Lupakan Lorem Ipsum

Tulislah Konten Produkmu Sejak Awal

All photos by Dwinawan Hariwijaya

Narator: Orang ketiga di luar cerita, bergantian menceritakan kedua tokoh utama. (Catatan: Narator bersuara rendah dan dalam)

Tokoh utama: Copywriter dan Designer
Tokoh pembantu: (belum ditentukan)

Latar situasi: Pembuatan fitur terbaru, rilis bulan depan
Latar tempat: Sebuah startup di Slipi

Konflik: Lorem ipsum dolor sit amet…
Penyelesaian konflik: Musnahkan Lorem ipsum

Ya, kamu tidak salah baca. Ini memang skenario film.


Scene 1.

Narator:
Ada sebuah mantra sakti yang selalu diucapkan Designer sebelum mengirim design-nya pada Copywriter.

Jika kamu ingin tahu, duduklah di samping Designer pada pukul empat sore. Perhatikan bagaimana ia memejamkan mata sebelum memencet tombol enter. Dengarlah bagaimana ia dengan khusyuk merapal sebuah mantra:

[Fokus beralih ke Designer]
Lorem ipsum dolor sit amet, at animal evertitur his. His ei erant blandit, eum simul torquatos ea. Has ex error repudiare. Facer minim tempor cu sea. Ea ludus mucius eloquentiam ius.

Sea iriure alienum apeirian an. Ut nibh quaeque conclusionemque has. Mei erant iuvaret salutandi id, cum alii patrioque hendrerit eu. Eu nam mollis vocibus. At eos petentium definitionem, eu unum adversarium interpretaris est, erat essent antiopam no sit.

Narator:
Setelah mantra itu usai diucapkan dan tombol enter ditekan, design-nya pun beralih pada inbox Copywriter.


Scene 2

Narator:
Ting! Copywriter mengerjap. Inbox-nya berkedip-kedip. Designer baru saja mengirimkan design; alur lengkap dari sebuah fitur baru yang akan rilis bulan depan. Ia langsung membukanya.

Mantra itu pastilah amat sakti karena Designer menyelipkannya di mana-mana. Halaman demi halaman yang dibuka Copywriter penuh dengan mantra itu.

Lorem ipsum dolor sit amet. Lorem ipsum dolor sit amet. Lorem ipsum dolor… Sihir si mantra sakti itu bekerja, membuat Copywriter tenggelam dalam tidur yang sangat panjang.

Tidak, tidak! Ini bukan cerita dongeng di mana Copywriter akan terbangun setelah dicium. Copywriter akan terbangun sendiri pada pukul dua pagi, satu hari sebelum fitur itu dirilis.


Scene 3.

Narator:
Setelah terlelap berhari-hari, Copywriter terbangun tepat pukul dua pagi. Ia mengerjap-ngerjap, menatap berkeliling dan bingung. Jadi, ia pun memutuskan untuk meneruskan tidur lagi.

Narator:
Esok paginya.

Ibu Manager (oke, Tokoh pembantu sudah ditentukan):
Sudah selesai wording-nya?

Copywriter:
[Mengerjap] Wording?

Ibu Manager:
[Menarik kesimpulan sendiri] Oh belum, ya? Oke, wording-nya belakangan saja kamu masukkan sendiri. Terima kasih. [Tersenyum]

Narator:
Copywriter lalu teringat pada design yang beberapa hari sebelumnya dikirim oleh Designer. Sebuah design dengan mantra jahat yang membuatnya jatuh terlelap. Ia mengerjap, Designer pernah bilang bahwa tugas Copywriter adalah menerjemahkan mantra itu menjadi bahasa yang dimengerti oleh pengguna produk mereka.

Narator:
Namun, Designer lupa menjelaskan konteksnya dan Copywriter tidak punya waktu untuk berpikir lama-lama.


Scene 4.

Narator:
Waktu rilis fitur baru pun tiba.

Ibu Manager:
[Kembali mendatangi Copywriter, berbicara sambil tersenyum] Akhirnya, nanti malam fitur baru kita rilis! Tapi tenang, akan aku matikan dulu karena belum ada wording-nya. Besok sore, setelah semua wording-nya kamu isi, akan aku buka untuk publik. Semangat! [Ibu Manager pergi]

Narator:
Kopi. Copywriter butuh bercangkir-cangkir kopi untuk membantunya berpikir dan begadang menyelesaikan wording.

[Latar: Malam hari, hujan deras]

[Copywriter (tampak belakang) masih mengetik di mejanya, rambutnya berantakan karena ia sering menggaruk kepala. Terdengar suara keyboard diketik. Cangkir kopinya sudah diisi ulang empat kali.]

Narator:
Lihatlah bagaimana Lorem ipsum membunuh produkmu.

[Di latar belakang, suara keyboard diketik masih terdengar.]

Lorem ipsum menunjukkan bahwa Copywriter dan Designer tidak berkolaborasi dengan baik.

