Bingung Kepepet

Meromansa Sesuatu yang Banal

Catatan: saya menggunakan kata ‘gambar’ sebagai padanan kata ‘drawing’

Halo adik kelas tersayang

“Kalian mau bikin pameran nggak?” tanya si kakak tingkat. Adik kelas bilang mau, adik kelas bersemangat, adik kelas pun hilang. Bingung dan kepepet telah menjadi suasana keseharian mahasiswa tingkat dua seni grafis menjelang pameran gambar tahunan Kelompok Grafis Berseni (KGB). Dengan adanya perubahan kurikulum di mana semua mahasiswa tingkat dua dapat mencoba untuk menggrafis serta bertambahnya studio gambar, sebuah pertanyaan relevan tidaknya pameran gambar ini pun muncul dari seorang peserta diskusi setahun silam.

Dari tahun ke tahun alasan di samping tradisi dan juga inisiasi, gambar merupakan sebuah kemampuan dasar dalam menggrafis. Katanya, kalau mau masuk grafis gambarnya harus bagus. Pameran gambar yang pada mulanya dilakukan di semester ganjil menjadi sebuah ajang unjuk gigi seberapa elok gambar para adik-adik kelas ini. Mungkin itu citraan yang ditangkap orang luar dalam pameran tahunan ini, tetapi interaksi dan dinamika yang terjadi di dalam bisa jadi bermakna lebih.

Melihat semut berjalan di pinggir tembok dilihat beberapa kali pun tetap saja semut di pinggir tembok. Mereka akan terus berjalan mengikuti feromon yang dikeluarkan rekan di depannya dan kita sebagai manusia pun takkan begitu memperdulikan hal tersebut karena semut di tembok hanyalah hal yang banal. Perkuliahan, tugas-tugas studio, juga pameran yang tengah dihadapi oleh teman-teman grafis 2014 pun saya rasa sama dengan para semut yang berbaris di pinggir tembok. Hanya saja para adik kelas ini mencoba mengangkatnya menjadi keseharian, memaknai hal banal itu di Bingung Kepepet.

Absennya para dosen dan juga asisten terkadang membuat adik kelas bingung untuk bertanya pada siapa menyoal teknis-teknis menggrafis. Ada rasa segan dari diri adik kelas untuk menanyai kakak-kakaknya yang tampak bertengger di studio. Karena tak kenal maka tak sayang, kegiatan pameran tahunan ini pun guna mempererat, mengintimkan, dan menyayangi para anggota KGB yang jumlahnya tak lagi sebanyak dulu.

Perbincangan dua arah antara para kakak dan adik-adiknya memunculkan takut dan insekuritas sebagai tema yang diusung dalam karya gambar mereka, terlihat baik dari gambar-gambar secara historis maupun jawaban yang diberikan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Hal-hal banal dari kenyamanan di dalam kamar sampai domestikfikasi mereka maknai untuk dapat mengenal diri mereka lebih dalam. Mungkin sebuah pengalaman baru di mana dalam proses berkarya para adik kelas ini dibimbing dan tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi.

Rasa kebingungan pun semakin meluap ketika ternyata ada pula keharusan untuk memenuhi nilai akhir dengan disjungsi tema: May Day. Adik kelas bertanya dan seorang kakak menjawab, “Kamu jangan pikirin itulah, tema mah tema aja. Intinya ‘kan bagaimana kamu merepresentasikannya.” Para adik pun mengangguk. Mungkin paham, mungkin panik, mungkin juga tetap kebingungan. Bingung Kepepet: Meromansa Sesuatu yang Banal adalah keseharian teman-teman grafis 2014 yang tak hanya memamerkan karya-karya gambar, tetapi juga perjalan mereka menggrafis selama setahun.

salam sayang,

Rachmawati Widyasari


Tulisan ini merupakan sebuah catatan Kuratorial untuk pameran gambar bertajuk “Bingung Kepepet” di Bulan Mei 2016