Inilah 6 Cara Membuat Artikel Yang Baik

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa mereka juga bisa menulis artikel dengan baik.

Kaitlyn Baker / unsplash.com

Di era sosial media seperti sekarang, hampir setiap orang mampu untuk menulis. Mereka menuliskan kata-kata untuk bercerita di laman profil sosial medianya masing-masing dan mengungkapkan berbagai hal. Mulai dari curahan hati, cerita-cerita sampai dengan analisis dan opini yang bergitu kompleks. Meski saat ini hampir setiap orang mampu untuk menulis, tidak semua orang mampu menghasilkan tulisan yang baik.

Saya sendiri pun yang belum lama berkecimpung di dunia penulisan, lebih tepatnya jurnalistik masih merasa kesulitan untuk menuliskan sebuah artikel yang baik. Itulah mengapa kemudian saya terus mencari referensi-referensi yang cukup baik untuk menjadi panduan saya untuk menulis. Salah satu referensi yang saya temukan adalah artikel yang ditulis oleh Hannah Frankman untuk The Mission yang berjudul “Six Rules for Writing Good Article”.

Hannah yang merupakan seorang story teller mengungkapkan bagaimana dirinya menggunakan panduan enam hal ini setiap kali dirinya menulis artikel. Dan enam aturan ini merupakan bagian dari dua hal penting dari sebuah artikel yang baik yakni konten/cerita yang bagus serta teknik yang baik.

Ia pun meyakinkan kita bahwa menulis artikel yang baik relatif mudah untuk dibuat dan kebanyakan orang tidak menyadarinya. Namun yang sulit adalah bagaimana untuk bisa menggunakan teknik yang baik dalam menulis. Teknik inilah yang kemudian menjadi pembeda antara cerita yang satu dengan lainnya.

Menurut Hannah, artikel yang “buruk” adalah artikel yang terasa datar. Tidak memiliki rasa, dan tidak menggerakkan seseorang untuk terus mengikuti. Sebab tidak hadirnya cerita berbobot yang mampu menghadirkan rasa hormat pada penulisnya. Itulah mengapa menulis artikel yang baik adalah sesuatu yang pantas dilakukan dan bernilai.

Saya sendiri tidak berusaha untuk menambah atau mengurangi aturan-aturan yang telah ditulis oleh Hannah. Hanya saja dalam artikel ini saya menerjemahkannya ke bahasa Indonesia agar kawan-kawan yang tidak memahami bahasa Inggris tidak kesulitan untuk belajar. Kita semua masih belajar, yuk kita belajar bersama-sama menciptakan konten yang berkualitas dan memberi manfaat.

Berikut adalah 6 cara menulis artikel yang baik:

1. Minimalkan gerbang pembatas antara pembaca dengan cerita.

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa paragraf pertama dalam sebuah artikel akan mempengaruhi sikap pembaca untuk membaca sebuah tulisan. Paragraf pembuka yang terlalu panjang akan membuat orang tidak tertarik dan merasa kelelahan di awal. Padahal, mereka masih harus membaca paragarf-paragraf berikutnya untuk menerima informasi secara utuh.

Oleh karena itu, untuk menulis artikel yang baik, tulislah pargraf pembuka yang singkat dan cukup mengena. Satu atau dua kalimat di paragraf pembuka akan cukup bisa membuat pembaca tertarik melanjutkan membaca. Buktikan pada para pembaca bahwa artikel yang kawan tulis mampu memberikan nilai untuk mereka.

2. Persingkat sebuah paragraf.

Sederhananya, persingkat hampir semua tulisan. Situasi pembaca yang saat ini kebanyakan membaca melalui ponsel pintar membuat seseorang akan sulit untuk terus bisa mengikuti paragraf yang panjang. Mereka akan merasa kelelahan dan akhirnya tidak tertarik melanjutkan.

Menyingkat sebuah paragraf memang sebuah tantangan. Namun menurut saya bila hal ini berhasil dilakukan, akan ada manfaat yang bisa diberikan pada pembaca yakni mereka akan tetap bisa terus menyimak paragraf demi paragraf tanpa merasa kelelahan. Selain itu dengan banyaknya jeda diantara paragraf, ide-ide yang disampaikan juga akan mendapatkan ruang untuk “bernafas”. Namun jangan terjebak untuk menulis kalimat yang terlalu pendek namun tidak dapat dipahami. Intinya adalah bagaimana menulis sebuah paragraf yang singkat dan jelas maksudnya.

3. Buatlah artikel dengan singkat namun tetap manis.

Peraturan ini menurut saya cukup unik karena lagi-lagi Hannah menekankan tentang menyingkat kalimat. Namun menurutnya poin ini penting karena sebuah artikel yang baik hanya membutuhkan kalimat-kalimat efektif. Bukan kalimat yang bersayap dan berkembang kemana-mana. Tajam, jelas dan sesuai tujuan adalah elemen penting artikel yang baik.

