Percayalah, Menulis Itu Susah

Oleh Panitia Ditolak Redaktur
Judul tulisan ini hanya akan menimbulkan perdebatan paling keparat, jika disodorkan di satu sesi program binaan menulis, di mana sekelompok orang datang berbondong-bondong di dalamnya, yang berani membayar mahal hanya untuk tahu bagaimana cara dan bisa menulis. Seperti program pelatihan menulis berbayar yang diadakan motivator sampai media ternama. Bayarnya sungguh mahal.
Biasanya, program binaan ini menyasar orang-orang yang merasa gentar ketika berhadapan dengan pensil dan selembar kertas, hanya untuk sekadar menuliskan sebuah judul “Berlibur ke Rumah Nenek,” atau hal yang paling privat sekalipun seperti “Dear Diary”.
Orang-orang itu termasuk saya. Hehe.
Di sesi lain — — dan kau pun tentu bisa membayangkan- — seorang pemandu mendekat kepadamu. Menyuruhmu untuk memejamkan mata, dan bodohnya kau menurut saja lalu mengkhidmati keterpejamanmu dengan saksama. Saat itulah sang pemandu lirih membisikimu bisikan. Seperti mantra, atau kutukan. Entahlah.
“Bayangkan jika hari ini adalah terakhir kau hidup,” kalimat itu keluar dari mulut sang pemandu, hanya untuk menggali sisa-sisa semangat di dadamu. Dan kau terpengaruh, mengiyakan, lalu dengan mantap kau benar-benar mengatakan hal ini di dalam hati “Ya, aku harus menulis”.
Menggelikan, memang. Akui saja bahwa menulis itu memang susah. Hehe.
Dari sana, ketakutan untuk mulai menulis dan harapan menjadi penulis berbanding terbalik. Yaitu ketika rasa takut untuk menulis terasa lebih nyata daripada harapan menjadi penulis dengan karya yang diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Ketakutan untuk menulis biasanya lebih dekat dengan urat nadi.
Ketakutan dan harapan dikomodifikasi — -dengan pakem-pakem model tulisan tertentu — -menjadi sebuah kebutuhan yang perlu bagimu. Di titik itulah ia, menemukan bentuknya yang paling absurd.
Mulanya saya kira — -dan kau tentu tahu — -menulis semudah mengartikan kata “menulis” yang berasal dari suku kata tulis. Itu hanya sebuah kata kerja. Maka “jika kau suka, mulailah bekerja menulis,” sang pemandu berkata lagi.
Tapi ketakutan menulis itu tak begitu saja lenyap. Adakalanya, seminggu usai kau mengikuti ritus menulis tadi, ternyata kau tidak lagi menulis. Biasa saja.
Tentu itu membuatmu merasa berat untuk sekedar kembali memulai sebuah tulisan berjudul “Percayalah, menulis itu susah”. Walau dengan segenap ingatanmu, kau membawa pulang sebuah quote dari sang pemandu yang bertutur bahwa, “Untuk menghilangkan rasa takutmu, kau harus bisa menaklukkan ketakutan itu sendiri”.
Sebuah kalimat yang sepintas kau ingat begitu mirip dengan perkataan tokoh super hero rekaan bernama Batman.
Meski kau berusaha menyisihkan dalam imanmu, sebuah doktrin yang mengatakan bahwa “Menulis itu bakat”. Tidak, kau memang tidak terlalu mempercayai itu.
Terlalu banyak penulis yang mengetahui bahwa dirinya memiliki bakat menulis yang terpendam. Tapi, tidak sedikit penulis yang menulis sembari jualan ini dan itu, program menulis ini dan itu. Karena mereka tahu, menulis itu susah. Percayalah.
Sependek pengetahuan saya, tidak ada penulis ternama macam Umberto Eco yang sekonyong-konyong nyeletuk mendeklarasikan sebuah tesis bahwa “menulis itu mudah” semudah meludah tanpa sadar ketika kau tidak sengaja menginjak tai kucing dengan sepatumu. Chih!
Terkecuali junjungan saya, Tere Liye. Oh, Tuhan memang begitu kaya. Dunia tulis–menulis memiliki tokoh ini. PujaTere Liye.
Tentu kau tahu betapa entengnya Tere Liye mengisahkan pengalaman sahabatnya yang mampu mengerjakan skripsi hanya dalam waktu dua minggu. Sedang skripsimu yang berjudul “Analisis Kelas dalam tayangan kartun Spongebob episode 265” itu malah dilempar ke mukamu.
Tentu saja kau marah ketimpuk skripsi sendiri. Lalu tiada lagi hal lain dalam pikiranmu selain sebuah gagasan, bahwa bunuh diri dengan cara menyantap 1000 kecoa tanpa minum di pagi hari adalah ritual paling mulia yang bisa dilakukan.
Tidakkah juga kau akui begitu hebatnya belio yang mampu memamah kata-kata menjadi bejubal buku-buku romantis hanya dalam sepersekian waktu. Sungguh itu tidak hanya terjadi di alam dongeng Sangkuriang yang sakti.
Tidak. Aku selalu ragu dengan kisah Jonru dan Kecepatan Tere Liye. Setahuku, tidak ada penulis yang bisa seperti mereka.
Jorge Luis Borges misalnya, menganggap keterampilan seorang penyair adalah sesuatu yang aneh. Menurut Borges, penulis atau penyair harus mampu menguasai segalanya. Suatu pengalaman esensial manusia. Menjadi seorang yang mampu membelah dirinya untuk hidup menjadi “diri” yang lian dengan cara hidup yang lain.
Menjadi diri yang lian dengan cara hidup yang lain. Catet!
Lalu kalimat di atas membuatmu bingung dan bertanya, “diri yang apa?” “diri yang mana?” “diri siapa?”. Kau akan terus mengulang-ulang pertanyaan itu sampai kau tak sadar, tulisanmu sama sekali tak beranjak ke paragraf berikutnya.
Filsuf sekelas Bertand Russell bahkan mengaku, bahwa ia tak mengetahui bagaimana sebaiknya menulis itu dilakukan. Ketahuilah, sampai umur 21 tahun, ia masih saja meniru gaya tulisan John Stuart Mill.
Demi menuliskan sebuah tulisan yang baginya memiliki nilai estetis, Russel mengorbankan waktunya untuk duduk berjam-jam hanya untuk memikirkan sebuah tulisan yang akan ia tulis dengan sesingkat mungkin tanpa satu pun kata ambigu di dalamnya.
Percayalah, menulis tidak semudah yang diucapkan sang pemandu kepadamu. Toh kau tidak yakin, sudah berapa banyak buku yang ditulis sang pemandu. Kau lebih percaya pada deretan tokoh penulis dunia yang memiliki pengalaman-pengalaman tragis dalam menulis.
Meski kau tidak akan pernah mendapati kisah di dalam literatur manapun yang ada di dunia ini bahwa, pada suatu kesempatan sebelum Animal Farm rampung, George Orwell berlari terengah-engah ke kandang ayam di sisi rumahnya dan berteriak “Menulis itu susah, bangsaaattttt”.
Juga tidak ada jejak catatan ketika Gabriel Garcia Marquez bertemu secara tidak sengaja dengan Ernest Hamingway bersama istrinya di jalan Boulevard, Paris. Seketika itu juga Gabo mendekati Ernest dan membisikkan “Mas, nulis kok ya susyah byiiianget”.
Tidak. Tidak begitu. Tidak akan ada kisah begitu. Itu hanyalah karangan seorang bocah tengil yang sedang kesusahan untuk membuat tulisan mudah berjudul “Percayalah, Menulis itu susah”.
