Pola Sungai & Kelurusan

Daerah penelitian terdiri dari banyak sungai kecil. Sungai-sungai kecil tersebut bermuara ke tiga sungai besar, yaitu Sungai Cikeruh, Sungai Cilamaya, dan Sungai Cibodas. Jika dilihat melalui data sungai yang diunduh dari earthexplorer.usgs.gov, mengacu pada pola sungai (Twidale dan Campbell, 1993) seperti pada Gambar 1, daerah penelitian secara regional memiliki empat pola sungai, yaitu radial, paralel, dendritik, dan trellis (Gambar 2). Pola radial teramati berada di daerah kawah Gunung Tangkuban Parahu yang membentuk pola konsentris. Di sekitar kawah Gunung Tangkuban Parahu pola aliran berubah menjadi dominan dendritik dan paralel. Perubahan pola aliran dari radial menjadi dendritik ini menandakan perubahan tingkat kemiringan dan bentuk morfologi dari morfologi lereng terjal menjadi dataran dengan kemiringan relatif landai. Pola dendritik menyerupai cabang pohon dengan arah yang tidak teratur, yang mana mengindikasikan jenis litologi yang homogen atau tingkat resistensi batuan yang seragam terhadap erosi dan pelapukan. Berdasarkan pola sungai dan lokasinya yang dekat kawah Gn. Tangkuban Parahu tersebut, diperkirakan daerah tersebut dibentuk oleh batuan hasil produk erupsi gunungapi. Kemudian semakin ke utara terjadi perubahan pola aliran sungai dari pola dendritik dan paralel menjadi dominan pola trellis. Pola trellis yang berkembang mengindikasikan terdapatnya struktur lipatan yang berkembang di daerah tersebut. Selain itu, perubahan pola tersebut mengindikasikan adanya perubahan jenis litologi dari produk hasil erupsi gunungapi menjadi lapisan batuan sedimen yang terlipat.


Tahapan geomorfik daerah penelitian ditentukan berdasarkan analisis dan pengamatan terhadap saluran sungai, bentuk lembah sungai, dasar lembah sungai, sedimentasi, erosi, dan hubungan dengan air tanah (Lobeck, 1931). Sungai-sungai yang terdapat di daerah penelitian umumnya memiliki karakteristik saluran yang berkelok dan bercabang. Lembah sungai-sungai di daerah penelitian memiliki dua karakteristik yaitu berbentuk “V” pada hulu sungai-sungai kecil dan cabang sungai, serta berbentuk “U” pada sungai-sungai utama (Gambar 3).

Dasar lembah sungai-sungai di daerah penelitian umumnya berjeram dan telah tertutupi oleh sedimen, namun di beberapa hulu dan cabang sungai masih teramati singkapan batuan menjadi dasar sungai dan belum tertutupi oleh sedimen. Pada tepi dalam lengkungan sungai utama di daerah penelitian teramati telah terbentuknya point bar yang terdiri dari material lepas fragmen batuan berukuran pasir hingga berangkal. Erosi yang terjadi di daerah penelitian yaitu secara vertikal dan horizontal. Erosi vertikal ditunjukkan dengan pembentukan lembah-lembah sungai berbentuk V seperti Sungai Cisadapan, Sungai Cipatra, dan hulu Sungai Cikeruh. Sementara itu, terbentuknya longsoran-longsoran di tepi sungai menandakan terjadinya erosi secara horizontal atau lateral yang mana mengakibatkan lebar lembah semakin besar (Gambar 4). Di beberapa sungai dijumpai adanya rembesan air tanah pada dinding sungainya, sehingga dapat diketahui hubungan air tanah dengan sungai yaitu effluent atau air tanah mengisi sungai.

Berdasarkan kriteria tersebut, mengacu pada klasifikasi tahapan geomorfik oleh Lobeck (1931) dapat disimpulkan bahwa daerah penelitian secara umum memiliki tahapan geomorfik dewasa.
Selain itu, dengan mengamati pola dan bentuk sungai yang disertai peta topografi dan citra SRTM, dapat juga dilakukan penarikan kelurusan dan diketahui arah umumnya, yang mana menjadi indikasi keberadaan struktur geologi. Berdasarkan hasil analisis, daerah penelitian memiliki arah pola umum utara-selatan seperti ditunjukkan pada Gambar 5.

Selain sebagai dasar dalam dilakukannya interpretasi awal dan penciri tahapan geomorfik, keberadaan sungai-sungai yang ada di daerah penelitian juga sangat penting dalam dilakukannya pemetaan geologi karena singkapan batuan umumnya tersingkap baik di sungai. Oleh karena itu, seorang geologist dituntut untuk berani turun menyusuri sungai, suatu pekerjaan yang aneh bagi orang awam namun penting bagi seorang geologist…
Daftar Pustaka
Brahmantyo, B. dan Bandono. (2006): Klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Landform) untuk Pemetaan Geomorfologi pada Skala 1:25.000 dan Aplikasinya untuk Penataan Ruang, Jurnal Geoaplika Vol. 1, 2, 71–78. url.
Huggett, R.J. (2007): Fundamentals of Geomorphology, Third Edition, Routledge, USA. url.
Lobeck, A. K. (1939): Geomorphology, McGraw‐Hill Book Company, New York.
Badan Informasi Geospasial, (2018): Peta AOI, http://tanahair.indonesia.go.id/ diakses tanggal 17 Maret 2018 pukul 20.00 WIB.
USGS, (2011): Citra SRTM, http://earthexplorer.usgs.gov/ diakses tanggal 20 Maret 2018 pukul 17.00 WIB.
