Yang Tidak Perlu Kamu Ketahui Tentang Aku : Bagian 2

Hanya ada sedikit orang yang tahu cerita masa kecilku. Lebih sedikit lagi yang sengaja aku beri tahu. Aku tidak punya banyak teman. Aku dulu memilih begitu karena aku pikir teman itu merepotkan. Menambah-nambah tanggung jawabku saja. Aku mendapatkan pelajaran keras untuk tidak menjadi demikian dari perjalanan hidupku.

Pra Kuliah

Awalnya aku tidak ingin kuliah dan berpikir untuk “ikut orang” saja. Aku pikir aku tidak akan berjalan jauh jika tak pernah belajar susah. Waktu itu aku memiliki kepercayaan, bahwa hanya orang susah lah yang bisa sukses. Semua cerita yang aku tahu saat itu, adalah kisah heroik pahlawan, yang datang dari latar belakang orang serba tidak punya, menjadi miliarder, setelah berhasil menaklukan Ibu Kota. Atau, tentang seorang anak jenius dari kampung entah dimana yang mendapatkan beasiswa dan menjadi kebanggan satu Indonesia. Aku ingin menjadi seperti mereka, itu saja. Aku berpikir, seharusnya aku juga bisa. Sayang saja, aku berada di keluarga mampu. Toh, kalau tujuan kuliah adalah bekerja, bukan kah lebih praktis, ambil jalan pintas, dan langsung bekerja saja. Jenius! pikirku.

Tentu saja, “Tolol!” kata Ayahku. Orang tuaku menghendaki aku untuk menjadi dokter atau setidaknya pegawai BUMN. Sial sekali mereka, lebih sial lagi aku. Walau aku sulit mengartikulasikannya dengan baik, saat itu, aku sudah tahu, jiwaku bertautan erat dengan seni dan enggan berselingkuh. Ketololan terbesar aku saat itu hanya, wawasanku masih sesempit lubang jarum di tumpukan jerami, kecil juga susah ditemukan. Aku tak cukup dewasa untuk bisa meyakinkan mereka akan gagasanku untuk berkuliah si Seni Rupa yang setahu aku, waktu itu, paling keren di ITB. Bukan karena aku tahu silabusnya, tapi hanya karena, Bapak Habibie dan teman-teman beliau yang beken, berkuliah disana.

Lagi, “Tolol!” kata Ayahku. Aku yang bocah hanya sanggup mengekspresikan kekesalanku dengan sengaja mendaftar satu kampus saja, ITB, tanpa belajar serius, agar tidak terima, dan aku bisa menjalankan rencana awalku untuk langsung bekerja saja. Namun beberapa dari kamu tahu sisa ceritanya, aku kini Sarjana Sains bidang Biologi dari kampus gajah. Beban yang mengada-ada saja rasanya. Argh. Kalau bisa aku ulangi masa itu, aku akan melakukan lebih banyak riset dan membuat rancangan program masa depan. Seharusnya aku lebih inisiatif.

Kuliah

Aku memerlukan waktu dua tahun untuk akhirnya bisa kuliah dengan serius. IP empat semester pertamaku seperti ini; 1,8–2,2–2,4–1,7. Tidak heran karena aku jarang masuk kelas, dan kalau pun masuk, aku either menulis lagu rap, doodling, atau tidur sekalian. Waktuku sebagian besar kuhabiskan untuk asik sendiri. Ingatanku samar tentang itu. Teman-teman satu fakultasku mengira aku banyak menghabiskan waktu di Liga Film Mahasiswa (LFM). Tidak juga. Teman-teman LFM justru mungkin berpikir sebaliknya. Teman-teman lintas jurusan sering melihatku berkeliaran di kegiatan kemahasiswaan terpusat. Mereka tidak salah, aku memang sering di sana, tapi itu juga, bukan tempatku menghabiskan sebagian besar waktu bolosku. Teman-teman SMA yang berbeda kampus denganku mungkin melihatku sebagai mahasiswa yang aktif, well, tidak juga. Aku sempat merasa terlalu sering menghabiskan waktuku dengan teman-teman di luar ITB, entah beda kampus, atau kegiatan ke-Bandung-an. So, yeah, aku seenaknya saja waktu itu entah kemana, waktuku terdistribusi dimana-mana. Basically, I did whatever I thought interesting. Everything!

Baru dari semester lima, aku bisa mulai nyaman dengan kuliahku. Hutang budiku pada Ibu Rizkita dan Ibu Rina Ratnasih. Ibu Rizkita menyempatkan untuk berbicara empat mata denganku saat aku terancam tidak lulus mata kuliahnya, sesuatu tentang tanaman, aku lupa namanya. Hanya aku yang mendapatkan remedial berupa oral test saat itu, but, instead of gave me clues about the questions, she was just let me, answered all of the questions, on my own, without any triggers nor helps. Ternyata, aku bisa, aku tidak sebodoh yang aku kira, aku hanya malas saja. Ibu Rina, dosen waliku, untuk pertama kalinya, mengizinkanku untuk mengambil mata kuliah apa saja yang aku suka! Alhasil aku sejak semseter itu, aku mengambil kuliah pilihan di luar Biologi di 4 jurusan yang berbeda (Desain Komunikasi Visual, Bisnis dan Manajemen, Planologi, Teknik Industri) dan MKDU yang aneh-aneh. Nilaiku naik jauh sekali semenjak semester itu, untuk pertama kalinya aku mencicipi angka 3,5. Ternyata aku bisa.

