Pancasila menggeruduk dan membubarkan acara Pameran Seni Wiji Thukul yang digelar Pusat Studi dan Hak Asasi Manusia (PUSHAM) UII di Yogyakarta.

Menurut beberapa kesaksian seorang akwan, beberapa dari gerombolan itu sekonyong-konyong masuk dan berteriak mencari-cari Wiji Thukul. Pameran bertema “Aku masih utuh dan Kata-kata Belum Binasa” diendus mereka membawa bau Kuminis, jadi harus dibubarkan. Semua bubar, sangat bar-bar dan babarblas tidak jelas.

Duh mas, mbok ya waktu sampean-sampean itu lebih baik buat kerja-kerja-kerja saja. Titah pak Presiden loh itu! Saya saja tidak berani melawan. Gitu saja kok repot toh mas.

Saya hanya pengen ngasih pilihan saran mas, pertama mbok ya kalau mau bubar-membubarkan itu yang lebih elegan, berwibawa, mencirikan intelektual kekinian, pake teori, dan atau minimal tahu dulu duduk persoalan.

Semisal di pameran Wiji Thukul, ya Allah mas, belio itu cuma cah wingi yang cuma berkumis tipis yang belum nemu jalan pulang sampai sekarang. Kok ya tega-teganya dituduh Kuminis.

Sekali-dua kali baca dan beli buku-buku puisi-puisinya dulu di penerbit indie, atau kalau merasa suaranya engga sekeras dan selantang penulisnya, minimal baca biografinya seperti saya. Habis itu dianalisis, dan bikin kritik sastra. Jangan bingung mau mempublisnya di mana, di Facebook itu loh sudah banyak contoh tulisan kritikus sastra dadakan yang berseliweran.

Lagian toh mas kata sampean negara kita itu ‘bhineka tunggal ika’ dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Tapi kok ya mentok di kata-kata tanpa perbuatan yang semestinya. Bukankah taqwa yang sebenar-benarnya taqwa itu mesti diimbangi dengan laku kita?!. Ingat mas, sebentar lagi Ramadhan tapi prilaku kita masih bar-bar. MasyaAllah..

Bahaya juga loh mas kalau bubar-membubarkan sampai dibudidayakan macam ikan lele di dalam kurikulum pengkaderan di setiap organisasi. Tidak akan ada bedah film, pameran seni, dan tek-tek bengek aktifitas yang menumbuhkan intelektual kita itu. Tapi ya tidak heran pula kalau generasi kita lebih suka baca status Facebook daripada baca buku atau ngumpul-ngumpul sambil diskusi.

Saya jadi takut untuk ikut berorganisasi.

Lebih bahaya lagi sikap-sikap intoleran ini malah ujung-ujungnya sampai membubarkan Negara. Mbok ya jangan mau mengamini olok-olokan bule Belanda itu dengan menyebut kita orang inlander yang masih mau diprovokasi karena tidak jeli melihat situasi.

Saya juga jadi bersyak-wasangka kalau kita memang engga bisa move on dari pak Soeharto. Padahal loh, sudah lima kali ganti Presiden. Tapi memang berat sih, bayangkan selama 32 tahun kita dikangkangi Orba. Belum lagi beban masalalu koloni Belanda yang sudah menggagahi kita selama ratusan tahun.

Lha, saya saja yang punya pengalaman pacaran seminggu sama si mantan masih berat rasanya datang ke resepsi pernikahan. Uluhuluuhhhh.

Saran kedua, barangkali lebih mending membubarkan semua organisasi.

Telah banyak kekisruhan dan kekacauan dan kebencian yang ditimbulkan oleh oknum atas nama organisasi. Telah banyak orang yang jengah patah hati karena kegaduhan demi mempertahankan kepentingan politik identitas semata. Keukeuh merasa organisasinya yang paling benar dan tak segan memenggal kemanusiaan.

Kita telah dilabeli dengan dikotak-kotakan melalui organisasi. Si anu dari golongan sana, si itu identitasnya ini. Dampaknya sampai pada pengkaplingan ruang-ruang untuk berekspresi.

Toh kita cuma butuh ruang untuk bersenggama bercengkrama, belajar bersama, diskusi bersama tanpa pandang bulu sebagai sesama manusia yang berpikir. Ruang-ruang itu bisa diciptakan dimana saja, terkecuali di kamar mandi. Jadi mari kita bubarkan organisasi kita sendiri.

Dari pengakuan penulis-yang belum siap disebut namanya, “tulisan semengerikan ini telah ditolak oleh redaksi voxpop.id”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.