Mono no Aware

Melankolia dalam momen dan karya yang indah.

Foto: Silvestri Matteo / unsplash.com

Mono no Aware (物の哀れ), saya menemukan kata ini dalam sebuah dokumenter tentang seorang tokoh teknologi terkemuka abad ini. Sebuah dokumenter yang membahas tentang sosok kontroversial tetapi juga dirindukan oleh banyak orang karena pencapaiannya mengubah masyarakat dunia. Dokumenter yang menurut saya cukup berimbang menggambarkan betapa dia adalah hanya seorang manusia biasa. Dokumenter tersebut berjudul Steve Jobs: Man In The Machine karya Alex Gibney.

Malam ini saya memikirkan bagaimana memaknai hidup dari sosok seorang Steve. Bagi pengguna produk Apple tentu saja dia adalah semacam “nabi” yang seluruh tindak tanduknya menjadi refensi. Perilaku pemberontaknya, kreatifitasnya, keras kepalanya dan tentu saja sifat “sadis”nya. Karena memang itu semua yang membawa sebuah Apple Inc. sempat menjadi perusahaan paling bernilai di dunia. Tidak hanya bernilai, Apple juga telah banyak mengubah cara hidup seseorang lewat produk-produknya. Melihat sebuah mesin sebagai identitas diri dan prestise.

Saya berusaha menyelami bagaimana perilaku Steve di masa muda dalam kerangka sosialisme agnostik yang begitu memberontak kemapanan. Namun rasanya ideal itu tidak lagi berlaku jika dikorelasikan dengan Steve di masa jaya Apple dan di ujung hayatnya. Memang pada akhirnya Steve tidak membawa tatanan yang baru dalam sebuah sistem perekonomian, meski telah berhasil membuat tatanan baru dalam gaya hidup manusia di bumi.

Foto: Andy Hertzfeld

Steve merupakan sosok yang begitu mengagumi karya-karyanya. Hingga ia rela untuk menghabisi apapun yang berani untuk mengganggu kreasinya. Dan Apple baginya adalah semacam anak yang tidak akan rela untuk dia tinggalkan. Adalah ironi ketika mengetahui bahwa dia sendiri sempat tidak mengakui Lisa, anak biologisnya hingga dia harus mengekspresikan rasa sayang pada Lisa dalam sebuah PC dengan nama yang sama.

Di era mobile phone, iPhone menjadi kreasinya yang fenomenal. Hampir seluruh hidup pemilik iPhone ada di dalam gawai ini, namun pada akhirnya cermin hitam itu hanyalah sebuah kreasi, sebuah produk yang sejatinya tidak memiliki makna apapun.

Tentu menyadari hal itu akan membawa kesedihan. Mengingat iPhone seakan sesuatu yang mampu menemani setiap saat, pada akhirnya hanyalah sebuah benda tak bernyawa. Dan menurut saya Alex Gibney dengan baik menggambarkan sosok Steve sebagai fenomena Mono no Aware, “the deep awareness of things”, perasaan sadar (cenderung melankolis) pada suatu peristiwa atau benda yang begitu indah.

Menyimak kisah Steve Jobs tentu saja membuat saya kembali berfikir, apa sebenarnya yang saya inginkan dalam hidup ini. Apa yang akan membuat saya begitu bangga nantinya. Sejujurnya saya tidak begitu mengagumi Steve Jobs sebagai role model karena karakter arogannya. Meski sikapnya tentang spiritualisme di masa muda dan pencapaian-pencapaiannya dengan Apple adalah hal yang membuat saya menaruh hormat.

Beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk memandang coretan-coretan cerita sebagai kreasi yang akan saya banggakan. Meski saya sendiri tidak pernah merasa profesi jurnalis ataupun penulis sebagai sesuatu yang berani saya emban. Keduanya adalah dua peran yang begitu berat. Sementara saya lebih senang dikenal sebagai pencerita (baca: pembual).

Bangsa Jepang mengenal Kaizen sebagai upaya untuk mencapai kesempurnaan dan Mono no Aware saya pandang sebagai salah satu ujung jalan dari Kaizen. Saat kematian (keindahan) menjadi cerita akhir dari sebuah usaha penuh derita (kesedihan).

Mengejar kesempurnaan artinya saya akan terus meningkatkan kualitas. Tidak peduli apakah hari ini adalah hari yang buruk, saya akan tetap berkreasi. Tidak peduli apakah seseorang akan membohongi saya, saya akan tetap mempercayai. Tidak peduli apakah tiada seorang pun yang mencintai saya, saya akan tetap mencintai. Dan tidak peduli apakah semua permainan dalam hidup ini adalah fair, saya akan tetap bermain fair. Karena memang semua itu adalah tantangan yang harus saya hadapi. Meski saya juga memahami pula semua karya itu akan berakhir begitu saja suatu saat.

Ekspresi Mono no Aware, kerap digunakan dalam suasana hati yang cenderung kesepian. Perasaan yang menghampiri saat sadar bahwa jalan ini telah usai dan tergambar momen masa lalu yang penuh refleksi. Bahwa hidup ini adalah sekadar hidup, yang pada akhirnya berujung pada kesedihan meski terasa begitu indah. Atau saya akan mengubahnya menjadi sebuah senyuman akhir pada peristiwa yang begitu indah, sebuah kematian. Dan biarlah cerita-cerita yang pernah saya buat menjadi peninggalan yang mungkin akan memberikan kesadaran bagi pembacanya.

Steve Jobs adalah adalah orang yang memiliki visi, lapar akan kekuasaan dan kendali. “Ia adalah seorang pertapa yang begitu fokus, namun dia bukan pertapa yang memiliki empati,” kata Alex Gibney. Dan saya, saya memilih untuk sebaliknya. Berempati, meski mungkin harus merelakan fokus kehidupan dalam obsesi dan ambisi.


Tulisan ini bagian dari kegiatan #Sabtulis (Sabtu Menulis) yang mengajak sobat muda menuliskan gagasan, catatan, cerita dan ekspresi melalui tulisan. Mengenal diri, mengapresiasi diri, menjadi percaya diri.

*Bonus: saya baru tahu ternyata ada sebuah konser yang diadakan berdasarkan karya Nobuo Uematsu dan diberi nama Mono no Aware