Yang Tidak Perlu Kamu Ketahui Tentang Aku : Bagian 4

Aku takut mengatakan bahwa aku adalah orang yang impulsif, senang random kemana-mana, tiba-tiba melakukan apa saja. Bukan. Aku hanya pernah seperti itu saja. Atau sesekali seperti itu. Selama dua puluh lima tahun aku hidup, aku sempat beberapa kali senang melakukan beragam proyek pribadi. Just to see how far I could go. Banyak dari proyek tersebut yang tidak beres, gagal, tertunda, terakumulasi menjadi aku. Bagian ini adalah yang paling segan aku tuliskan. Aku sungkan untuk menceritakannya karena sebenarnya, aku berusaha keras untuk tidak diam-diam saat mengerjakannya. Singkatnya, aku malu, sudah.

5000BDG

Libur kuliah antara semester ganjil genap, tahun ajaran baru, waktunya serba tanggung untuk pulang. Libur dua bulan pertama, masuk dua minggu, terus libur lagi sebulan. Rumahku jauh, sayang uang tiket. Akhirnya aku diam saja di Bandung. Waktu itu aku sedang transisi antara tahun kedua dan ketiga kuliah. Sedang belajar bangkit setelah ditolong Ibu Rizkita.

Waktuku lowong sekali, butuh inspirasi agar hidupku greget dan menghindari pikiran suicidal. Saat aku mainan stumbleupon, aku bertemu dengan website Danny Santos. Seorang fotografer asal Singapore. Jauh sebelum Humans of New York, Mas Danny ini hobinya memotret stranger yang ia temui di Orchard Road. Aku yang sedang bosan dan sedang mendapat pinjaman kamera dari Aziz, terinspirasi untuk melakukan yang sejenis.

Aku dengan ambisius membuat proyek pribadi untuk mengumpulkan portrait lima ribu orang asing yang aku temui di Bandung. Aku pikir #5000BDG adalah hashtag yang catchy, itu saja alasannya kenapa lima ribu. Selain karena aku juga jadi mudah hitungnya. Waktu itu aku pikir kalau mau bikin proyek-proyekan sekalian aja yang impossible.

Akhirnya aku keluar hampir tiap weekend, kadang weekdays, sore hingga pernah sampai pagi lagi, untuk menulusuri dago ke braga, melebar ke truno joyo, sumatra, dan sekitarnya, untuk mengumpulkan portrait orang-orang yang aku temui. Aku memberikan aturan bagi diriku sendiri untuk berkenalan, berbincang, hingga kami merasa nyaman, sebelum meminta izin mengambil gambar wajah mereka. Repot sekali. Awalnya aku groggy dan banyak berbohong tentang identitas diriku. Tidak nyaman sekali ternyata bekenalan dengan orang lain untuk meminta foto mereka. Aku terpaksa perlu membuka diri. Artinya aku perlu mengenali diri sendiri, berdamai, dengan hal-hal yang aku rasa tidak nyaman untuk diterima.

Ternyata aku justru lebih banyak mengenal diriku dengan berbincang dengan orang lain. Heran.

Proyek ini hanya sampai di angka 1200-an. Tidak tuntas karena sudah terlanjur bosan. Salah satu pengalaman menarik dari proyek ini adalah saat aku berkenalan dan akhirnya berteman dengan para satpam standard chartered dago. Aku sempat beberapa kali diundang makan-makan dengan kerabat mereka, saat mereka gajian. Aku pernah ditraktir karena sedang tidak punya uang. Aku pernah diajak berkunjung ke kampung salah seorang dari mereka, ke Garut.

One Day One Post

For me tumblr is a phase. Aku pernah mengidolakan tumblr sebagai, tempat macam-macam gonta-ganti wae. Berkali-kali aku ganti nama dan konsep. Dari yang galau tahvava hingga akhirnya settled sebagai tempat katalog karya aku yang dibagi menjadi karya visual dan tulisan. Selama 3–4 tahunan aku berproses di tumblr, ternyata aku menemukan bahwa aku senang sekali menulis tentang konflik batin dan pikiranku. Jarang sekali bikin essay atau opini tentang topik yang sedang seksi. Sesekali aku juga menulis sesuatau yang aku tak tahu apa namanya, tapi pada akhirnya aku sebut puisi saja.

Pada suatu waktu aku berpikir aku sudah terlalu nyaman dengan tumblr. Aku tidak tahu apakah banyak yang membaca, aku nyaman dengan itu, tapi aku rasa hambar sekali, aku berpikir aku perlu tantangan lebih. Aku memutuskan untuk pindah ke platform yang aku pikir lebih serius, wordpress. Aku penasaran apakah aku bisa menulis lebih bagus lagi, aku tidak tahu aku sudah sampai dimana, dan ingin kemana. Aku perlu feedback. Tumblr aku pikir terlalu banyak repost dan konsumtif sekali. Wordpress saat itu aku pikir lebih konstruktif lingkungannya.

Aku merayakan perpindahan aku ke wordpress dengan menantang diriku untuk menulis setiap hari selama sebulan. Kebetulan waktu itu aku bisa mengawalinya dari tanggal satu dan berakhir di tiga puluh satu Januari. Proyek ini sukses. KELAR. Aku berhasil menulis tiap hari selama bulan Januari entah tahun berapa. Aku lanjutkan ke Februari tapi gagal. Sudah aku hapus juga. Hilang.

Aku menemukan bahwa menulis merupakan cara yang cocok untuk aku mengetahui apa yang aku betul-betul ketahui dan tidak. Menulis tidak membuatku serta merta lebih bahagia atau bersyukur untuk bahagia. Tidak. Menulis hanya memudahkan aku untuk menilisik ke dalam diri sendiri. Which sometimes beneficial and some other times, let me down. Proses yang aku rasa penting sebagai proses evaluasi diri. Sebelum aku terlanjur mencelakakan orang lain karena lalai, lebih baik aku celaka dalam pikiranku sendiri lebih dulu.

Lesson Learned

Program One Day One Post aku rasa semakin lama semakin membosankan. Temanya beragam, aturannya sederhana, selama aku menulis dan posting, aku menang, tidak peduli apa yang aku tulis dan bagaimana. Aku mengamati pola tulisanku sendiri dan memgambil salah satu tema yang aku pikir menarik untuk dijadikan program sendiri. Aku lalu memberikan constraint pada diriku untuk menulis pelajaran hidup yang paling penting yang aku dapatkan selama seminggu, yang aku beri tag Lesson Learned.

Proyek ini memaksaku untuk lebih sotoy dalam kehidupan sehari-hari. Berlagak filsuf dengan apa-apa saja dipikirkan. Apalagi saat dikejar deadline; Minggu pagi. Susah ternyata untuk bisa menemukan sesuatu yang worth to write selama aku sombong. Aku belajar bahwa sifat sotoy hanya akan berguna buatku jika digunakan dengan sifat lain, bodoh. Aku baru betul-betul paham konsep half empty half full dari proyek ini. Memang benar, kata orang, kalau kamu bisa belajar dari mana saja. Mereka hanya lupa bilang, kalau itu susah sekali. SUSAH. Aku berhasil melakukan proyek ini selama tiga bulanan. Sebelum akhirnya lagi-lagi aku bosan dan memutuskan untuk pindah menekuni jenis tulisan yang lain, puisi.

Petrichorus

Aku membuat akun tumblr lagi untuk kedua kalinya demi ini. Aku tidak cukup pede di wordpress. Aku pikir tumblr lebih anonymous dan lebih banyak yang gemar repost-repost ke-sok-sok-an yang akan aku lakukan, membuat puisi!

Pada awalnya, aku tidak tahu apakah aku bisa, aku hanya senang menemukan dan menggabungkan kata-kata. Aku tidak tahu bagaimana puisi seharusnya. Aku hanya ingin bereksperimen dengan kata-kata. Sederhana saja. Perlahan-lahan dari perjalananku belajar menulis aku menemukan minatku pada hal tersebut tumbuh.

Aku menamakan tumblr itu Petrichorus. Dari kata Petrichor dan Chorus. Petrichor artinya bau hujan. Chorus adalah bagian dari lagu yang diulang-ulang. Aku senang bau hujan dan ya kamu bisa paham selanjutnya bagaimana.

Di proyek ini aku menemukan bahwa aku payah sekali dalam membuat judul. Ternyata judul itu mempengaruhi kesuluruhan tulisanku, aku tidak suka itu. Akhirnya aku hanya menjuduli tiap karyaku dengan angka, dari satu hingga entah berapa ratus, lupa. Sudah aku hapus juga tumblr-nya. Sisa tersimpan beberapa di Evernote. Kadang aku baca-baca lagi untuk melihat perkembangan aku yang entah sudah sampai dimana. Beberapa ada yang aku tulis ulang dengan beberapa penyesuaian dan aku post di medium ini.

Hal yang aku rasa mengejutkan dari proyek ini adalah, ternyata saat aku hapus, banyak yang japri dan menyayangkan keputusanku. Aku malu sekaligus tersanjung. Rasa senang yang aneh karena aku ingin segera tuntas saja rasa senangnya.

