Menjadi Cahaya Yang Menerangi, Bukan Meracuni

Memahami cahaya, menemani langit.

Hari ini setelah sekian lama saya tidak pernah ke pantai selatan Malang tepatnya Sumbermanjing Wetan, Jawa Timur akhirnya saya bisa ke sana kembali bersama seorang kawan. Telah banyak sekali perubahan yang terjadi di sana. Tapi bukan perjalanan ini yang ingin saya ceritakan namun lebih tetang sebuah kesadaran bahwa rasanya, pantai-pantai di sana rasanya adalah pantai yang paling ideal untuk melihat langit yang berpendar dengan bintang-bintangnya.

Bennett Dungan / unsplash.com

Saya merasa merindukan bagaimana pada masa SMA bermalam di sebuah pantai tidak jauh dari wilayah tersebut dan dengan bahagia melihat langit yang begitu indah. Pemandangan yang mungkin sangat sulit ditemukan bila saya mencoba melihat langit di perkotaan, apalagi Surabaya tempat saya tinggal saat ini.

Ada kesadaran yang kemudian muncul dalam benak saya. Mengapa gemerlapnya perkotaan malah menjadi polusi bagi langit yang begitu indah. Bukankah seharusnya cahaya lampu yang ada di kota itu menjadi penerang dan penunjuk jalan bagi mereka yang membutuhkan penerangan dalam ruang belajarnya, jalanan perjuangannya, atau bahkan untuk kasur berbaringnya. Seakan cahaya yang selalu kita idamkan untuk kita miliki malah meracuni cahaya yang selama beratus-ratus tahun telah membimbing banyak sekali pengembara di kesendirian malam.

Saya memang bukan orang yang mengutuk penggunaan cahaya untuk keperluan-keperluan sehari-hari namun saya begitu menyesalkan mengapa sebuah kota tidak memberikan kesempatan untuk langit berpendar sejenak saja. Bayangkan bila sebuah kota memutuskan untuk mematikan seluruh lampunya untuk memberikan kesempatan bagi langit menerangi lelapnya istirahat para pencari nafkah, para pencari berkah dan para penjemput rezeki langit. Betapa menakjubkannya itu.

Mengingat tentang cahaya ini, saya kemudian berfikir bahwa memang apa yang terlalu berlebihan akan mustahil memberikan kebaikan. Cahaya yang terlalu terang akan memberikan kebutaan, sementara cahaya yang lemah tidak akan mampu menerangi dengan baik. Begitupun dengan kebaikan, rasanya bila kita terlalu baik dengan seseorang kita akan membuat mereka terlena dan terjatuh alih-alih memberikan dukungan yang pantas. Namun juga bila tidak memberikan bantuan, seseorang yang membutuhkan tentu tidak akan pernah bangkit.

Tetapi meski terkesan begitu paradoks, bukan berarti cahaya harus berhenti bersinar. Ia harus tetap bersinar, untuk menerangi, untuk selalu memberi. Hingga kemudian seseorang harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, dan seadil mungkin hanya dengan begitu rasanya kita akan merasakan betapa bermanfaatnya pencahayaan, sekaligus dapat menikmati keindahan langit malam.

Ah seandainya saja.

Like what you read? Give BagusDRamadhan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.