Akhirnya Saya Memahami Bagaimana Seharusnya Memaknai Sebuah Sejarah

Today is a gift, tomorrow is a mistery, and yesterday is history.

Esok adalah hari terakhir di pengujung tahun 2017, kebanyakan orang akan mulai memikirkan apa yang akan dilakukan pada tahun yang baru. Beberapa merencanakan segalanya dengan serius, tahap demi tahap, sangat detil. Sementara lainnya hanya mengalir begitu saja. Pun hanya sedikit yang berusaha untuk mencatat apa-apa saja yang telah diraihnya di tahun sebelumnya, dan lebih banyak melakukan kontemplasi dan perenungan pada sejarah dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang, sejarah adalah masa lalu yang tidak perlu untuk kembali disentuh. Itu mengapa sejarah kerap kali menjadi sesuatu yang tidak menarik. Tidak menariknya sebuah sejarah kemudian membuat kita menolak untuk memaknai apa sejarah sesungguhnya. Padahal di dalam sebuah sejarah ada banyak hal yang dapat ditemukan selain hanya sebuah nostalgia dan romantisme setidaknya sejauh yang saya pahami.

Lalu apa yang saya temukan dalam memahami sebuah sejarah?

1. Identitas

Sejarah saya rasa telah banyak mengungkap bagaimana identitas seseorang terbentuk. Sebuah asal usul, keterkaitan, dan relasi sering kali mendefinisi siapa diri seseorang. Namun dalam hal ini, saya sendiri merasa bahwa menentukan diri sendiri berdasarkan sejarah adalah upaya untuk menggunakan sejarah sebagai sebatas alat untuk menentukan identitas dan bukan sebuah tujuan apa lagi pembatas untuk melakukan eksplorasi identitas yang baru.

Misalnya saya, saya lahir dari keluarga besar yang dwi agama. Sementara ayah saya adalah dahulu adalah seorang mualaf. Lantas bukan berarti saya akhirnya tidak mengenal agama dengan baik, tetapi saya malah mendapat arahan yang cukup kuat untuk mengenal agama. Begitu juga dengan catatan-catatan sejarah tentang keluarga saya akhirnya malah membuat saya lebih bisa untuk menghormati kehadiran agama lain dalam lingkup keluarga besar. Inilah yang saya maksud bahwa sejarah bisa memberikan identitas bagi seseorang.

2. Proses

Sejarah juga ternyata mampu memberikan bukti bahwa seseorang telah berproses selama masa hidupnya. Saya benar-benar baru menyadari hal ini ketika saya berinteraksi dengan teman saya yang merupakan desainer grafis. Ketika itu ia menunjukkan bagaimana hasil karya gambarnya di masa kecil dibandingkan dengan karya gambarnya saat ini. Tentu saja ada perubahan yang sangat signifikan antara kemampuannya di masa lalu dibandingkan dengan kemampuannya saat ini.

Kontras ini tentu tidak akan bisa disadari jika arsip hasil karya gambar teman saya di masa lalu tidak tersimpan dengan baik. Atau dengan kata lain, sejarah kemampuan menggambar teman saya telah tersimpan dengan baik sehingga ia bisa menunjukkan betapa dirinya telah berproses begitu jauh.

Begitu pun dengan saya sendiri. Saya bila melihat hasil tulisan-tulisan di masa lampau dan dibandingkan dengan saat ini, saya akan begitu malu. Saya tentu akan berfikir, bagaimana bisa menulis seperti itu. Logika kalimat yang amburadul, ejaan yang kacau, dan kaidah bahasa yang tidak beraturan terlihat di mana-mana. Meski saat ini saya tidak imun terhadap semua kesalahan itu, tapi saya merasa bahwa hasil tulisan saya jauh lebih baik dibandingkan 3–5 tahun lalu saat saya baru memulai untuk serius menulis. Inilah mengapa saya merasa sejarah telah memberikan saya catatan waktu yang penting tentang bagaimana kehidupan telah berproses.

3. Rasa Syukur

Makna dari sebuah sejarah yang terakhir dan yang paling penting menurut saya adalah, sejarah ternyata mampu menumbuhkan rasa bersyukur. Saya yakin banyak dari kita yang mengalami masa-masa pahit di masa lalu dan tidak sedikit dari kita yang merasa masa pahit tersebut menjadi identitas kita di masa depan yang menentukan kemalangan dan kesialan. Padahal sebagaimana sejarah mengingatkan kita pada sebuah proses, kita akan menemukan bahwa kondisi kita saat ini pastinya sudah sangat berbeda dari masa yang lalu. Itulah yang kemudian menurut saya sejarah memberikan kesadaran untuk bersyukur.

Memang, tidak semua kondisi saat ini lebih baik dari masa lalu. Ada kalanya ternyata pada tahun 2017 ini kita mengalami kegagalan jauh lebih banyak dari tahun 2016. Tetapi saya merasa bahwa sejarah tetap mampu untuk menunjukkan bahwa kita seharusnya bisa bersyukur karena telah melewati banyak hal yang merupakan bagian dari sebuah proses. Baik proses itu lebih buruk ataupun lebih baik, kita bakal meresponnya dengan rasa bersyukur.

Namun rasa syukur itu tentu tidak akan muncul bila kita tidak mengetahui sejarah apa yang telah kita tempuh. Tidak ada akuntabilitas dan catatan tentang apa saja yang telah terjadi selama hidup kita. Hingga tentu saja kita hanya merasa, pencapaian tahun ini biasa-biasa saja padahal mungkin saja ada pencapaian yang jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

(Foto: Agus Supratman/wikimedia.org)

Memahami tiga hal tersebut, akhirnya semakin membuat saya untuk terus mampu mencatat segala sejarah yang saya miliki. Mendokumentasikannya dengan baik agar suatu saat saya bisa mengambil kebijaksanaan dari masa lalu yang pernah saya alami. Kalau toh sejarah saya tidak banyak berguna bagi saya sendiri, mungkin saja itu akan berguna bagi orang lain, minimal, keluarga terdekat saya. Untuk sekedar memahami bagaimana seseorang seperti saya berproses dan terus belajar menjadi inspirasi bagi mereka.

Penghujung tahun memang momen yang paling umum untuk mencatatkan segala sejarah yang pernah kita lalui. Namun bukan berarti kita harus menunggu akhir tahun untuk melakukannya. Karena mencatat sebuah kehidupan, jelas mustahil dilakukan di saat kehidupan itu sendiri akan berakhir. Itu mengapa saya ingin mengajak kawan sekalian untuk mulai mendokumentasikan sejarah-sejarah kecil yang dimiliki dalam bentuk apapun yang disukai. Foto, video, audio, tulisan, atau bahkan coretan-coretan dan pahatan-pahatan. Lalu mari kita berharap bersama-sama bahwa sejarah-sejarah itu akan benar-benar bisa menjadi karunia, a gift bagi kita saat ini untuk menghadapi misteri di masa depan.

Selamat tahun baru, sampai jumpa tahun depan.


Tulisan ini bagian dari kampanye #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak pemuda-pemudi Indonesia menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.