🤔 Yang Harus Diketahui Sebelum Memberikan Design Feedback Berkualitas

Memberikan design feedback nggak sesulit itu. Gini,

Sadar nggak? Semua orang, baik personal maupun profesional tak akan bisa lepas dari yang namanya feedback. Kita hampir selalu berada dalam situasi menerima maupun memberikan feedback. Misalnya:

Sayang, aku gendutan ya?


Begitu pula bagi User Interface Designer (UID). Feedback adalah bagian tidak terpisahkan dari workflow seorang UID.

Feedback yang berkualitas dapat membantu pemula untuk segera mengejar standar industri, juga mempersenjatai veteran di garis depan perkembangan UI Design.

Feedback adalah alat sederhana yang sangat powerful untuk mengetahui seberapa jauh skill seorang UID telah berkembang.

Ya… meskipun kolom komentar website showcase UI design masih dipenuhi dengan feedback semisal:

“Wow! Pakai tools apa?”

“Keren banget! Cek punyaku juga ya!”

“Jual peninggi dan pelangsing, cek IG kita sis!”

Generator komentar untuk dribbble http://commments.com

Tidak apa-apa, secara pelan-pelan dan kolektif kita bisa meningkatkan kualitas feedback yang kita berikan.

Jika kamu adalah seorang UID yang ingin berkontribusi pada ekosistem desain di sekitarmu, mulailah dengan berlatih memberikan feedback yang konstruktif.

Jika kamu sehari-harinya bekerja bersama UID dalam tim-mu, berlatihlah memberikan feedback yang produktif.

Langkah pertama; ketahui kualitas design feedback seperti apa yang konstruktif dan produktif itu.


Dalam sesi quality circle beberapa waktu yang lalu, kami berlatih memberikan feedback dengan case study desain UI aplikasi mobile.

Kenapa perlu berlatih?

Feedback yang berkualitas sangat kritikal untuk memancing diskusi dan membantu munculnya corner-cases ke permukaan. Memberikan feedback dengan baik menjadi sangat penting untuk dibiasakan 😊

Dari hasil latihan dan diskusi tentang feedback tersebut, ada beberapa takeaways mengenai design feedback yang berkualitas:

Berikan feedback yang spesifik

“Hmm, kurang masuk kelihatannya. Agak kurang clean.”

Ya?… Gimana? Yang mana? Contoh feedback seperti itu membuat UID kadang jadi malas menunjukkan desainnya dan meminta pendapat.

Pendapat yang dianggap positif akan menjadi self-esteem boost sesaat, sedangkan komentar yang dirasa negatif akan terasa sangat judgmental. Padahal sangat penting untuk mendapatkan design feedback sedini mungkin.

Bandingkan dengan feedback yang merujuk ke hal spesifik semisal:

Hierarki ukurannya sudah cukup jelas, tapi itu membuat penggunaan space secara horisontal jadi kurang efisien ya.
Jarak antar elemen membuat halamannya jadi terlihat terlalu cramped. Apa efeknya kalau kita menggunakan komponen yang lebih kecil ukurannya? Gimana menurutmu?”

Feedback yang spesifik (mengacu pada sebuah konteks, nilai plus kalau secara langsung ditunjukkan bagian mananya) akan membantu UID yang bersangkutan untuk:

  1. Menyadari kenapa hal tersebut bisa terjadi, kemudian memancing diskusi yang produktif.
  2. Memutuskan aksi apa yang perlu dilakukan.
  3. Memikirkan desainnya secara zoom out — yang kadang terlupa kalau sudah terlalu fokus (zoom in) kepada detail.
Mitch Goldstein, Profesor di Rochester Institute of Technology tentang memberikan feedback yang berguna

Kontekstual – relevan dengan goals desainnya

Pada sebuah sesi design feedback yang tidak termoderasi dengan baik, hanya butuh 143 detik untuk mengubahnya menjadi Indonesia Lawyers Club.

Pemberi feedback kadang melupakan proses yang ditempuh dalam menghasilkan suatu UI design, termasuk alasan mengapa pada mulanya UI tersebut perlu didesain.

Supaya feedback yang kita berikan menjadi relevan, cara paling sederhana adalah dengan menghubungkan feedback tersebut dengan design goals-nya. Siapa usernya, kebutuhannya seperti apa, intinya kontekstual.

Memang, tidak semua orang yang memberikan feedback paham dengan konteks. Jika berada di posisi penerima, penting juga belajar untuk jangan baper terhadap feedback.

Hindari so-what-feedback

Feedback tanpa actionable yang jelas dapat membuat penerimanya bingung untuk menanggapi lalu berekspresi:

“Huh? Terus aku kudu piye?” ¯\_(ツ)_/¯

Actionable pada design feedback bukan berarti menyuruh “Kamu harusnya <insert solusi desain 1>, kamu harusnya <insert solusi desain 2>.”

Lebih tepatnya, tunjukkan bagian mana yang menurutmu perlu dipikirkan ulang, atau mendapat perhatian lebih dalam sebuah desain. Pancinglah diskusi.