4. Berikan isi

Menurut Hannah, kebanyakan artikel saat ini berisi kata-kata kosong. “Orang-orang hanya menulis bualan,” katanya.

Rasanya saya setuju dengan apa yang sampaikan Hannah. Bahwa sering kali kita menemukan sebuah artikel yang tidak ada maknanya sama sekali. Artikel-artikel ini biasanya dibumbui dengan judul yang bombastis yang hanya ditujukan untuk menghilangkan kebosanan para pembacanya. Artikel seperti ini bukan hanya tidak bermanfaat bagi pembacanya, tetapi juga menghabiskan tenaga dan waktu.

Jangan pernah menulis artikel atau konten hanya karena ingin menulis konten. Tulislah artikel demi sebuah makna dan pemahaman. Sampaikan pada para pembacamu sesuatu. Bayangkan mereka bertanya “kenapa/mengapa” tentang artikel yang ditulis dan jawab pertanyaan itu dalam artikel.

Dunia membutuhkan lebih banyak konten yang mampu memberikan pengajaran, menjelaskan sebuah arti dan makna dan juga membuat orang memahami sesuatu.

Manuel Meurisse / unsplash.com

5. Ceritakan sebuah cerita.

Setiap orang senang dengan cerita. Hannah menyebutnya sebagai salah satu sifat kemanusiaan paling mendasar yakni selalu tertarik dengan cerita yang meyakinkan.

Cara terbaik untuk menarik perhatian pembaca pada sebuah artikel adalah dengan membawa kisah-kisah. Tangkap perhatian mereka dengan sebuah kejadian, latar tempat dan sebuah alur.

Cerita adalah cara yang paling brilian untuk membuka sebuah artikel. Cerita juga mampu untuk menggambarkan sebuah inti gagasan. Cerita juga tidak perlu berlebihan namun hanya perlu ditulis dengan efektif. Ceritakan pada pembaca bagaimana sebuah alat yang kawan pernah gunakan, lalu ceritakan sebuah cerita bagaimana kita menggunakannya sendiri dan apa yang terjadi. Singkat, sederhana, jelas, dan tiba-tiba artikel akan terasa begitu hidup.

Hindari menulis sesuatu yang kering cerita. Di dunia internet yang gaduh dengan konten dan tulisan, tidak ada seorang pun yang membaca tulisan yang garing.

6. Tunjukkan lalu ceritakan.

Mulai dengan menunjukkan apa yang kita kerjakan, kemudian jelaskan apa maksudnya dan mengapa itu penting.

Aturan ini digunakan untuk seluruh struktur tulisan. Sampaikan idemu dengan urutan seperti ini: ilustrasi (illustration), penjelasan (explanation), pemahaman (understanding). Tunjukkan pada pembaca kemudian jelaskan apa itu dan kemudian bantu pembaca untuk memahami mengapa itu efektif dan bagaimana menggunakannya. Tanpa cara ini, artikel akan terasa membosankan dan tidak akan memiliki nilai.

Dan arturan terakhir yang tidak dimasukkan ke daftar oleh Hannah adalah berlatih. Berlatih, berlatih dan berlatih. Berlatih membuat karya adalah sebuah upaya untuk menyempurnakan karya. Berlatihlah sampai kawan benar-benar memahami bentuk dan struktur dari artikel yang baik. Sehingga dikemudian hari menulis artikel yang baik akan menjadi kebiasaan yang terjadi secar alamiah.

Setiap orang memiliki hal menarik untuk diceritakan. Kawan sendiri bahkan memiliki lebih banyak cerita dari yang kawan sadari. Namun dunia membutuhkan hal yang memiliki makna, cerita yang meyakinkan yang akan melahirkan pengetahuan dan membantu orang untuk memahami.


Panduan yang dibuat Hannah ini menurut saya cukup simpel dan mudah untuk dipahami. Sehingga rasanya bisa dipraktekkan dan ditiru oleh kawan yang memang ingin belajar menuliskan cerita-cerita dan gagasan dalam sebuah artikel yang baik. tidak hanya bermanfaat untuk penulis saja tetapi juga bisa menginspirasi banyak orang untuk memahami sesuatu hal.

Menuliskan artikel ini kembali dalam Bahasa Indonesia juga menjadi salah satu upaya saya untuk bisa memahami panduan Hannah dengan lebih mendalam. Sehingga saya bisa mempraktekkan dan berlatih untuk menulis dengan lebih baik.

Selamat berlatih, selamat menulis.


Tulisan ini bagian dari kampanye #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak pemuda-pemudi Indonesia menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.

Like what you read? Give BagusDRamadhan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.