Tidak Ada Cara Cepat Menulis Cepat

Ditolak Redaktur
Jul 25, 2017 · 3 min read
Ilustrasi: DR

Oleh Candra Malik

Sulit bagi saya menerangkan bagaimana cara menulis cepat. Sebab, bagi saya pun, soal itu memang masih gelap. Ya, setiap kali hendak menulis, saya terlebih dahulu memasuki gelap. Di dalam kegelapan itu, barulah saya menyadari pentingnya pelita. Di dalam kegelapan itulah, saya mencari-dan kemudian menemukan-cahaya.

Jika diminta menyebutkan prinsip dalam kepenulisan, saya hanya punya satu: saya tidak tahu, maka saya menulis. Jika saya merasa tahu, apalagi merasa lebih tahu, dorongan dari dalam untuk ceriwis makin kuat. Akhirnya, saya justru jadi banyak bicara namun sedikit karya. Dan, itu amat sangat berbahaya. Terutama bagi saya.

Oleh karena itulah, meski tidak tahu apa-apa, saya tetap berani menulis. Lho? Lha trus menulis apa? Ya, jelas saja menulis ketidaktahuan saya itu. Dan, bukankah itu kejujuran? Untuk apa menulis dusta? Buat apa menulis sesuatu yang kita sebetulnya tidak tahu namun pura-pura tahu? Untuk apa menulis hanya agar dianggap tahu?

Bukan hanya kebohongan yang muncul, dan kemudian disebarkan, jikalau menulis ternyata digunakan sebagai topeng sotoy. Bahkan, kita justru bisa saja terjebak dan terjerembab pada plagiarisme gara-gara memaksakan diri menulis tentang sesuatu tanpa pengetahuan yang memadai. Dan, tanpa pengalaman yang mumpuni.

Kini semakin marak pakar segala hal di lingkungan kita. Merasa memiliki hak dan wewenang menilai peradaban dan segala dinamika di dalamnya. Tentu, mudah ditebak: tanpa kedalaman. Data dan fakta tidak akan pernah cukup memberi kita perenungan jika penulisnya bahkan tak lebih dulu mengendapkan diri sendiri.

Jika demikian, lantas bagaimana dengan menuliskan ketidaktahuan, seperti yang menjadi prinsip kepenulisan saya itu? Ini persoalan pelik yang saya terus-menerus masih bergulat dengannya. Yang saya lakukan ialah memindahkan pertanyaan-pertanyaan di dalam diri saya ke dalam tulisan. Supaya menjadi milik Anda juga.

Saya tidak tahu, maka saya menulis. Ya, menuliskan ketidaktahuan saya. Menulis pertanyaan-pertanyaan kepada pembaca yang budiman. Saya percaya, pembaca adalah manusia yang cerdas. Memiliki banyak rujukan dalam hidupnya. Punya banyak referensi untuk melakukan ini-itu atau tidak melakukan itu-ini. Keren.

Harapan saya, pertanyaan-pertanyaan saya itu kemudian dibawa ke wilayah-wilayah yang lebih luas. Dari warung-warung kopi dengan orang-orang yang mengobrol ngalor-ngidul, hingga majelis-majelis yang ketika membahas satu tema saja membutuhkan sejumlah dalil dan dalih pembenar. Sederhana, bukan?

Bukan, saya bukan bermaksud untuk menyebarluaskan kegelisahan. Sebab, saya percaya masing-masing dari kita sudah memiliki kegelisahan, bahkan berlebih. Buat apa saya tambahi lagi jika yang Anda punyai sudah sampai tumpah-tumpah? Melalui tulisan, saya hanya ingin mengatakan, saya juga gelisah.

Sama. Kita sama-sama gelisah. Kita suka bertanya, mengapa begini mengapa pula begitu. Kita sering kali menggerutu, ini semua tidak seharusnya terjadi. Kita pun tak jarang bertanya,”Sampai kapan akan begini-begini saja?” Kapan semua ini akan berakhir? Lalu, kalau sudah berakhir, kita akan bagaimana, ke mana, mau ngapain?

Jika diringkas, yang kita rasakan hanya satu hal yaitu rasa tidak terima. Ya, kita terus menerus tidak terima terhadap apa-apa yang sudah kita terima. Padahal, untuk membereskan kegundahan itu, ya cuma ada satu cara: terima. Ya, terima saja apa adanya. Tapi, memang, bicara selalu lebih mudah dari melaksanakan.

Oleh karena itulah, saya tidak mau banyak bicara. Saya mau menulis saja.[]

* Budayawan sufi.

Ditolak Redaktur

Ditolak Redaktur hanyalah blog santai sekali yang dirilis di sepertiga terakhir Bulan Ramadhan 1438 H. Blog ini didekasikan untuk merayakan dunia literasi agar semakin riuh. Siapa saja diperbolehkan mengirimkan tulisan dari jenis apapun. Fanspage kami: @ditolakredaktur

Ditolak Redaktur

Written by

Kirim tulisan ke: ditolakredaktur@gmail.com

Ditolak Redaktur

Ditolak Redaktur hanyalah blog santai sekali yang dirilis di sepertiga terakhir Bulan Ramadhan 1438 H. Blog ini didekasikan untuk merayakan dunia literasi agar semakin riuh. Siapa saja diperbolehkan mengirimkan tulisan dari jenis apapun. Fanspage kami: @ditolakredaktur

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade