Kepaten Obor!

Memaknai api yang memerangi masa depan

(Foto: imgday.com)

Saya teringat sebuah ungkapan menarik dari sebuah kajian Islam yang tidak sengaja saya dengar. Saya bukanlah orang yang suka menonton televisi semenjak saya telah mengenal komputer dan internet di masa remaja. Namun ungkapan yang saya dapat dari televisi ini membuat saya merenung dalam. Ungkapan itu adalah “Kepaten Obor” sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa jawa yang jika diartikan secara literal bermakna “obornya termatikan”.

Ya, saya tahu terjemah bahasa Indonesianya terdengar aneh karena kata termatikan bukanlah hal yang lumrah kita dengar. Tapi memang saya agaknya kesulitan untuk mencari padanan kata yang tepat untuk menerjemahkan ungkapan tersebut.

Kepaten Obor bila dimaknai secara literal, tentu tidak akan bisa dimaknai apa arti sesungguhnya. Sebab bila diartikan seperti itu, artinya akan menjadi tentang api obor yang baik sengaja/tidak sengaja mati. Padahal makna sebenarnya jauh sangat berbeda mesikpun secara eksplisit bisa dirasakan.

Dalam budaya jawa, ungkapan ini lebih banyak disampaikan dalam konteks keluarga khususnya dalam hal silsilah keluarga yang dalam sebuah sisilah memiliki keterkaitan satu sama lain. Sebuah jalur keturunan yang terhubung dan saling mempengaruhi. Jika sebuah keluarga Kepaten Obor, maka ia adalah orang yang tidak mengetahui siapa keluarganya. Ia tidak mengenal sanak familinya dengan alasan tertentu. Misalnya jalur keluarga yang terputus akibat hubungan silaturahim yang buruk atau juga karena kematian.

Keluarga yang Kepaten Obor maka keluarga itu dianggap kehilangan masa lalunya. Kehilangan identitas keluarga besar bahkan bisa jadi kehilangan harapan masa depan karena ia tidak memiliki jejak. Hanya saja, dalam kesempatan kali ini saya lebih ingin memaknai Kepaten Obor sebagai sebuah ungkapan yang terkait dengan sebuah perjuangan.

Sama seperti apa yang terjadi dengan keluarga yang kehilangan jejak keturunan atau relasi keluarga. Sebuah perjuangan tidak akan bisa berlanjut bila seseorang tidak mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Tanpa mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, maka masa depan bisa jadi akan mengulangi apa yang sudah terjadi sebelumnya. Padahal masa depan dituntut untuk mampu menjawab kesalahan masa lalu. Itulah kemudian jangan sampai sebuah perjuangan kehilangan api obor.

Api obor sebuah perjuangan harus tetap menyala meskipun apinya sangat kecil. Karena bila api telah padam akan sulit untuk kembali menyalakannya kembali. Apalagi di masa depan kita akan lebih banyak menggunakan listrik dari pada api. (Sori ga nyambung).

Untuk bisa kita menjaga api obor, menurut saya yang perlu dilakukan adalah dengan mencari tahu sejarah terjadinya suatu peristiwa, mempelajarinya, dan kemudian menceritakannya ke banyak orang. Dengan kata lain kita harus mampu untuk membangun sebuah empati terhadap masa lalu yang telah terjadi sehingga di masa depan segala hal yang dilakukan tetap sesuai dengan harapan-harapan yang telah ditentukan oleh para pelaku sejarah.

Sebuah perjuangan tentu saja akan sia-sia bila di masa depan tiada siapapun yang rela untuk melanjutkan. Tanpa ada yang melanjutkan, maka semangat itu akan perlahan mengecil dan akhirnya mati.

Namun rasanya ada satu cara untuk mencegah terjadinya Kepaten Obor yakni, menuliskan sejarah. Mewariskan cerita yang kemudian akan menjadi informasi di masa depan. Tidak melulu untuk orang lain, tetapi menuliskan sejarah bisa juga akan memberikan wawasan bagi diri kita sendiri menjadi panduan untuk momen dan waktu yang baru.

Saya sendiri punya kebiasaan untuk menuliskan banyak hal tentang diri saya sendiri dan teman-teman saya dalam beberapa tulisan. Bila suatu ketika saya perlu untuk melihat-lihat kembali masa lalu, saya hanya tinggal membacanya kembali. Tapi tentu saja, tidak semua tulisan itu saya buka. Utamanya sejarah-sejarah gelap yang hanya saya dan Tuhan yang mengetahui. Selebihnya terkadang saya menulisnya di blog seperti tulisan-tulisan di sini. Harapannya hanya satu, agar saya tidak lagi kehilangan api obor yang akan menerangi perjalanan saya menuju ke depan. Syukur-syukur bila semua pengalaman saya juga bisa menjadi pelajaran bagi beberapa orang. Itu sudah cukup menggembirakan.

Selamat menjaga obor kita masing-masing.


Tulisan ini bagian dari kampanye #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak pemuda-pemudi Indonesia menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.