Menjadi Negatif

Ketika kegelapan terasa begitu sangat menyenangkan

Photo by Ian Espinosa on Unsplash

Beberapa hari lalu saya mendapatkan tulisan tentang Negative Vibes 1 dan Negative Vibes 2 dari seorang sahabat. Dia menunjukkan tulisan tersebut tanpa memberikan maksud mengapa dua artikel itu diberikan kepada saya. Namun saat saya tuntas membacanya, saya merasa tahu apa maksud dari sahabat saya ini. Bahwa dia mungkin menghubungkan apa yang terjadi dalam tulisan tersebut, juga terjadi pada saya.

Sejujurnya, ya, saya pernah mengalami hal serupa seperti itu. Perbedaannya adalah saya tidak berusaha mencari bantuan dan berusaha mencari jawaban secara mandiri. Saya di masa itu, merasa tidak memiliki tujuan dan apapun yang saya lakukan rasanya tidak ada artinya sama sekali. Skripsi yang terbengkalai, tidak ada karya, interaksi sosial minim, ibadah saya tinggalkan, detik demi detik terbuang hanya saya gunakan untuk berselancar di dunia maya, bermain games dan tidur, tentu saja kebutuhan pribadi tetap dilakukan.

Pada suatu titik, saya semakin sering mengalami insomnia, tidak tidur semalaman dan pada siang hari saya tidur sepanjang waktu. Jelas apa yang saya lakukan sama sekali tidak menghasilkan apapun kecuali ekskresi tubuh.

Menjadi gelap, pasif agresif, dan negatif seperti itu adalah hal yang begitu menyenangkan buat saya. Tidak punya tujuan, hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk bertahan hidup. Meski harus bertarung dengan sebuah ide bahwa jika hidup tidak ada tujuan bukankah lebih baik mati.

Semakin lama ide suicidal itu semakin kuat. Dampaknya adalah saya mulai sering menyabotase diri mulai dari makanan hingga upaya-upaya perbaikan diri. Mengenali diri melalui tes psikologi pun tidak memberikan banyak perubahan, kecuali saya semakin sering mengeluh dan banyak menulis kata-kata sampah. Cukup membantu memang untuk mengurangi sakit kepala yang saat itu kerap muncul.

Jika mbak Urfa menyebut bahwa berpikir positif terus menerus adalah hal yang sebaiknya dihindari, saya setuju. Karena memang hal negatif dan gelap adalah sesuatu yang harus dihadapi bukan dihindari. Namun tenggelam dalam gelap adalah sebuah mekanisme default dari insting hewani manusia. Sehingga bersikap negatif adalah upaya bertahan hidup, menghindari rasa sakit, menghindari rasa kecewa karena kegagalan. Sayangnya, manusia bukanlah hanya tentang bertahan hidup. Tetapi juga tentang hal lain yang lebih besar dari diri sendri. Itulah mengapa pesan-pesan kehidupan yang konstruktif kerap kali membesarkan hati.

Bias yang terjadi ketika seseorang terlalu positif yang bisa jadi sama berbahayanya dengan situasi terlalu negatif: mematikan.

Perjalanan keluar dari sikap negatif itu kemudian datang dari kegiatan rutin yang saat itu saya lakukan, berbagi nasi setiap malam Jumat. Di momen itu saya selalu melihat betapa seharusnya saya bersyukur masih bisa tidur dengan depresi di kasur yang nyenyak tanpa nyamuk dan terpa angin malam yang menusuk tulang. Bahkan saya masih bisa meminta kiriman uang dari rumah.

Sementara mereka yang tidur di jalanan, mereka harus terus optimis bahwa hari demi hari mereka harus tetap bisa bertahan hidup dan mungkin akan ada sesuatu yang mengubah nasib. Karena meraka kebanyakan adalah orang yang digantungkan oleh keluarga dari kampung halaman.

Photo by Brigitta Schneiter on Unsplash

Kesadaran kecil itulah yang kemudian membuat saya kembali berusaha menghargai cahaya-cahaya kecil yang saya miliki di ruang gelap yang saya tinggali. Perubahan pun dimulai dari membangun kebiasaan-kebiasaan.

Mulai dari ibadah, bersih diri, makan, menulis, hingga lebih banyak menghabiskan waktu di kampus untuk menyelesaikan skripsi. Dan kini saya bisa bekerja dan hidup mandiri.

Saya rasanya mengerti mengapa kemudian mbak Urfa memandang pesan-pesan positif, atau jargon-jargon motivasi itu omong kosong. Saya yang kini terkesan sangat positif pun sebenarnya masih harus bergulat dengan hal-hal negatif. Termasuk menulis dengan suasana hati yang buruk. Seorang sahabat pun mengatakan pada saya, “tulisanmu belakangan ini saturasinya sedang rendah ya.”

Ungkapan itu menarik, karena belum banyak yang menyebut bahwa suasana hati dengan kata saturasi. Saya yang pernah berkutat dengan dunia desain pun mengerti apa maksudnya.

Saturasi dalam dunia desain adalah sebuah spektrum warna. Semakin tinggi saturasinya, maka semakin cerah warnanya. Sementara jika saturasi semakin rendah, warna akan semakin pucat dan di titik terendah, kekayaan warna akan berubah menjadi hitam putih.

Adalah mustahil bila kemudian seseorang akan mampu untuk terus bisa positif. Saya pun memahami dalam psikologi terdapat istilah positivism bias. Bias yang terjadi ketika seseorang terlalu positif yang bisa jadi sama berbahayanya dengan situasi terlalu negatif: mematikan, sebagaimana telah dijelaskan mbak Urfa dalam tulisannya.

Namun meski sikap positif bisa jadi berbahaya, bukan berarti menjadi negatif bisa menjadi sesuatu yang pantas untuk dirayakan. Sebab sikap negatif akan membuat seseorang untuk stagnan.

Saat seseorang stagnan ia akan berdiam diri dan tidak akan ada perubahan, padahal waktu terus bergerak. Jika itu terjadi, dia akan menua dan menjadi lapuk lebih cepat dan membusuk. Padahal dengan gerakan, akan ada hal-hal baru, bertemu kesempatan dan momen baru yang bisa jadi akan memberi cahaya baru. Akhirnya satu-satunya jalan untuk hidup adalah jalan ke depan dan bukan melihat ke belakang.

Sekarang, ketika saya rasanya bisa memaknai dengan lebih baik apa itu menjadi negatif, akhirnya saya melihat hal negatif sebagai sesuatu yang bisa disyukuri. Karena tanpa gelap, kita tidak akan paham bagaimana berharganya sebuah cahaya. Tanpa gelap kita tidak akan bisa memandang langit yang penuh bintang. Tanpa lapar kita tidak akan paham bagaimana nikmatnya sebuah makanan. Tanpa keputusasaaan, kita tidak akan paham bagaimana berharganya sebuah harapan. Dan tanpa kebencian kita tidak akan paham bagaimana indahnya sebuah cinta.

“A dark black and white photo of a man standing in a building in Red Hook, Brooklyn, New York” by Jay Dantinne on Unsplash

Kata-kata para motivator, atau bahkan kata-kata saya ini mungkin terlalu membesar-besarkan hal positif. Tetapi sebagaimana menjadi negatif, kita akan menjadi defensif. Memandang segala hal sebagai ancaman atas kenyamanan yang kita dapatkan dari sebuah situasi yang gelap.

Itu sebabnya, menurut saya dalam memberikan bantuan pada seseorang yang mengalami depresi atau kesehatan mentalnya sedang terganggu, pendekatan negatif ataupun positif tidak akan banyak membantu. Karena pendekatan negatif akan semakin membuatnya tenggelam, sementara pendekatan positif hanya akan ditolak mentah-mentah. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah dengan hadir dan menunjukkan jalan keluar.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan menekankan bahwa menjadi positif bukan berarti akan serta merta menyelesaikan masalah. Namun dengan menjadi positif kita akan bisa berteman dengan apapun termasuk dengan kegelapan sekalipun.

Kuncinya terletak pada bagaimana kita bisa mengatur diri untuk tetap rasional dalam menghadapi sesuatu karena rasionalitas sering kali adalah wasit yang paling adil menempatkan kegelapan dan cahaya dalam porsi yang tepat. Persis seperti mbak Urfa yang mengambarkan kegelapan dengan cahaya dalam sebuah yin yang.


Tulisan ini diikutkan dalam kegiatan #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak sobat muda menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan secara rutin di hari Sabtu. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.