Menjalani Hiatus

Membangun pantangan di tengah tantangan-tantangan

Photo by Noah Silliman on Unsplash

Satu bulan ini saya mencoba untuk melakukan sesuatu yang dulu pernah saya lakukan semasa kuliah: hiatus. Hiatus kala itu terjadi pada tahun 2015 yang merupakan bagian dari episode Determination. Kala itu saya membangun beberapa pantangan seperti tidak boleh jalan-jalan atau melakukan leisure.

Hiatus kali ini pun sama dalam satu bulan ini saya menolak untuk melakukan beberapa hal yang sebelumnya biasa saya lakukan. Salah satu diantaranya adalah berinteraksi keperluan-keperluan personal dengan orang-orang disekitar saya. Tujuannya apa? saat itu saya berharap untuk bisa menemukan dan menemani diri.

by Bekir Dönmez on Unsplash

Bagi saya, hiatus sebenarnya memiliki banyak bentuk. Salah satunya yang terkenal adalah meditasi. Dalam meditasi seseorang dituntut untuk mampu mengacuhkan segala hal di luar tubuhnya dan menjadi lebih fokus pada diri sendiri. Merasakan denyut jantung, berkawan dengan aliran nafas dalam posisi yang konsisten tanpa jatuh dalam lelap.

Bentuk hiatus lainnya adalah menyepi. Sebuah upaya yang terkenal dilakukan oleh masyarakat hindu. Meski sebenarnya etos ini juga dilakukan di umat lainnya. Hanya saja penamaannya berbeda. Pada umumnya dalam menyepi seseorang akan melakukan aktifitas seperti biasa namun memiliki pantangan-pantangan. Umat Hindu misalnya, saat menyepi mereka dilarang membuat keramaian, menyalakan api, atau hal-hal kesenangan lainnya. Mereka akan lebih banyak fokus pada dirinya sendiri. Diam dan membisu.

Saya pernah dalam suatu pelatihan diwajibkan untuk membisu menjelang tidur. Setelah pelatihan berlangsung dari pagi hingga malam, kami diharuskan untuk tidak berbincang apapun. Masuk kamar dan tidur tidak ada satu kata pun bahkan dengan rekan sekamar. Ada sensasi yang unik menurut saya dari kewajiban ini, saya merasakan lebih bisa fokus pada apa yang telah diajarkan pada kami dan tidak terganggu dengan diskusi-diskusi atau perbincangan lain yang tidak ada kaitannya dengan pelatihan. Interaksi dengan rekan sekamar pun akhirnya lebih intuitif karena dilakukan tanpa banyak argumentasi.

Keputusan untuk melakukan hiatus satu bulan ini sejatinya adalah berusaha mencapai kembali pengalaman-pengalaman tersebut dan berharap untuk kembali mengisi semangat dalam diri. Namun sebuah konsep tentu saja lebih mudah dibandingkan dengan menjalankannya. Dalam perjalanan satu bulan ini ada banyak hal yang kemudian menginterupsi upaya tersebut. Baik dari saya sendiri ataupun dari orang-orang di sekitar saya yang sudah terbiasa untuk berinteraksi.

Tapi saya memang seharusnya bisa memaklumi hal tersebut. Selain karena saya belum secara jelas memberikan batasan-batasan, saya sendiri pun tidak terlalu konsisten menjalani. Bahkan dalam hiatus ini saya pun masih aktif menulis setiap hari. Sesuatu yang bisa jadi adalah kontradiktif.

Situasi hiatus yang terdistraksi dan banyak gangguan mungkin mirip seperti saat kita berusaha untuk berpuasa satu bulan penuh, namun tidak dalam suasana bulan Ramadan. Semua terasa seperti menggoda, semua seperti berusaha menggagalkan upaya untuk tirakat (menahan diri) demi sesuatu yang lebih tinggi.

Mungkin hiatus kali ini belum terlalu sukses. Tapi saya kini berfikiran untuk mencoba mengulanginya lagi tahun ini, meski belum tahu kapan. Saat bulan puasa mungkin? Sepertinya menarik.

Dari satu bulan ini pula juga menjadi usaha untuk membangun lagi kebiasaan-kebiasan baik yang sempat hilang. Menulis rutin, membaca buku, ibadah-ibadah dan juga hal-hal yang terkait dengan mengembangkan mental dan fisik. Rasanya semua itu tidak akan mudah dilakukan jika kita terlalu banyak menghabiskan waktu dan energi pada hal-hal yang tidak esensial atau dengan kata lain tidak penting.

Ada anggapan bahwa habit adalah sebuah pondasi dari sebuah takdir. Saya rasanya percaya hal itu, tanpa kebiasaan yang baik kita tidak akan mampu untuk bergerak menentukan nasib. Nasib yang berjenjang dan bertingkat-tingkat yang memiliki tantangannya masing-masing seiring berjalannya waktu. Bila kebiasaan baik tidak mampu menjadi pondasi, rasanya akan sulit untuk lulus dalam tingkatan-tingkatan tertentu, menikah misalnya atau dalam karir dan juga pencapaian hidup hingga akhirnya mungkin menjadi takdir.

Photo by Brunel Johnson on Unsplash

Selain untuk mengisi diri dan membangun kebiasaan, hiatus ini juga mulanya saya jadikan upaya untuk mendengar kata hati. Beberapa bulan sebelum tahun baru 2018 hingga satu bulan setelahnya, saya merasa ada sesuatu yang kembali hilang. Dan saya berusaha untuk mencarinya lagi. Kemana sebenarnya saya harus berjalan dan keputusan apa yang harus diambil. Tapi untuk hal ini sepertinya belum terjawab dan alhamdulilah saya diberi kesempatan untuk menambah masa hiatus sekitar satu minggu di tanah suci.

Hiatus tambahan ini saya upayakan untuk tidak menyia-nyiakannya. Selain biayanya mahal, saya belum tentu bisa mengulanginya dalam waktu dekat. Pun hiatus ini ada di lingkungan yang sebenarnya bisa dengan totalitas mengisolasi diri bahkan lebih banyak berinteraksi dengan pemilik semesta yang juga pemilik hati.

Ya, jadi tulisan ini saya tulis sebelum keberangkatan dan saya pasang lebih awal untuk diterbitkan di hari Sabtu sebagai komitmen untuk berpartisipasi dalam Sabtulis.

Saya berharap dengan tulisan ini, akan bisa memberikan gambaran pada pembaca tentang apa yang sebenarnya dihadapi oleh seseorang yang memutuskan untuk hiatus. Ketika kita memahami apa yang terjadi dan apa yang diharapkan, kita akan bisa lebih menghormati keputusan tentang hiatus. Pun bisa saja suatu ketika Anda sendiri yang memutuskan diri untuk hiatus dan berharap orang di sekitar bisa memahami.

Selamat mengenali diri.


Tulisan ini diikutkan dalam kegiatan #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak sobat muda menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan secara rutin di hari Sabtu. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.