Sampaikan Dengan Cara yang Baik

Banyak hal yang ternyata sesungguhnya baik namun tidak tersampaikan hanya karena cara dalam penyampaiannya salah. Ibarat obat tapi malah dianggap sebagai racun. Sebuah bencana komunikasi.

Manusia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan berbagai macam cara seperti visual dan verbal. Komunikasi visual bisa melalui gambar dan teks, sedangkan verbal sifatnya adalah auditori. Dari bentuk-bentuk komunikasi tersebut, tujuannya adalah sama, yakni menyampaikan sebuah pesan yang nantinya akan direspon oleh penerima pesan.

Komunikasi tidak akan memiliki makna bila di dalamnya tidak terdapat pesan yang disampaikan. Tanpa adanya pesan, komunikasi akan mengalami kebuntuan, hasilnya adalah mispersepsi ataupun kebingungan.

Semantara itu sebagaimana pengibaratan di awal, sebuah obat bila dikomunikasikan dengan cara yang salah bisa-bisa obat tersebut dianggap sebagai racun. Itu sebabnya dalam berkomunikasi cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Saya tidak berusaha untuk membahas teori komunikasi di sini. Namun lebih berusaha menekankan bahwa apapun pesan yang kita miliki, ada baiknya disampaikan dengan cara yang baik.

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sempat menyebutkan tentang bagaimana pengalaman yang baik mampu untuk mengobati sebuah keraguan. Mengapa bisa seperti itu? Dalam hemat saya, pengalaman terbaik adalah bentuk dari komunikasi yang efektif. Penyampaian yang baik.

Saat seseorang menerima pengalaman yang baik, mereka akan cenderung untuk terbuka dan memberikan timbal baliknya lewat berbagai macam respon. Salah satunya adalah dengan tidak lagi merasa ragu.

Saya adalah orang yang percaya bahwa konsepsi komunikasi yang baik adalah sebuah solusi untuk memberikan produk ataupun pesan yang baik agar dapat diterima. Saya bukanlah orang yang menyenangi cara-cara kekerasan ataupun cara intimidasi dalam sebuah komunikasi. Meski beberapa ahli menyebutkan cara-cara tersebut dalam konteks tertentu juga memiliki efektifitas. Hanya saja, menurut saya penyampaian dengan cara yang baik akan lebih mampu untuk menciptakan kesan. Sebab kesan yang baik akan mampu terus menerus hidup dibandingkan dengan trauma.

Lalu bagaimana caranya untuk mengomunikasikan pesan dengan cara yang baik? Sejujurnya saya sendiri masih terus belajar untuk hal ini. Menulis di publikasi Tulis Aja misalnya, adalah sebuah upaya untuk mampu menciptakan gaya komunikasi tekstual yang ringan dan memiliki unsur bercerita dengan bahasa yang bersahabat. Di publikasi ini pula saya belajar tentang menggunakan gambar visual sebagai unsur penunjang dalam penyampaian pesan.

Jika kawan memiliki tips lain tentang bagaimana berkomunikasi yang baik? Boleh saja turut berbagi, berikan rekomendasi tentang tulisan ini dan berikan respon. Terima kasih telah membaca.

Day 6
Surabaya