Lorem ipsum akan mengubah bagaimana cara konten dalam produkmu dilihat: Konten bukanlah sesuatu yang penting dan bisa diisi kapan saja. Konten selalu bisa diisi belakangan. Karena mengubah konten jauh lebih mudah ketimbang mengubah design. Karena untuk mengubah konten, kamu hanya perlu menulis kata-kata dan kamu sudah belajar menulis sejak TK.

Menggunakan Lorem ipsum juga menunjukkan bahwa kamu tidak memikirkan konten produkmu sejak awal. Kamu tidak memikirkan, atau bahkan tidak pernah tahu pesan apa yang ingin disampaikan pada penggunamu.

Mengirim design berisi Lorem ipsum pada copywriter hanya akan membuatnya tersesat saat menerjemahkan. Maka jangan berharap kamu akan mendapat konten sempurna. Pada akhirnya, hanya akan ada konten cuma-cuma untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam design-mu.

[Masih terdengar suara keyboard di latar belakang.]


Scene 5.

Ibu Manager:
[Uring-uringan] Customer marah-marah. Dia tidak mengerti cara menggunakan halaman ini. Sekarang dia minta uangnya dikembalikan. Pusing.

Copywriter:
[Bertanya dengan wajah bingung] Bagian mana yang tidak dimengerti oleh customer?

Ibu Manager:
[Menjelaskan] Customer kira kalau di bagian ini kita akan mengembalikan uangnya, padahal seharusnya dia yang bayar sama kita. Pusing. Pusing.

Copywriter:
[Dalam hati] Itu salahku. Aku memang menuliskannya begitu. Kukira halaman ini bekerja dengan cara yang sama dengan halaman sebelumnya, maka aku menuliskannya hampir serupa. Hanya mengganti bagian atasnya saja.


Scene 6.

[Copywriter berbincang dengan Designer]

Copywriter:
[Terdengar lelah] Tolong bantu aku. Sudah berkali-kali kita mengalami hal ini. Aku tidak bisa menerjemahkan apa maksudmu.

Designer:
[Khawatir] Apakah design-ku tidak jelas? Design-ku tidak bagus?

Copywriter:
Bukan itu. [Berdecak] Design-mu bagus, hanya saja kita tidak pernah membicarakannya. Mengapa kamu membuatnya seperti itu? Apa fungsinya? Kamu ingin penggunanya melakukan apa? Aku tidak tahu. Kita tidak pernah berkomunikasi dan sayang sekali, aku tidak bisa membaca Lorem ipsum.

[Hening]

Designer:
[Berpikir sejenak, lalu menawarkan solusi] Bagaimana jika kamu ikut diskusi sejak awal? Bahkan sebelum aku membuat wireframe.

Copywriter:
[Menaikkan sebelah alis] Ide bagus. Kita bisa menentukan kontennya sejak awal dan kamu harus berjanji untuk tidak menggunakan Lorem ipsum.

Designer:
[Terlihat bingung] Aku tidak bisa menulis seperti kamu.

Copywriter:
Kamu bisa menulis dengan bahasamu, tidak perlu kamu pikirkan soal tata bahasa karena itu urusanku. Setidaknya, kamu memberiku arahan apa maksud konten-konten di situ karena Lorem ipsum benar-benar membuatku tersesat.

Designer:
[Masih tampak bingung] Aku tidak tahu bagaimana caranya.


Scene 7.

Ting! Sebuah pesan masuk ke inbox Designer dan ia lekas-lekas mengeceknya.

Tips Copywriting untuk Designer

  1. Design juga berarti memilih kata-kata yang tepat dan meletakkannya dengan tepat.
  2. Singkat. Jangan tulis omong kosong.
  3. Gunakan Anda, agar produkmu terasa dekat dengan penggunanya.
  4. Hindari kata-kata sulit. Di kehidupan nyata, kita berkomunikasi dengan kata-kata sederhana. (Mungkin kamu mengerti istilah wireframe, tapi kebanyakan orang mengertinya sebagai sketsa.)
  5. Baca tulisanmu keras-keras. Jika terdengar tidak manusiawi, hapuslah, lalu tulis ulang.

Aku harap, kamu dapat mencoba langkah-langkah ini saat mengerjakan design-mu selanjutnya. Selamat mencoba!

Best,
Copywriter

[Penutupan: Designer membalas email (sambil tersenyum)]

Dear Copywriter,
Ya, akan kucoba di proyek selanjutnya.

Dulu, aku menghabiskan satu semester di masa kuliahku untuk menghafalkan kata-kata ini:

Lorem ipsum dolor sit amet, at animal evertitur his. His ei erant blandit, eum simul torquatos ea. Has ex error repudiare. Facer minim tempor cu sea. Ea ludus mucius eloquentiam ius.

Sea iriure alienum apeirian an. Ut nibh quaeque conclusionemque has. Mei erant iuvaret salutandi id, cum alii patrioque hendrerit eu. Eu nam mollis vocibus. At eos petentium definitionem, eu unum adversarium interpretaris est, erat essent antiopam no sit.

Akan kusampaikan pada adik-adik kelasku kalau mereka tidak perlu menyia-nyiakan waktu untuk menghafalnya, seperti yang kulakukan dulu.
Thanks.

Best,
Designer


Tamat.