Tentang Surat-Surat Itu

Bagus Ramadhan
Jul 25, 2017 · 2 min read

Saya beberapa tahun ini memiliki kebiasaan yang terbilang agak aneh untuk seorang laki-laki. Kebiasaan itu adalah menulis surat untuk orang-orang yang saya anggap spesial dan penting dalam hidup saya. Sesekali saya berusaha untuk mendekatkan diri pada mereka dengan cara yang tidak biasa itu. Hasilnya memang saya tidak pernah ukur, tapi saya merasa senang bisa melakukannya.

Entah mulai kapan saya terbiasa melakukannya. Tapi saya ingat bagaimana kebiasaan ini lahir. Saya ingat tengah menonton sebuah Talks di TEDx, dan seorang pembicara perempuan mengungkapkan, bagaimana bila kita selalu mengucap cinta pada setiap orang di dunia ini? Akankah hidup menjadi lebih baik?

Uniknya cara yang digunakan olehnya adalah dengan membuat surat dan menempatkannya di tempat-tempat umum. Tanpa mengenal penerima surat dan tanpa ada kepastian apakah surat itu terbaca atau tidak. Dirinya terus membuat surat secara rutin dan mencantumkan nama dan alamat kemana bila surat itu ingin dibalas.

Hasilnya pun mengesankan, ternyata banyak orang yang saat menerima surat itu sedang bersedih hati dan saat membacanya menjadi riang kembali kemudian mau membalas surat itu. Cerita-cerita senada juga muncul dari surat-surat yang lain.

Satu hal yang saya tangkap dari aktifitas tersebut adalah, ternyata berterima kasih pada orang asing pun ternyata bisa mengubah situasi menjadi jauh lebih baik. Meski tidak secara langsung memengaruhi kehidupan kita.

Saya sebenarnya ingin mencoba metode yang sama, hanya saja saya merasa, di Indonesia belum banyak tempat publik yang cocok untuk aktifitas seperti itu. Menjatuhkan atau menaruh surat secara random di kerumunan banyak orang. Jadi saya sedikit mengubahnya menjadi surat yang sangat tertarget. Saya mengenal orangnya dan saya berikan secara langsung.

Biasanya surat yang saya tulis wajib menggunakan tulis tangan. Meski saya tahu, tulisan tangan saya sangatlah buruk, tapi saya yakin tulisan tangan lebih berkesan untuk penerima ketimbang surat hasil cetak.

Sosok yang saya beri surat pun bermacam-macam, dan tidak mengenal gender. Baik perempuan ataupun laki-laki tetap saya beri surat itu. Meski memang kebanyakan mereka adalah teman kampus. Tapi saya yakin seiring pertemuan saya dengan banyak orang terus terjadi, orang-orang baru akan muncul.

Harapan yang saya inginkan dari kebiasaan ini sejatinya adalah untuk bisa terbiasa mengucapkan terima kasih. Saya sejujurnya adalah orang yang cenderung menahan diri untuk mengungkapkan perasaan, termasuk mengungkapkan utang budi dan terima kasih.

Semenjak saya teridentifikasi sebagai INTP, saya disarankan untuk bisa menyampaikan pesan lewat tulisan agar bisa lebih dimengerti. Ya, itulah yang saya lakukan saat ini. Menjadi penulis baik lewat digital seperti yang kawan baca ataupun lewat tulis tangan seperti surat-surat yang saya berikan.

Saya berharap, pesan-pesan yang saya sampaikan bisa memberikan sesuatu yang positif bagi setiap pembaca. Entah itu senyuman atau bahkan inspirasi. Oleh karena itu, izinkanlah saya untuk tetap terus menulis. Baik dalam keadaan senang maupun di situasi sulit. Karena saya yakin, energi yang saya sampaikan lewat tulisan-tulisan itu tidaklah pernah sia-sia. Terima kasih kawan.

Day 10
Jakarta Pusat

Tulis Aja

Berikan ruang bagi angan dalam goresan tulisan. Tuliskan, lahirkan saja, jangan kau bunuh ide-ide itu.

Bagus Ramadhan

Written by

Content Strategist at https://creative.teknoia.com

Tulis Aja

Tulis Aja

Berikan ruang bagi angan dalam goresan tulisan. Tuliskan, lahirkan saja, jangan kau bunuh ide-ide itu.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade