“Semua Ini Bukanlah Milik Saya”

Suatu saat kita harus melepaskan apa yang kita pegang untuk orang lain

Kepemilikan adalah sebuah konsep kuno yang dimiliki oleh setiap makhluk. Kita sebagai manusia sedari kecil hingga dewasa pun terbiasa untuk hidup memiliki sesuatu. Ini milik saya itu milik kamu. Namun ada sesuatu yang membuat saya agak terganggu dengan konsep ini. Saya menyadari bahwa ternyata barang yang saya miliki kerap kali terabaikan dari pada barang milik orang lain yang dititipkan pada saya.

Aneh, bagaimana mungkin barang milik sendiri terabaikan sedangkan barang milik orang lain lebih terjaga. Secara pola pikir sederhana mungkin saja saya dianggap orang yang lebih amanah untuk menjaga milik orang lain dari pada milik diri sendiri. Bisa jadi memang begitu adanya. Saya sendiri memang menyadari bahwa saya orang yang tidak terlalu peduli dengan kondisi diri sendiri. Lebih banyak ingin mendukung orang lain ketimbang mendukung diri.

Pola pikir ini menjadi masalah ketika, saya diharuskan untuk mengapresiasi diri lebih dahulu sebelum melakukan apresiasi pada orang lain dan seharusnya inilah yang terjadi. Namun bagi saya bersikap seperti demikian bukanlah hal mudah, sebab saya selama ini berjuang untuk mengurangi kecenderungan untuk self-sabotage atau menghancurkan diri sendiri termasuk ide-ide yang saya miliki. Meragukan hasil pikir, meragukan karya sendiri dan lebih berani untuk mendukung hasil karya orang lain dengan peran yang saya miliki.

Pertanyaannya tentu saja, sumber masalahnya ada di mana? Dan bagaimana mengatasinya. Jujur saya tidak tahu sumber masalahnya ada di mana, tetapi saya lebih tertarik untuk mencari cara bagaimana mengatasinya.

Mungkin saya perlu kembali mengatur sikap, bukan untuk menghindari bagaimana terjadinya self-sabotage tetapi lebih bagaimana menstimulasi kecenderungan negatif menjadi positif. Okelah saya lebih menghargai barang milik orang lain yang dititipkan pada saya daripada milik saya sendiri maka mungkin saya perlu untuk mengatur pola pikir bahwa segala hal yang saya miliki sebenarnya bukanlah milik saya. Seluruh hal yang ada disekitar saya adalah sebuah titipan.

Bagaimana bila ternyata seorang anak adalah titipan yang harus dijaga sebelum ia diberikan pada pemiliknya

Rasanya ini sangat didukung oleh kepercayaan yang saya percayai bahwa alam semesta adalah titipan bagi manusia untuk dikelola, dijaga dan dirawat untuk kesejahteraan bersama di dunia. Sehingga itu tidak menutup kemungkinan termasuk juga harta, kerabat, keluarga, teman, bahkan tubuh dan kesadaran yang selama ini menempel pada diri saya sendiri.

Jika saya percaya bahwa semua itu adalah bukan milik saya, mungkin saja saya akan berusaha untuk merawatnya. Tidak merusak, tidak juga mengeksploitasinya habis-habisan. Bahkan berusaha untuk membuatnya lebih baik, lebih berkualitas dan bermanfaat. Salah satunya adalah ide yang saya tuangkan lewat tulisan. Ide ini bukanlah milik saya, mungkin saja inspirasi ini adalah milik orang lain yang lebih membutuhkan. Maka saya harus membagikannya untuk orang lain.

Pola pikir ini sebenarnya juga bukan tanpa resiko, karena pola pikir ini berseberangan dengan beberapa prinsip modern yang mengatakan bahwa manusia berhak atas segala hal yang ia miliki. Bebas untuk melakukan apapun pada tubuh dan kepemilikannya. Menurut saya, hal inilah yang kemudian berbahaya sebab dampaknya kita sudah menyaksikan sendiri bagaimana seorang suami menganggap istrinya sebagai barang miliknya, bebas untuk diatur dan kondisikan bahkan sampai disiksa.

Dalam hal lain, orang bebas untuk menyakiti dirinya sendiri menggunakan berbagai cara seperti bunuh diri, ataupun meracuni diri. “Ini tubuh saya, hak saya untuk melakukan apa yang saya inginkan. Bebas berekspresi” Idiom ini rasanya yang paling sering kita dengar.

Pada skala lebih besar, kita manusia merasa bahwa bumi dan semesta disekitarnya adalah sesuatu yang bisa diklaim sehingga bisa untuk dieksploitasi. Masalah pencemaran, kepunahan dan juga iklim tentu menjadi bukti betapa ganasnya kita yang bebas menganggap bumi ini milik kita. Bagaimana bila bumi ini ternyata milik generasi mendatang, bagaimana bila alam ini milik anak cucu kita? Akankah sikap kita berbeda?

Pun dalam beberapa hal, pola pikir ini juga beresiko membuat kita cenderung untuk kurang ambisius. Bagi mereka yang memiliki sifat kompetitif tinggi, sebuah pencapaian dan kepemilikan tentu saja adalah hal yang patut dibanggakan, bisa dipamerkan. Saat ini bahkan sangat kentara dengan bertebarannya sosial media. Kita lebih berusaha menambah follower dan takut kehilangan pemirsa seakan mereka adalah milik kita yang tidak boleh menghilang.

Mungkin inilah artinya dari frasa yang sangat saya gemari,

Urip mung mampir ngombe (Hidup hanyalah mampir minum)”

Kita hidup hanya untuk mampir sejenak untuk mengambil sedikit dari apa yang ada, sebutuhnya secukupnya dan merawat apa yang diamanahkan pada kita sebelum peran yang kita miliki telah habis masanya. Saat semua ini dikembalikan pada yang lebih berhak. Lewat pola pikir ini saya rasa saya akan bisa menghargai apapun yang ada disekitar saya.

Maka, jikapun harus punya ambisi untuk siapa kita harus melakukannya? untuk diri sendiri? Atau orang lain? Kitalah yang memilih.

Saya hanyalah seorang pelayan