Dibandingkan hanya bilang, “Bagian ini kurang prominent ya?” (so what?) coba gali lebih dalam apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh UID tersebut:

“Boleh cerita tentang struktur informasi di halaman ini? UI flow ke halaman ini datangnya dari mana? Arsitektur informasinya mungkin perlu dipertimbangkan lagi karena perhatian user sepertinya akan langsung tergiring ke area itu.
Informasi lain jadi hampir pasti terlewatkan karena user hanya akan ada di halaman ini dalam beberapa detik ya? What do you think?”

So-what-feedback tidak sepenuhnya buruk asal bisa dielaborasi lebih lanjut dengan actionable. Tanpa actionable yang jelas, pertumbuhan skill seorang UID mungkin akan menjadi terlalu pelan dan feedback hanya akan dianggap basa-basi semata (padahal bukan loh 😔)

Actionable pada feedback akan membantu UID melihat hasil desainnya dengan mode zoom out — zoom in — zoom out — zoom in. Mereka akan belajar dengan cepat melalui pergantian perspektif ini.

Tidak pede ketika akan menambahkan actionable pada feedback? Berlatihlah!

  1. Kumpulkan desain-desain yang disukai (alternatif; cari juga desain-desain yang kamu tidak sukai). Bisa dari app yang kamu gunakan atau website yang kamu kunjungi sehari-hari. Gunakan internet!
  2. Tanya kenapa kamu suka/tidak dengan desain tersebut. Karena warnanya? Komposisinya? Balance-nya? Spacing-nya? Typeface-nya? Tanya kenapa sampai kamu menemukan design pattern yang menurutmu masuk akal untuk dijelaskan.
  3. Ceritakan kepada teman, kenapa kamu suka (atau tidak) dengan desain-desain tersebut.
  4. Ulangi dan berlatihlah setiap ada waktu senggang.

Sampaikan dengan pemilihan kata yang tepat

Instruktur Bahasa Inggris saya pernah membahas tentang power words;

Nobody wants ‘nice’, nobody wants ‘good’, people wants ‘extraordinary’, ‘unique’, ‘excellent’!

Intinya, memilih kata-kata itu sama seperti memilih peralatan. There is right tool for a right job. Kata-kata bisa secara intensional dipakai untuk menyakiti atau membangkitkan semangat. Words have meaning.

Jika kamu kurang mengenal secara personal orang yang akan kamu berikan feedback, Ikuti framework Model Sandwich:

Feedback Sandwich (atau hamburger). Yum!

Jika kamu memberikan feedback pada orang yang tidak suka basa-basi (dan tidak mudah baper), menyampaikan langsung inti dari feedback bisa jadi cara paling efisien. Mereka suka efisiensi.

Sebaliknya jika orang itu cenderung perasa dan lembut hatinya, gunakan kata-kata yang tidak direct. Dari sananya mereka sudah sangat peka dan akan langsung mengerti.

Segera

Perlu dimaklumi, tidak semua orang terbuka untuk menerima feedback. Temukan waktu yang tepat untuk menyampaikannya.

Bagaimana kita mengetahui saat yang tepat untuk menyampaikan feedback?

Mulailah dengan membiasakan untuk mendengar dan memperhatikan secara seksama ketika orang lain sedang berbicara dan menjelaskan.

Dengan mengobservasi, kita bisa menemukan momen-momen yang tepat untuk menyuarakan feedback kita. Plus konten yang tepat pula.

Karena pada dasarnya kita kan sudah memperhatikan. Sesederhana itu.

Kontekstual, kontekstual, kontekstual. Baik dari waktu penyampaian juga konten yang disampaikan.

Feedback itu ibarat makanan. Dengan resep yang tepat, rasa yang enak, dan presentasi yang menarik, makanan akan semakin enak ketika disajikan hangat-hangat.

Menunda-nunda feedback hingga sebuah design decision dibuat akan membuat banyak pihak kebingungan dan membatin.

“Lah, lu ke mana aja kemarin?

Jika kamu terlibat dalam sebuah proses desain, mintalah untuk selalu di-update agar bisa segera memberikan feedback di waktu yang tepat.

O ya — di satu sisi, jika pemberi feedback tak kunjung bersuara… mintalah (dengan segera juga)!

Jangan dihindari

Feedback bukanlah mantan atau polisi di lampu merah. Ingat, feedback adalah hadiah makanan yang disajikan hangat-hangat (yum!)

Dengan memberikan feedback, pada dasarnya kita sangat peduli terhadap perkembangan skill rekan-rekan kita.

Ketika kita menunda atau bahkan menghindari pemberian feedback (misalnya karena malu, atau takut ditolak)… Mungkin saja kita juga menjadi penyebab kurang berkembangnya kemampuan desain rekan-rekan kita 😟

“There is nothing more dangerous than sincere ignorance and conscientious stupidity” — Martin Luther King Jr.

Sekarang coba buka tab baru. Browse hasil desain yang di-post oleh teman-temanmu, kemudian mulai berlatih memberikan design feedback yang berkualitas: spesifik, relevan dan kontekstual, juga ada actionable-nya.

Sampaikanlah dengan pemilihan kata yang tepat dan jangan dihindari untuk menciptakan feedback-loop yang konstruktif dan produktif 😎