Apa itu Competitor Analysis?

Ravi Mahfunda
Nov 5 · 5 min read

Sebuah cara mencari celah kreatif dalam ruang ramai akan inovasi

Image by PIxabay

Kompetitor akan selalu ada, dan inovasi bukan berarti 100% baru

Mungkin banyak dari kita yang mencoba menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Tidak sedikit dari startup yang ada berlomba-lomba untuk memberi inovasi, mencoba mewujudkan yang dulu nya mustahil menjadi bisnis yang menjanjikan. Hadir dengan ide kreatif yang menggetarkan semesta mencoba terlihat unik diantara yang lainnya.

Tapi, jika kita lihat kembali — kenapa begitu banyak perusahaan besar yang justru memiliki model bisnis yang kurang lebih sama. But with slightly differences. Sebut saja GO-JEK dan Grab. Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan Lazada. OVO, Dana, dan GO-PAY. Mereka berebut pasar yang sama, tapi tanpa mencoba terlalu berbeda. Model bisnisnya sama, tapi entah kenapa — pengalaman dan kesan yang diberikan bisa berbeda.

Yang mereka lakukan merupakan pertarungan dalam strategi, dan bagaimana mereka melakukan itu? Mereka mengetahui kompetitor mereka dengan baik. And that what is called Competitor Analysis.


Jadi… apa itu Competitor Analysis?

Kenapa kita perlu Competitor Analysis?

Kapan kita harus melakukan Competitor Analysis?

Tapi ada beberapa waktu yang biasanya lumrah untuk melakukan Competitor Analysis, antara lain:

  • Ketika perumuskan product requirement, Competitor Analysis bisa dilakukan di awal masa kuartal saat menentukan tujuan dari kuartal ini.
  • Sebelum melakukan redesign, Competitor Analysis juga diperlukan saat kita ingin melakukan perubahan besar-besaran pada product kita.
  • Ketika kompetitor melakukan perubahan besar, ketika kompetitor kita melakukan besar — ada baiknya untuk kita menganalisa kenapa kompetitor kita melakukan hal tersebut. Dan apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi perubahan tersebut.

Competitor Analysis tidak terbatas pada fitur dan spesifikasi produk, bisa saja berupa campaign strategy atau branding.

Lalu… gimana caranya melakukan Competitor Analysis?

Tipe-tipe Competitor Analysis

Untuk Desk Research kita bisa melakukan analisa melalui internet, jurnal, dan lain sebagainya.

Talk to User tentunya dilakukan dengan berbicara dengan user aslinya. Bisa melalui survey, Guerilla Interview, IDI, atau ethno. (Untuk pembahasan User Research akan kita bahas lain waktu)

Tapi kapan kita Talk to User dan kapan kita Desk Research? Semua itu tergantung dengan apa yang kita ingin cari tau. Namun yang jelas, saat kita melakukan Talk to User kita akan mendapatkan insight yang lebih objektif dan tidak tercampuri opini pribadi kita. So — choose wisely…

Siapa sih kompetitor mu?

Direct Competitor, kompetitor yang secara bisnis dan target pasar bersinggungan dengan kita. Dalam artian, mereka melakukan menjual hal yang sama dan kepada target pasar yang sama.

Contoh: Bukalapak dan Tokopedia, Indomaret dan Alfamart, Tiket.com dan Traveloka

Yang kedua — Indirect Competitor, bisa saja bisnis yang mencakup yang lebih luas atau lebih spesifik dan berisisan dengan bisnis kita. Saat kompetitor kita menjalankan bisnis seperti yang kita jalankan, namun tidak hanya itu yang ia jalankan. Atau pun sebaliknya.

Masih belum paham? Bagus!!

Indirect Competitor berlomba dalam area yang sama tapi saling beririsan pada beberapa bidang. Bisa saja proses bisnis mereka sama, namun target pasar mereka berbeda.

Contoh: Amazon dan Tokopedia, Indomaret dan Tokopedia.

Masih kurang contoh nya?

Bayangkan Traveloka dan Tokopedia. Keduanya sama sama menyediakan pembelian tiket kereta. Namun mereka berdua tidak hanya berjualan tiket kereta. Begitu juga dengan Traveloka dan KAI Access, meski KAI Access hanya berjualan tiket kereta, tapi Traveloka tidak hanya menjual kereta. Demikian juga dengan Traveloka dan Airy Room.

Seharusnya sih sudah cukup menjelaskan. Oke lanjut…

Apa yang mau dianalisa?

  • Perbedaan fitur
  • Perbedaan alur
  • Kelebihan dan kekurangan dari masing-masing journey
  • Apa yang menjadi kekurangan kita, dan cari tau apa dampak yang diberikan dari perbedaan itu

Namun ingat, segala macam hal ini harus dilakukan dalam sudut pandang user. Jangan takut untuk mengakui produk mu vulnerable. Justru ini kesempatan untuk memperbaikinya.

Kalian juga bisa memetakannya dalam tabel perbandingan seperti berikut

Bisa juga kalian melakukan Deep Competitor Analysis dengan melakukan breakdown keseluruhan fitur, alur, dan journey dari kompetitor kalian dan tuliskan dalam satu dokumen terdedikasi. Kembali lagi, seberapa banyak dan besar effort dan waku yang ingin kalian alokasikan.

Cara lainnya, kalian juga bisa memetakan kompetitor kalian dalam diagram katersian seperti berikut

Tujuannya untuk mengetahui overall experience dari kompetitior kalian.

Next… kalo udah tau kelebihan dan kekurangan masing-masing… terus ngapain?

Summary

“If you know your enemy and yourself, you need not fear the result of a hundred battles.

If you know yourself but not your enemy, for every victory you gained will also suffer a defeat.

If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle”

Sun Tzu — The Art of War

UX Design Enthusiast

A small community of Indonesian UX Design Enthusiast

Ravi Mahfunda

Written by

A highly curious man about anything

UX Design Enthusiast

A small community of Indonesian UX Design Enthusiast

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade