Colorless Yang Berhasil Memberikan Saya Warna Tentang Persahabatan

Sebuah review cupu

Akhirnya setelah lebih dari satu minggu, untuk pertama kalinya saya bisa menyelesaikan sebuah buku di tahun 2018. Buku itu adalah novel karya Haruki Murakami yang berjudul Colorless, Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage.

Novel ini sebenarnya sudah saya miliki sejak 2 tahun lalu, namun hanya dalam 2 hari saja saya harus mengemasnya untuk hadiah bingkisan ulang tahun dengan hanya terbaca beberapa lembar saja. Dan akhirnya di akhir tahun 2017 yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk membacanya kembali dan berhasil menyelesaikan karya yang kabarnya sering underrated ini.

Mengapa underrated? Sebab kebanyakan penggemar novel pada umumnya lebih mengenal Murakami untuk novelnya yang mashur dengan ketebalannya, 1Q84. Sementara Colorless memang lebih jarang digemari. Namun meski tidak terlalu dikenal, novel satu ini nyatanya memiliki rating yang cukup baik. Ini adalah salah satu alasan mengapa saya memilih karya ini untuk hadiah, tidak terlalu terkenal namun masih memiliki kualitas.

That was the first time in my life that anyone had rejected me so completely, Tsukuru said. And the one who did it were the people who trusted the most. My four best friends in the world. Pg. 30

Secara singkat Colorless bercerita tentang seorang Tsukuru Tazaki yang dikenal tidak memiliki warna dalam namanya. Padahal Tsukuru memiliki empat sahabat lainnya yang memiliki elemen warna dan kerap bersama dengannya. Suatu ketika mereka berempat harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus “mengusir” Tsukuru dari pertemanan sehingga Tsukuru sangat terpukul dengan hal tersebut.

Menariknya, Tsukuru diusir karena alasan yang dia sendiri tidak tahu. Inilah yang kemudian menjadi alur perjalanan utama dalam cerita Colorless. Perjalanan hidup Tsukuru Tazaki untuk mencari jawaban-jawaban yang tersebar diantara sahabatnya ini lah yang menjadi “pilgrimate” seru yang penuh twist. Sebuah novel yang begitu kuat menyajikan bagaimana hubungan pertemanan adalah sesuatu yang menarik untuk direnungkan.

Inilah alasan yang begitu menarik buat saya karena kebanyakan novel membumbui konflik dengan percintaan. Sementara, Colorless meskipun memang ada percintaan, namun itu tidak menjadi sorotan utama. Sorotan utama malah ditujukan pada hubungan pertemanan Tsukuru Tazaki dengan teman-teman masa SMA nya.

Maybe I am fated to always be alone. Pg. 100

Alasan lainnya mengapa saya memutuskan untuk membeli novel ini adalah karena saya merasa karakter Tsukuru Tazaki mirip dengan apa yang pernah saya alami. Baik secara konsep warna, pengalaman memiliki relasi, dan beberapa hal lainnya. Cara murakami membangun karakter ini pun berhasil membuat saya tertarik.

Chang Duong / unsplash.com

Secara penulisan saya tidak bisa berkomentar banyak karena saya sendiri belum menjadi penggemar karya non-fiksi seperti ini. Namun membaca bagaimana Murakami bisa begitu rapih menempatkan konflik perteman menjadi menu utama adalah sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Sehingga Colorless bagi saya cukup menghibur dan cocok untuk dibaca beberapa kali meskipun penyajiannya sangat jarang menampilkan kerumitan-kerumitan logika. Pembaca juga diajak untuk menikmati aliran cerita dengan penuh tanda tanya yang bahkan sampai pada ending. Entah apakah rasa menggantung ini menjadi kekurangan atau kelebihan.

Bila berbicara tentang kekurangan pada novel ini, saya merasa itu terletak pada bab-bab akhir. Di bab-bab akhir usai klimaks konflik, Murakami cenderung mempercepat cerita dengan lebih banyak menciptakan narasi-narasi sudut pandang pertama. Akibatnya tidak terasa lagi terdapat dialog-dialog cerdas yang seperti di bab-bab sebelumnya.

One thing I want you to remember. You aren’t colorless. Tsukuru Tazaki is a wonderful, colorful person. You don’t lack anything. Be confident and be bold. That’s all you need. Never let fear and stupid pride make you lose someone who’s precious to you. Pg 264.

Secara pribadi membaca Colorless bagi saya menumbuhkan rasa kerinduan yang amat sangat terhadap sosok sahabat. Meski saya tidak pernah memiliki sahabat yang begitu erat sejak masa sekolah, saya merasa bahwa apa yang dialami Tsukuru adalah dinamika menarik yang hanya bisa dirasakan bila kita memiliki persahabatan yang kuat. Itu sebabnya novel ini kemudian semakin menguatkan saya untuk bisa selalu menghargai kehadiran teman-teman di sekitar saya.

Secara umum bila diizinkan untuk menilai, saya akan memberikan nilai 8 dari skala sepuluh untuk novel yang pertama kali diterbitkan tahun 2013 ini.


Tulisan ini bagian dari kampanye #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak pemuda-pemudi Indonesia menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.

Like what you read? Give BagusDRamadhan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.