Luke Cage: Maskulinitas dan Identitas Harlem

Luke Cage/netflix

Ini sebenarnya bukan cerita superhero namun lebih cenderung tentang observasi kondisi manusia dan identitas budaya. Kekuatan manusia super yang dimiliki Luke Cage (Mike Colter) berasal dari kondisi stereotype African-American yang dekat dengan kekerasan dan kriminalitas.

Donald Trump pernah menyinggungnya dalam debat presiden bulan September lalu, mengatakan “African Americans, Hispanics, are living in hell because it’s so dangerous.”

Entah apa yang ada dipikiran Donald Trump namun bila kenyataan itu ditakutkan masyarakat Amerika pada umumnya, lalu apa jadinya jika muncul di tengah mereka seorang African-American yang kebal peluru dan berkekuatan sedikit menyerupai Superman namun penampilannya lebih jalanan? Muncul paranoid?

Ketakutan ini hadir di episode menjelang season finale. Anak muda African-American secara acak disergap aparat secara kasar karena seorang polisi dianggap meninggal karena Luke Cage.

Kekuatan besar yang dimiliki Luke tidak hanya membawa tanggung jawab besar tetapi juga identitas yang direpresentasikan. Komunitas Harlem yang ingin Luke Cage lindungi salah-salah dapat terkena imbas. Salah satunya yang diutarakan Detektif Misty (Simone Cook), “your ass might be bulletproof, but Harlem ain’t. Harlem is gonna suffer.”Rasanya pun narasi #BlackLivesMatter secara nyata turut hadir di sini. Politikus korup dan ambisius, Mariah Dillard (Afre Woodward) menginginkan Harlem memprioritaskan kepentingan African-American dengan slogan New Harlem Renaissance.

Luke Cage tidak pernah membunuh musuh atau penjahat yang kebanyakan warga African-American dan dia juga melindungi semua orang bukan karena warna kulitnya. Dia berusaha menyelamatkan polisi korup kulit putih bernama Scarfe, warga Tionghoa bernama Connie dan bocah keturunan Puerto Rico bernama Chico. Semuanya adalah warga Harlem atau setidaknya masyarakat yang menghidupi wilayah urban tersebut. Di tengah menyinggung isu #BlackLivesMatter, Luke sepertinya berpandangan moral dan politik all lives matter, bahkan nyawa penjahat sekalipun.

Uniknya Luke tidak berasal dari Harlem. Dia tumbuh di Georgia, wilayah selatan Amerika. Sosok Henry ‘Pop’ Hunter (Frankie Faison) sangat berpengaruh terhadap pandangan Luke tentang kehidupan Harlem dan masa depan kota tersebut.

Barber shop milik Pop dimana Luke bekerja di sana adalah tempat yang bebas kata-kata kotor dan kekerasan. Tempatnya adalah suaka. Pops seperti sosok Santa Martin Luther King Jr. yang menanamkan nilai-nilai positif dan pasifisme bagi kota Harlem. Darisana Luke Cage dapat mengubah imej superhero menjadi refleksi sejarah dan kondisi manusia, terutamanya kaum urban.

Maskulinitas Harlem Sebenarnya

Serial Luke Cage jugaberusaha keras menentang penyamarataan maskulinitas African-American dengan kriminalitas. Di mana tensi konflik disebabkan arogansi aparat terhadap warga African-American makin menjadi belakangan ini di Amerika sendiri, seperti halnya yang diyakinkan oleh Donald Trump di atas.

Soal maskulinitas dan buruk sangka terhadap African-American nampaknya wajah Luke Cage bisa saja lebih menakutkan. Postur Luke Cage lebih mudah tercitra sebagai karakter monster di dalam cerita superhero yang rasis. Dia berbadan besar, bermata tajam, tidak banyak bicara dan berkulit gelap. Kostum Luke cukup mengenakan hoodie dan jeans seperti kebanyakan gangster Harlem yang sering dicitrakan. “I’m not superhero type”, tegas Luke.

Dari situ saya melihat ada usaha membalikkan stereotype-stereotype tersebut ke dalam karakteristik yang positif. Maskulinitas Luke dengan kekuatan supernya menghindari kekerasan sebisa mungkin dengan meremukkan tiap moncong pistol layaknya botol mineral. Seperti yang disebut sebelumnya, pasifisme punya pengaruh ideal di sini.

Meski begitu, aksi kekerasan memang tidak bisa dihindarkan. Luke cenderung mengambil prinsip seperti Malcolm X yang menurutnya kekerasan diperlukan sebisa mungkin dalam kondisi pembelaan diri. Namun menyamakan itu sebagai kriminalitas jelasnya salah besar.

Maskulinitas villain juga cukup menarik. Misalnya Cottonmouth (Mahershala Ali) adalah tipe yang terjebak di antara tradisional bahwa pria harus meredam sisi sentimental. Dia sebenarnya lebih ingin menjadi musisi namun karena satu-satunya pria di keluarganya yang sudah menjalankan bisnis ilegal sejak lama, memaksanya harus terjun ke dunia gelap. Inner konflik Cottonmouth menambah kesan maskulinitas Harlem sebenarnya punya atribut vulnerabilitas.

Baik Cottonmouth dan Luke Cage keduanya mengakui posisi perempuan. Mereka tidak menghindari ketergantungan terhadap kekuatan perempuan. Cottonmouth berusaha mengikuti tiap keinginan sepupu tuanya, Mariah Dillard atau sosok Imperatif seperti Mama Mabel. Kemudian Detektif Misty dan Claire Temple (Rosario Dawson) adalah dua perempuan yang menyelematkan Luke Cage dalam situasi sulit. Ini yang tidak terduga, serial Luke Cage meski bicara soal maskulinitas pria sebagai tema kepahlawanan justru bertumpu pada peran-peran perempuan yang menjalankan inti cerita. Mungkin begitulah proyeksi wajah Harlem yang ragam daya.

Identitas Konservatif

Era sekarang juga kita dapat makin sering mendengar warga African-American bangga menyebut dirinya nigga terutama mereka yang sering mendengar rapper Lil Wayne. Dalam buku Black Masculinity in the Obama Era, W. Hoston menyimpulkan istilah ini adalah cara dekonstruksi identitas yang dibentuk oleh generasi pendahulu African-American.

Pertanyaannya, di mana Luke Cage mempresentasikan dirinya? Rupanya dia termasuk yang secara personal menolak sebutan n-word. Sebutan ini dirasa tidak menghormati sejarah orang African-American. Sejak ratusan tahun lalu, tokoh African-American berusaha menghapus istilah yang mendiskreditkan identitas mereka itu. “I’ve had a long day. I’m tired, but I’m not tired enough to ever let nobody call me that word. You see a … standing in front of you, across the street from a building named after one of our greatest heroes? …You even know who Crispus Attucks was?,” ceramah Luke kepada remaja yang memanggilanya nigga.

Nama Crispus Attucks cukup asing dibandingkan tokoh Martin Luther King Jr. atau Malcolm X. Namun nama itu sangat berarti di serial Luke Cage. Dia adalah tokoh yang gugur pertama di perang Revolusi Amerika. “A free black man. The first man to die for what became America. He could have acted scared when those Brits raised their guns. Blended in with the crowd, but he stepped up! He paid with his life. But he started something,” terangnya lagi.

Luke Cage menyorot black-on-black atau pertentangan di antara kelas African-American sendiri. Di samping soal kelas, serial ini juga menyentuh konflik generasi antara African-American konservatif dan modern tentang bagaimana mereka memaknai identitas.


Secara keseluruhan, produksi Luke Cage menjadi tayangan yang ambisius dalam soal eksplorasi wacana. Sutradara Cheo Hodari Coker dan tim kreatifnya membumikan Luke Cage dengan masalah-masalah sosial yang dilihat dari perspektif African-American.

Cheo Hodari Coker pun tidak takut jika harus mengupgrade detail Luke Cage dengan isu yang kompleks ketimbang cerita asli yang terbit di komik Marvel Luke Cage: Hero For Hire.

Identitas, budaya dan sejarah African-American mengikuti langkah Luke di keseharian jalanan. Pembicaraan tentang kultur basket, baseball serta hip-hop menyemai di benak. Luke termasuk yang ingin memberi penjelasan wajah Harlem yang sebenarnya. Misalkan Luke Cage gagal dinikmati sebagai film superhero beken, dia adalah keindahan dari sebuah kegagalan.