Kritik-Kritik Sebagai Warisan

Saat pujian hanya menjadi kata-kata kosong

Bagus Ramadhan
Sep 8, 2018 · 3 min read

Jumat yang lalu secara resmi saya mengundurkan diri sebagai sebuah repoter di sebuah startup media. Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan. Kesan, kenangan, pelajaran dan juga warisan yang saya dapatkan dari perusahaan tersebut. Tapi mungkin saya akan menuliskannya secara bertahap.

Untuk tulisan pertama ini saya akan menuliskannya dari belakang, tentang warisan yang diberikan oleh para kolega saya.

Hari Kamis adalah momen berkumpulnya seluruh tim kami. Di hari itu semua pegawai akan berkumpul untuk berkordinasi dan mengkomunikasikan kegiatannya masing-masing. Kumpul seperti ini tentu saja masih bisa dilakukan kalau jumlah pegawainya masih bisa dihitung jari. Dan memang inilah yang membuat tempat kerja saya cukup berkesan karena interaksi satu sama lain tetap terjaga.

Di momen tersebut, saya menyampaikan beberapa hal terakhir yang bisa saya sampaikan sebagai bagian dari perusahaan. Sebagai seorang kolega yang telah menghabiskan tiga tahun melihat perusahaan tumbuh dari kantor yang kecil hingga memilik tim besar. Hal yang saya sampaikan memang standar saja, tentang kesan dan pesan-pesan serta permhonan maaf dan rasa terima kasih.

Namun hal yang paling penting buat saya saat itu adalah saya meminta setiap mereka untuk menuliskan kritik, bukan kesan dan pesan. Saya lebih memilih untuk meminta kritik karena bagi saya kritik adalah sebuah warisan yang bisa terus saya bawa terus menerus. Dengan kritik saya akan berusaha bisa memperbaiki diri meski saya juga khawatir, apakah ketika saya menjawab kritik itu saya akan malah berusaha memuaskan apa komentar orang lain tentang saya.

Beruntung, dari sekian banyak kritik yang saya terima, pada umumnya berusaha untuk memberikan masukan yang membangun. Hal yang mungkin bisa saya perbaiki meski harus berusaha keras untuk memperbaikinya. Karena apa yang telah disampaikan nyatanya adalah hal yang pernah pula saya coba perbaiki beberapa tahun terakhir dan mungkin bangunan perbaikan itu sempat runtuh dan saya harus mengulanginya kembali dari awal.

Kira-kira apa kritiknya? Saya akan sedikit menuliskan kembali apa yang disampaikan oleh rekan-rekan saya disini.

Lebih interaktif mas sama lingkungan sekitarBagus, lebih mudah dihubungi dongKurang bisa berbagu mungkin karena tidak terlalu akrab sejak awal masuk. Atau mungkin karena mas Bagus lebih nyaman menyendiri.Belakangan sering slow response, why?Banyakin senyum masAgak susah kalo dihubungi, di WA lama responnya keseringan centang.Lebih sering ngobrol saja mas, biar semakin menyatu dengan teman-teman dan komunikasinya diperjelas. Kalau lagi kemana atau ada apa biar sama-sama tahu.

Dari sekian banyak kritik, kebanyakan adalah tentang bagaimana saya berinteraksi dengan lainnya. Harus terbuka atau tertutup.

Satu-satunya hal yang membuat saya bisa berada di keduanya adalah dengan menulis.

Ya, saya mengakui hal ini. Ini adalah tantangan yang mungkin terbesar yang selama ini saya hadapi. Mungkin dua tahun terakhir saya bisa melakukannya bahkan saat dipaksa situasi, saya bisa melakukannya dengan baik.

Permasalahan kemudian timbul ketika perubahan karakter yang lebih komunikatif, supel dan bisa mudah bergaul ini telah mengubah persona lama yang mungkin membuat lingkar terdekat saya menjadi tidak nyaman. “Kok berubah ya. Kok Bagus lebih mementingkan mereka.” Mungkin seperti itu kesannya.

Hingga akhirnya beberapa waktu terakhir saya memutuskan untuk kembali ke perilaku primitif yang pernah saya miliki. Tertutup, menyendiri, banyak diam. Dan sampai saat ini saya masih trauma untuk bisa membuka diri lagi.

Memilih antara harus terbuka atau tertutup adalah hal yang kini menjadi membingungkan. Saya tidak akan mampu untuk bisa melakukan perbaikan diri jika harus terus terbuka melayani kemauan orang misalnya. Tetapi jika terlalu lama menutup diri, saya akan tenggelam dan lenyap.

Lagi-lagi, satu-satunya hal yang membuat saya bisa berada di keduanya adalah dengan menulis. Seperti ini, secara tidak langsung saya masih membuka diri tentang kondisi pribadi. Sementara saya tidak perlu untuk menampakkan diri pada orang lain.

Kritik-kritik yang para kolega saya tuliskan tentu saja berusaha untuk membuat saya lebih baik. Saya percaya itu. Karena kami berada dan hidup di lingkungan yang memang memiliki budaya yang positif. Memandang berbagai hal lebih positif, tidak melulu tentang Indonesia yang positif, tetapi juga kehidupan yang positif.

Sebagaimana yang saya sampaikan pada Manager HR kami dalam sesi Exit Interview, saya merasa sangat berterima kasih telah diberi kesempatan gabung. Karena saya merasa beberapa tahun terkahir hidup saya merasa memiliki sambungan baru. Meski akhirnya saya harus mengundurkan diri dalam kondisi yang tidak bagus.

Sekarang, tentu saja saya harus mencari lingkungan yang baru. Sebuah lingkungan yang bisa kembali menyambung hidup saya sebelum hal negatif menggerogoti dan menenggelamkan saya. Di mana saya bisa menemukannya? Saya sendiri tidak tahu. Semoga takdir memberikan saya petunjuk jalan.

Terima kasih untuk warisan-warisannya kawan.

Bagus Ramadhan

Written by

Content Strategist at https://creative.teknoia.com

Tulis Aja

Tulis Aja

Berikan ruang bagi angan dalam goresan tulisan. Tuliskan, lahirkan saja, jangan kau bunuh ide-ide itu.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade