Chapter 9

Reminiscence

Sudah dua minggu sejak pemakaman Stefan.

Aku masih tidak menyangka ia telah pergi. Pergi dan tak pernah kembali.

Atau telah kembali, dari kepergiannya selama ini.

Membayangkannya membuatku bertanya tanya dalam hati, benarkah ada kehidupan selanjutnya?

Apakah aku bisa bertemu dengannya kembali?

“Fleu, Ken disini.” ujar Mom.

Aku menghapus air mata ku dan turun menemui nya.

“Hello.” ujarnya.

“Hi.”

“Aku hanya.. Hmm.. Ingin mengajak mu pergi keluar untuk minum kopi, mungkin sedikit udara segar? Tetapi jika kau masih sangat sedih aku mengerti, I’m very sorry Fleu.”

“No, no.. Mungkin kau benar, mungkin aku butuh sedikit udara segar dan secangkir kopi. I know a place. Aku berganti baju dulu, 5 menit?”

“Sure, take your time.”


Aku pergi dengan Ken ke taman kota menaiki bus. Kent membawa mobil sebetulnya, tetapi aku bersikeras untuk naik bus saja.

“Café du journées.”

“French. ” kata Ken.

“Bonjoir, monsieur!”

“Merci, mademoiselle. Shall we?"

Then we go inside.


“Itu begitu menyedihkan, betul kan? Fleu?”

“Ya? Maaf, apa?” tanya ku.

“Buku ini. Akhirnya begitu menyedihkan, bukan?” kata Ken sambil menunjukkan sebuah novel digital di telepon genggam nya.

“A breeze in autumn.” ujar ku. “Kau membaca buku ini?"

“Not my favorite, but I read it.”

“That’s our favorite book.” kalimat itu terucap begitu saja.

“Siapa? Oh, maafkan aku Fleu. Aku tidak bermaksud..”

“It’s okay..."

Karena sudah sejak tadi aku teringat kenangan itu. Ujarku dalam hati


Aku duduk tepat di kursi yang sama dengan kursi yang ku duduki 3 tahun lalu. Saat itu tepat sehari sebelum Stefan pergi ke Massachusetts. Kami pergi dari rumah ku menaiki bus dan Stefan membawa ku kesini.

“Café du journées.” ujar nya.

“French.” ujar ku.

“Bonjour, mademoiselle."

“Merci, monsieur.”

Bahkan aku memesan menu yang sama dengan menu yang ku pesan waktu itu. Vanilla latte.

“Fleu! Fleu, kau bisa dengar aku?”

“Ya?” aku menoleh kepada nya. Tetapi kabar buruknya adalah, ia bukan Stefan. Ia Ken.

“Ya? Maaf, apa tadi kau bilang? Maaf aku tidak mendengar nya.”

“Apa kau mau pulang sekarang?” tanya Kent.

“Ya, boleh. Thanks Ken.”

Kemudian ia pergi ke kasir untuk membayar tagihan kami. Aku melihat ke luar dan kembali teringat saat itu. Perbedaannya, waktu itu hujan saat kami pulang. Aku berusaha untuk menahan air mata ku. Berusaha merelakannya.

“Fleu, mari kita pulang.” ajak Ken sambil menarik kursi ku.


Aku melepas jam tangan ku kemudian berbaring di kasur. Mungkin memang terdengar sedikit egois, tetapi aku mencintainya. Aku tahu ini karena aku tidak pernah merasa seperti ini terhadap wanita-wanita lain. Aku memejamkan mata kemudian mengingat kejadian di café tadi. Ia begitu diam, kosong. Bahkan ia melamun beberapa kali saat aku berbicara padanya.

“Mungkin kau harus membuka hati mu untuk orang lain Fleu, untuk menyembuhkan luka mu.” kata ku padanya sore tadi.

Tetapi ia tidak mendengar nya. Karena hati nya tidak pernah terbuka untuk orang lain, selain Stefan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.