Mencari Cacat Diri

Sebuah proses memaafkan hati

Dalam hidup ini, setiap orang berusaha untuk menutupi keburukan yang dia miliki. Aib-aib disembunyikan sedemikian rupa kemudian memunculkan topeng manis yang memikat banyak orang. Tidak hanya orang, mungkin pula memikat rejeki untuk berdatangan. Semua mengklaim dirinya sebagai sosok yang otentik, apa adanya tapi dalam diri selalu menyadari ada informasi yang menolak untuk diungkapkan.

Semesta seakan-akan mendukung setiap usaha pencitraan itu. Ketika cermin berkonspirasi membisikkan betapa hebatnya kita. Kamera pun memperlihatkan betapa menawannya diri ini. Semua seolah-olah begitu sempurna. Hingga akhirnya penguasa semesta mengatakan sebaliknya. Melalui cara yang tidak terduga sebelumnya. Bahkan melalui jalan yang semula diperkirakan akan menjadi jalan yang penuh kebaikan bagi banyak orang.

Citra, reputasi, persepsi itu akhirnya runtuh tak berbekas. Segalanya seakan bencana dalam hitungan detik. Apapun yang dilakukan rasanya seperti tidak satupun membantu. Tidak ada perlindungan sama sekali. Tidak pada pasangan, juga tidak diantara para sahabat. Apalagi diri sendiri. Cacat itu tampak begitu menganga lebar.

Bukan, bukan bau busuk yang tercium melainkan virus yang merusak sekitarnya yang terbuka. Diri ini sungguh terlihat begitu berbahaya untuk orang-orang di sekitarnya. Terkadang terdengar bisikan-bisikan yang mengajaknya untuk menyadari diri. Bahwa dia memang cacat dan tidak layak untuk siapapun. “Jangan sentuh! Jauhi apapun yang kamu inginkan.”

Kebahagiaan? Kepemilikan? Persahabatan? Cinta? Matikan saja itu semua.

Lalu, renungkan, pantaskah sebuah kecacatan untuk diperbaiki? Ataukah hanya sebuah maaf yang mampu untuk mengobati? Adakah kesempatan-kesempatan berikutnya? Atau sebenarnya kesempatan itu hanya untuk membuktikan kembali betapa mengerikannya diri ini.

Cacat ini adalah milik diri, dan bukan pada cermin atau kata-kata yang tertulis. Perbaiki, atau sudahi. Semua tergantung pada pilihan yang kita pilih sebagai sebuah pertanggung jawaban. Namun pastikan, apapun yang terpilih, tidak akan lagi ada korban dan menjadi lebih baik. Jikapun harus ada korban, izinkan dirimu sendiri yang menjadi korban, meski itu harus dibayar dengan nyawa. Dan ingat, tidak perlu berlagak menjadi korban.


Tulisan ini bagian dari kampanye #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak sobat muda menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.