Sejak saat itu dan seterusnya, keadaan akademisku terus membaik. Hanya saja, karena masa awalku kuliah terlanjur, terlalu berantakan, aku perlu banyak mengulang dan mengejar ketertinggalan. Masalah utamaku saat itu berputar pada keadaan emosional dan spiritualku. Aku depresi hingga suicidal. Aku percaya pada Tuhan namun tidak pada agama. Detailnya, generic, banyak cerita serupa yang kamu bisa mudah temukan di dunia maya. Menariknya dari versiku adalah, aku masih hidup setelah menangis meraung setelah menemukan tujuan hidup yang dipercayakan padaku, dan aku memilih Islam.

Aku memerlukan lima setengah tahun untuk mendapatkan gelar S.Si. yang sampai sekarang pun aku masih mencari tahu bagaimana caraku menjalankan tanggung jawabnya.

Nymphaea

Hanya sedikit yang bisa aku banggakan dari masa mahasiwaku. Tanpa disangka, menjadi Badan Pengurus Himpunan fakultasku adalah salah satunya. Aku tidak pernah terpikir untuk menjadi Kepala Departemen tapi itu lah yang terjadi. Aku sampai sekarang belum juga paham kenapa Teguh Wibowo, Ketua Himpunan pada masaku itu, mempercayai aku untuk mengemban amanat memfasiliasi teman-teman satu fakultas daam mengaktualisasikan diri mereka. Aku dipercayai untuk membuat Departemenku sendiri untuk itu, Departemen Keprofesian dan Pengabdian, disingkat DKP, rhyming with DKV, jurusan yang aku sempat aku dambakan.

Aku mempercayai kemampuan teman-temanku dan mengajak mereka untuk membentuk 4 Divisi dalam DKP yang dibagi berdasarkan bentuk kegiatan yang diiginkan massa himpunan berdasarakan survey tiga kepengurusan yang lalu dan tahunku. Divisi Ekspedisi dan Studi Lapangan yang dipimpin oleh Doni Indiarto, Divisi Proyek dan Manajemen Sumber Daya yang dipimpin oleh Faris Zuhair, Divisi Riset dan Pengembangan yang dipimpin oleh Hilman Taufik, Divisi Pengabdian Masyarajat yang dipimpin oleh Erlangga Muhammad, dan didukung oleh dua orang super-sekretaris, Dessaeda Adilla dan Kania Andyanti. Masing-masing dari mereka adalah prodigy di bidangnya.

Hasilnya tahun itu kami berhasil mengadakan; 1) Ekspedisi Akuatik pertama, ke Pulau Pari, dengan menggunakan kurikulum pelatihan dan seleksi. Mengahsilkan 1 film dokumenter, 1 jurnal ilmiah dan 1 booklet. 2) Ekspedisi Terestrial, ke Papandayan, dan menghasilkan peta perjalanan dan entry datanya ke Google Earth. 3) Dua kali pameran seni rupa, sekali di Selasar Sunaryo dan sekali di Dago Pojok. 4) Bisnis Kombucha. 5) Bekerjasama dengan Mahasiswa dari Teknik Kimia membuat Bioreaktor. 6) Modul Vertikultur. 7) Bioplastik. 8) Dua puluh lima video di kanal Nymphaea di Vimeo. 9) Instalasi Biogas di Blora. 10) Dan lain-lain, program kerja kami banyak dan dinamis sekali kala itu, namun, tingkat keberhasilan kami sebagai satu departemen termasuk tinggi, 91%, alhamdulillah, setelahku hitung dengan statistik! Bisa loh, dulu.

Tahun ketiga adalah tahun kuliah terbaik bagiku, selain DKP, sebagai satu Himpunan kami juga berhasil menelurkan satu album musik, sebagai pribadi aku sangat produktif di karya juga akademis, kuliah padat, di banyak jurusan, dan nilaiku sangat baik. Terbaik sepanjang sejarah akademisku. Aku bahagia. Aku merasa utuh tahun itu. Terima kasih. Hutang budiku banyak sekali.

Creative Circle

Kendala berikutnya muncul setahun kemudian, di tahun keempat kuliah, aku mengalami sesuatu yang beberapa temanku sebut, post-power syndrome. Setelah tahun yang produktif, aku dihadapkan pada tahun dimana aku hanya perlu fokus pada akademis dan tugas akhir. Sama sekali bukan sesuatu yang membuatku merasa se”hidup” tahun sebelumnya.

Solusinya, waktu itu, aku bersama temanku yang saking jeniusnya sampe ngeselin, Arga Riztama, memutuskan untuk freelance jasa foto dan videografi, sampai akhirnya kami merasa bukan itu yang kami cari, walau duitnya lumayan. Setelah berdiskusi berdebat panjang lebar susah payah, kami ternyata memiliki mimpi yang sama untuk membuat creator’s utopia. Kami sama-sama jengah pada dengan teman-teman kreatif yang sulit mengaktualisasikan dirinya dalam berkarya. Kami ingin melakukan sesuatu tentang itu dan istilah Creative Circle pun lahir. CC adalah cara kami menyebut inisiatif kami waktu itu. Gerakan sukarela, tanpa ada yang meminta, untuk mulai dari nol, mencoba menyelesaikan keresahan kami.

Proses kami dalam membangun CC membawa kami bertemu dengan beberapa orang dengan interest dan renjana yang serupa, yang tanpa terasa tumbuh menjadi lingkaran besar, sangat besar, yang hingga sekarang terus bertumbuh dan diam-diam merasa terikat untuk terus membantu satu sama lain. Ikatan yang tak tampak namun sangat kuat hingga membuatku berani saja, nekat, bermimpi, naive, umtuk menciptakan ekosistem agar teman-teman kami dapat menjadi sebaik-baiknya diri mereka sendiri.

Bersambung.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.