Soundcloud — Youtube

Hmm ini yang paling jenaka buatku sekarang. HOW. Just how could I be that shameless back then. Awalnya untuk se-tahun-an, saat tahun pertama belajar main gitar dan bikin lagu, aku gemar upload rekamanku ke soundcloud. Tidak ada siapa-siapa disana sampai akhirnya ramai sekali. Singkat kata, skill-ku bertambah, aku bosan, butuh tantangan, dan penasaran dengan youtube.

Aku lalu menghapus semua lagu di soundcloud dan menetapkan standar baru, yang lebih tinggi, untuk dibagikan disana. Hal yang membuatku canggung karena bingung memproses peraasan heran, malu, dan senang sekaligus adalah, banyak juga teman-temanku yang menyayangkan keputusanku untuk membersihkan soundcloud.

In the meantime, I explore videos. Aku menantang diriku untuk memproduksi video secara berkala dan disiplin. Selama tiga bulan, aku rutin upload tiap minggu. Aku pikir saat itu, kepalang tanggung, kalau malu ya malu maksimal aja sekalian, dan memutuskan untuk aktif membagi berita tentang video baru aku ke mailing list. Eh, ternyata ada yang mau. Aku jadi belajar bikin mailing list dengan google drive. Heran ternyata berkembang dan semakin banyak yang subscribe. Buatku 100 subscriber itu banyak sekali.

Diam-diam aku bangga karena dari kedua kanal tersebut beberapa lagu aku sampai ke luar negeri. Frostbite sempat diputar di Radio PPI Australia dan Dunia. Seorang Music Director dari Australia nge-email aku. Direpost sama North Carolina Folk Music Association. Diminta vocal root-nya sama produser musik electronik dari US, lupa dari mana. Cukuplah buatku segitu saja. Teman-temanku banyak yang jenius, mereka yang aku rasa perlu mendapat spotlight. Aku tidak akan pergi jauh sebagai karbitan saja. Aku toh lebih enjoy di balik layar.

Songperday

Proyek yang paling berkesan buatku. Sangat berkesan hingga aku tuliskan terpisah dalam dua post; di sini dan di sini. Aku membuat, merekam, dan ngepost satu lagu setiap hari selama dua bulan. Awalnya, pada bulan pertama aku mengerjakannya sendiri dan aku post di path. Bulan berikutnya ternyata aku mengerjakannya bersama teman-temanku. Bertujuh akhirnya kami membuat puluhan lagu dan membuat grup line yang masih aktif hingga kini. Menariknya, tujuh orang ini random, tidak saling kenal satu sama lain. Aku bangga sekali pada teman-temanku ini.

Proyek ini yang akhirnya membuatku sedikit lebih percaya diri untuk perlahan-lahan menjadi produser dan menelurkan gagasan-gagasan lain, seperti Bdgmusical dan The Song Journal. Dari sini aku juga terpaksa belajar proses rekaman, membantu Helena dan teman-temanku untuk rekaman, bergaul dengan musisi-musisi lain yang membuatku segan, dan akhirnya membuatku belajar banyak sekali.

The Song Journal

Ternyata saat aku menulis-publish-kan pengalamanku tentang songperday, aku mendapat respon yang aku tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Di-like, bule. Karena toh, waktu itu, aku merasa medium masih sepi orang Indonesia. Aku coba saja menghubungi orang itu, via twitter, agar ada punya teman baru di sini. Ternyata dia menulis hal yang sejenis. Lalu karena penasaran, aku cari apakah ada yang lain, dan ternyata lumayan juga yang bahas tag songwriting dan songwriter.

Saat itu dua dari tulisanku baru saja di-publish sama sebuah publikasi yang relatif beken bernama Writing Cooperative. Aku jadi sadar sama fitur publikasi di medium dan terpikir untuk bikin juga.

Saat itu di medium, publikasi yang berhubungan dengan musik yang paling populer dan update banget namanya Cuepoint. Mereka banyak berisi essay yang worth to read if you’re into the music industry as a whole. Menarik, sumpah.

Aku pikir, aku ingin membuat publikasi yang membantu teman-teman sepertiku untuk membuat lagu yang lebih baik, maka iseng-iseng, lahirlah The Song Journal.

Proyek yang aku rencanakan sebagai kegiatan akhir pekan ini teryata berkembang lumayan dalam sebulan. Tidak banyak, namun belasan email yang berisi permintaan untuk berkontribusi cukup untuk membuatku sempat menjalankan publikasi ini daily. Penulisnya jadi banyak. Kontributornya banyak, aku sempat kelabakan, karena alhamdulillah semakin banyak kerjaan berpenghasilan. Akhirnya aku pause saja dulu hingga sekarang. Bingung mau diapain.

Bersambung.

Like what you read? Give Ryandi Pratama a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.