Dilema Riset Dasar Sebagai Pembangunan Indonesia

Berbicara mengenai dunia riset, tidak jauh dari gambaran ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi. Tidak salah lagi ketiga komponen utama dalam riset tersebut menjadi pendorong dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Riset menjadi salah satu tolak ukur sejauh mana pembangunan manusia di suatu negara telah berkembang. Sumbangsih pembangunan ekonomi dari kacamata riset berasal produktivitas ataupun produk dan metode yang nantinya bermanfaat dalam pemecahan masalah-masalah yang ada dalam masyarakat, dan lingkungan. Negara-negara maju yang ada di dunia sudah mulai dari dulu dalam menyambut pembangunan berbasis riset. Indonesia sendiri terbilang tertinggal dalam pembangunan berbasis riset. Namun saat ini paling tidak Indonesia telah mempersiapkan konsep Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017–20145 oleh Kemenristekdikti bersama kementrian dan lembaga terkait pada awal 2017 yang lalu.

Dari berbagai banyak jenis riset, salah satu sumbangsih dalam memajukan kualitas ilmu pengetahuan Indonesia adalah dilihat dari riset dasar. Riset dasar sendirinya merupakan riset yang berorientasi pada luaran berupa penjelasan, ataupun penemuan dalam mengantisipasi gejala, fenomena, kaidah, ataupun suatu postulat baru. Intinya adalah riset dasar berfokus pada pengembangan pengetahuan dan metode baru yang bermotif terhadap rasa ingin tahu. Hal tersebutlah yang membedakan riset dasar dengan riset aplikatif yang berorientasi pada pemecahan masalah lapangan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan metode yang sudah ada. Mereka yang menyelami riset dasar ini tidak lain tidak bukan adalah para peneliti, maupun dosen pada bidang eksakta yakni seputar fisika, kimia, biologi, matematika, dan ekonomi teoritis. Riset dasar ini perannya dalam pembangunan ekonomi suatu negara memang tidak secara langsung, namun berperan besar dalam investasi pembangunan jangka panjang suatu negara.

Namun sayangnya, pola pikir investasi jangka panjang ini tidak banyak dianut oleh negara berkembang seperti Indonesia yang saat ini terlalu mengutamakan hal yang memiliki dampak langsung. Hal ini terbukti dari pendanaan dan dukungan ataupun dorongan pemerintah dalam memberdayakan riset dasar. Jangankan pendanaan riset dasar, pendanaan riset secara umum saja masih bernilai 0.2% dari total PDB Indonesia saat ini. Nilai 0.2% sangat kecil dibandingkan negara-negara maju yang ada di dunia ini yang minimal memberikan dana 3% dari total PDB nya. Lalu bagaimana pendanaan riset dasar? Riset dasar di Indonesia dijadikan sebagai anak tiri dalam pengembangan riset, terlihat dari program kerja kementrian dan lembaga riset dan pendidikan yang terus menggetolkan riset-riset aplikatif, namun minim perencanaan riset dasar. Tak hanya pihak pemerintah, pihak swasta dan industri-pun secara jelas menutup satu matanya jika sudah berurusan dengan pendanaan riset dasar.

Bukankah dikarenakan riset dasar, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan pesat? Teknologi revolusioner juga berdasar dari riset-riset dasar yang terus bergerak maju membuka cakralawa dan batas-batas pengetahuan. Bayangkan jika James Clerk Maxwell tidak memformulasikan konsep abstraknya mengenai elektromagnetik, bagaimana keadaan teknologi dan informasi saat ini? Dari sisi matematika misalnya, konsep abstrak Group Theory telah membantu dalam menjelaskan dan mengembangkan teknologi kuantum sptektroskopi. Ataupun dari sisi Biologi, rasa penasaran Paul Ehrlich dan temannya Robert Koch yang telah membuka menuju sains baru, bakteriologi. Dan masih banyak lagi riset-riset dasar yang telah membuat revolusi dalam peradaban manusia. Dalam esainya berjudul “The Usefulness of Useless Knowledge” Abraham Flexner menyebut dengan indah riset dasar sebagai innocent study and invention yang terlihat tidak berguna untuk sesaat, namun sedang hamil mengandung kejayaan di masa depan, baik dari segi teoritis dan praktis.

Mari kita berkaca pada negara yang dulunya senasib dengan Indonesia, Korea Selatan. Korea Selatan sebagai salah satu negara paling maju dalam bidang pengembangan teknologi dan inovasi, pada mulanya tidak jauh beda sejarahnya dengan Indonesia. Berawal dari penjajahan yang berkepenjangan, ketimpangan sosial, konflik internal, dan sebagainya. Namun, Korea Selatan berhasil bangkit dengan sangat cepat di awal tahun 1960-an. Kebangkitan ekonomi Korea Selatan saat itu didasari tidak lain tidak bukan adalah pola pikir dan visi pemerintahan saat itu dalam pembangunan ekonomi berbasis riset lebih maju dibanding pola pikir pemerintahan Indonesia. Lihatlah bagaimana Korea Selatan mengalokasikan dana besar-besaran untuk pengembangan inovasi dan riset dasar. Terlebih pendidikan negara itu sangat kuat dengan nuansa riset. Hasilnya adalah riset dan teknologi aplikatif berkembang secara besar-besaran dikarenakan fondasi riset dasar yang kuat di Korea Selatan.

Melihat kenyataan tersebut, perlu adanya revolusi pola pikir terhadap arah riset Indonesia. Pihak swasta maupun pemerintah harus banyak belajar dari negara tetangga terkait riset dasar. Selain itu, pihak pemerintah dan swasta juga harus mulai banyak berkolaborasi dengan lemba-lembaga ilmu pengetahuan dalam merumuskan perencanaan agenda riset nasional. Hal tersebut penting dilakukan untuk menghilangkan pola pikir pragmatis yang sesat. Begitu pula hal yang telah dirisaukan oleh Robert L. Glashow, seorang peraih nobel Fisika, dan Richard J Roberts, peraih nobel fisiologi dan kedokteran, yang pernah memberikan kuliah umumnya di Indonesia pada Februari 2017 yang lalu. Roberts melihat bahwa kedokteran saat ini terlalu terfokus pada riset mengenai penyakit, sedangkan riset dasar untuk menjawab pertanyaan dasar mengenai fungsi berbagai bakteri dalam tubuh serta mekanisme perlindungan bakteri baik belum gencar dilakukan. Terlebih, Glashow juga mengatakan bahwa pemerintah harus mampu menginvestasikan dananya ke riset dasar, hal tersebut dimulai dari meningkatkan kesejahteraan ilmuwan dan professor. Paling tidak, kita dapat bernafas lega, bahwa masih ada beberapa lembaga ilmu pengetahuan yang berusaha meningkatkan kontribusi dalam riset dasar. Salah satunya adalah Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang saat ini sedang memiliki banyak agenda dalam memperluas kesempatan melakukan riset dasar. Contoh programnya adalah Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) yang membuka lebar kesempatan pendanaan dalam riset dasar Indonesia.

Presiden Soekarno pernah berbicara dalam kongres Ilmu Pengetahuan Indonesia yang pertama di Malang, pada tahun 1958, Ia menegaskan bahwa “Bangsa ini hanya akan maju dan sejahtera jika pembangunannya dilandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi”. Kesadaran akan pentingnya Iptek sudah ada sejak 58 tahun yang lalu. Tapi keadaan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Tanyakan mengapa.

*Tulisan ini telah di publikasikan di Majalah Dialektika KSM EP UI Edisi Juni 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.