3 Momen Paling Menyenangkan

Momen-momen sederhana yang memantik kebahagiaan

Photo by Ian Schneider on Unsplash

Beberapa tulisan terakhir saya dinilai terkesan negatif dan memiliki suasana yang suram. Alhasil oleh seorang sahabat, saya diminta untuk menuliskan hal-hal yang sedikit lebih ceria. Seperti menjelaskan apa-apa saja yang mampu membuat saya merasa senang.

Perasaan senang bagi saya sebenarnya secara umum ada pada hal-hal yang sederhana. Saya tidak memiliki definisi yang rumit tentang sebuah kesenangan. Sebab bagi saya, rasa senang adalah sesuatu yang sangat murah dan seharusnya dapat diakses oleh siapapun tidak hanya bagi saya ataupun mereka yang memiliki kekuatan atau kemampuan tertentu. Sehingga siapapun seharusnya bisa sama-sama merasa senang.

Meski tidak rumit, bukan berarti saya tidak memiliki momen-momen khusus yang membuat saya merasa senang. Momen khusus ini tentu saja tidak akan sama bagi orang lain. Jadi daftar momen menyenangakan di bawah ini tidak bisa jadi ukuran kesenangan ya.

Baiklah, langsung saja berikut adalah daftarnya.

Photo by Nurhadi Cahyono on Unsplash

1. Berada di alam liar

Saya adalah orang yang begitu menikmati momen kesendirian yang lepas dari hiruk pikuk interaksi sosial sesama manusia. Menjadi terasing di lingkungan yang sama sekali tidak saya kenali. Dan momen tersebut sering kali terletak di alam liar. Di mana saya akan bisa berinteraksi secara langsung atau tidak langsung dengan penghuni alam.

Hewan-hewan, tumbuhan, bunyi-bunyian, sorot sinar matahari, ataupun gemerlap bintang di malam hari. Semua elemen-elemen alam itu selalu berhasil membuat saya bahagia dan tersenyum.

Sayangnya, hal ini mungkin adalah sesuatu yang mahal saat ini. Di tengah berkembangnya peradaban, ruang-ruang liar semakin sempit. Terlebih di negara-negara berkembang yang tidak begitu menghargai lestarinya alam. Lokasi-lokasi pariwisata alam, lambat laun semakin penuh sesak dan pembangunan terjadi di mana-mana. Polusi tidak hanya terjadi karena polusi asap kendaraan tetapi juga polusi cahaya yang akhirnya mengubah tatanan alam liar.

Ruang liar di laut ataupun gunung pun setali tiga uang. Di laut sampah-sampah berserakan, debur ombak tidak lagi menyenangkan. Meski biasanya pantai terpencil masih mampu menyajikan indahnya langit malam. Sementara gunung, seiring semakin populernya sosial media, gunung rasanya tidak lagi mampu menjadi rumah bagi mereka yang ingin menyepi. Jumlah pendaki terus menerus meningkat namun ruang ketinggian semakin sempit dan terpolusi.

Ya, semoga saja saya bisa kembali bersenang-senang di alam liar suatu saat nanti. Entah di mana.

2. Melihat dan mendengar riuh anak-anak bermain

Momen yang satu ini baru saya sadari ketika saya beranjak dewasa, ketika saya sering kali murung dan terdiam bermain dengan isi kepala. Anak-anak yang kerap bisa ditemui di taman-taman bermain ternyata memiliki suasana unik yang menular bagi orang-orang di sekitarnya termasuk bagi saya.

Mereka yang masih begitu naif, berlarian ke sana kemari saling berkejaran. Teriakan tidak satu dua kali terdengar. Mereka begitu menikmati momen tanpa harus khawatir dengan keselamatan mereka sendiri.

Saya yang hanya mengamati dari kejauhan, rupanya dengan mudah ikut terbawa dalam suasana menyenangkan itu. Sering kali saya dengan spontan mengumbar senyum saat melihat anak-anak itu bermain. Kadang kala senyuman itu malah menakuti mereka karena saya sebagai orang asing tiba-tiba melempar senyum pada mereka. “Siapa nih om-om sok akrab banget?” mungkin begitu dalam benak mereka. Haha.

Melihat anak-anak inilah yang kemudian saya menyenangi tempat-tempat yang ramah anak-anak. Masjid yang memiliki plasa untuk bermain anak-anak, taman bermain, ataupun sekolah-sekolah. Sebab di sanalah kawan akan selalu bisa melihat saya yang tersenyum sendirian.

3. Mengenang, memikirkan dan mendoakan para sahabat

Untuk poin terakhir ini, adalah satu momen menyenangkan baru yang mulai menjadi kebiasaan. Sebab boleh dibilang baru-baru ini saja saya memiliki sahabat yang begitu saya pedulikan. Secara dalam perjalanan selama ini, saya memang tidak banyak memiliki teman yang begitu dekat.

Memiliki sahabat ternyata memang bukan semata tentang kehadiran, tetapi tentang rasa percaya satu sama lain. Percaya dalam artian satu sama lain harus memposisikan diri sebagai orang yang tidak khawatir berlebihan satu sama lain meski harus berjauhan. Tidak banyak mendikte dan lebih banyak menghormati keputusan-keputusan.

Saya cukup senang ketika saya berusaha mengenang apa yang pernah kami lakukan misalnya. Kebersamaan secara fisik yang mungkin cukup singkat namun memiliki makna yang mendalam. Kenangan itu kemudian memaksa kita untuk memikirkan apa yang dilakukan seorang sahabat saat tidak bersama kita. Namun memikirkan tentu saja tidak akan mampu mengubah apapun, sehingga satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan mendoakan mereka.

Mendoakan tentu saja tidak akan bisa dilakukan dengan perasaan yang negatif. Mendoakan selalu dilakukan dengan membayangkan senyuman-senyuman dan berharap kebahagiaan. Hasilnya kemudian menurut saya adalah saya bisa terus menunggu dan berharap pencapaian-pencapaian dan prestasi dari sahabat. Menjadi apresiatif ketimbang mengkhawatirkan terjadinya keburukan.

Kebiasaan inilah yang kemudian membuat saya ketagihan. Saya merasa begitu senang meski hanya beraktifitas mental indirect tentang para sahabat yang kemudian secara tidak sadar terus membuat saya senang dan mengukir gurat-gurat senyuman di setiap momen rapalan.

Photo by Kimson Doan on Unsplash

Kira-kira tiga momen itulah yang paling menyenangkan bagi saya. Daftarnya bisa jadi akan berubah seiring waktu, namun saya berharap daftar itu akan semakin panjang dan tidak berkurang. Sehingga akan semakin banyak momen-momen yang bisa membuat saya bahagia. Jika daftarnya semakin banyak, maka tentu saya tidak ada alasan lagi untuk kesulitan mencari di momen-momen apa dan di mana saya harus mencari kebahagiaan.

Lalu bagaimana dengan dirimu kawan? Momen apa yang menyenangkan bagimu?


Tulisan ini diikutkan dalam kegiatan #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan secara rutin di hari Sabtu. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.

Like what you read? Give BagusDRamadhan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.