Rintik-Rintik

Bagus Ramadhan
Sep 1, 2018 · 2 min read
Photo by Liv Bruce on Unsplash

Dini hari kala itu begitu sunyi. Sesekali terdengar dengkuran lirih para penghuni. Dari rautnya tampak letih yang begitu pedih. Namun malam ini seakan menemani mereka melepas sedih.

Harapan baru itu telah menunggu esok hari. Seperti hujan rintik-rintik yang turun saat ini. Tidak banyak yang menyadari tapi turunnya air dari langit cukup membuat kota menjadi semakin dingin. Para penghuni makin tertidur lelap mengikat rapat-rapat tubuhnya dalam selimut yang hangat. Dengkuran tidak lagi terdengar, hanya rintik-rintik lirih yang menetes lembut membasahi ranting-ranting.

Jalanan yang basah tampak kosong. Tidak ada satupun yang berseliweran. Pemandangan yang begitu berbeda dibandingkan dengan siang hari.

Hujan ini menandai datangnya musim yang baru. Setelah berbulan-bulan teriknya bumi menemani para penghuni. Musim baru yang menyegarkan hati, mengukir senyuman dan melahirkan kebahagiaan dalam diri. Bagi sebagian yang lain, hujan ini seakan menjadi pelipur jiwa dari sepi yang menyelimuti. Melukiskan bayang imajinasi anak-anak yang bersuka hati berlarian ke sana kemari di bawah hujan rintik-rintik. Mereka dengan riang bermain dengan karunia langit.

“Membayangkannya saja sudah menyenangkan hati, apa lagi melihatnya secara langsung,” gumamku dalam hati.

by Andre Benz on Unsplash

Hujan bagi saya adalah momen yang menjadi letak melankolia. Di sanalah tempat segala memori dan imajinasi sendu dan keceriaan menjadi satu. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Hanya basah, tanpa kekhawatiran takut untuk jatuh sakit. Hanya rela, untuk menemani momen yang entah seperti apa rasanya.

Beberapa hari lalu hujan pertama datang ke kota ini. Saya langsung mengenalinya lewat bau khasnya. Bau yang tidak akan pernah terlupakan, sebuah petrichor. Aroma datangnya berkah langit pada para penghuni. Jangan heran bila kemudian saya begitu riang menyambut kedatangannya. Dengan senyuman lepas tanpa gurat kesedihan.

Memang, hanya itu yang bisa saya lakukan untuk mengapresiasi karunia menakjubkan ini. Tapi saya merasa itu lebih dari cukup, karena saya tidak ingin berada di barisan para pencecar rintik-rintik itu yang merasa terganggu dan terhalang rejekinya. Padahal mereka tidak tahu, bahwa saat mereka terlelap rintik-rintik itulah yang menumbuhkan kegembiraan yang mereka cari sepanjang hari.

Saya ingin seperti itu, menjadi lirih dalam sepi. Namun hidup untuk memberi arti. Berharap akan ada benih yang tumbuh menjadi teman bumi sebelum sirna menjadi uap yang kelabu. Selamat datang kembali musim rintik-rintik.

Tulis Aja

Berikan ruang bagi angan dalam goresan tulisan. Tuliskan, lahirkan saja, jangan kau bunuh ide-ide itu.

Bagus Ramadhan

Written by

Content Strategist at https://creative.teknoia.com

Tulis Aja

Tulis Aja

Berikan ruang bagi angan dalam goresan tulisan. Tuliskan, lahirkan saja, jangan kau bunuh ide-ide itu.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade